
Teddy pun tertidur di sofa. Tubuhnya sudah lelah sama seperti otaknya yang mulai lela dengan berbagai macam masalah. Muali dari urusan sekolah, kantor, rumah sakit, semua masih banyak yang perlu di benahi. Belum lagi hubungannya secara personal, dnegan istrinya, sahabatnya, temannya, rekan kerja, rekan bisnis hingga rekan se -profesinya.
Tepat pukul dua belas malam, Teddy mersa tubuhnya bergoyang dan perahan ia membuka matnaya. Ia melihat Arsy sudah berada di depannya sambil menangis.
Teddy pun langsung terbangun dan duduk tegak di sofa itu sambil mengusap air mata Arsy.
"Kamu kenapa Sy? Kenapa harus menangis?" tanya Teddy pelan.
Suara tangisan Arsy bukannnya berheti malahan terus semakin meronta kencang.
"Kenapa. Diam dulu. Mas kan gak ngerti? Kamu kenapa? Mimpi buruk?" tanya Teddy panik.
Arsy menggelengkan kepalanya cepat.
"Terus? Lapar?" tanya Teddy kemudian dengan cepat.
Lagi -lagi Arsy hanya menggelengka n kepalanya cepat.
"Lalu? Apa? Mau di pijat lagi?" tanya Teddy semakin bingung.
Arsy masih tetap menggelengkan kepalanya pelan.
"Mau di cium? Dedeknya minta di cium Papahnya ya?" tanya Teddy mulai konyol.
"Enak aja. Gak ada begitu. Ary yang hamil, masa iya minta di cium Papahnya. Dimana -mana minta di cium sama Mamanya. Mamamnya yang mengandung," ucap Arsy ketus.
"Memng kamu bisa cium perut kamu sendiri? Coba kalau bisa?" tanya Teddy sambil emnyuruh Arsy melakukan hal yang tak akan pernah bisa di lakukannya.
__ADS_1
Merasa kalah telak. Arsy hanya bisa memutar kedua bola matanya dnegan malas. Arsy memberikan ponsel Teddy yang terjatuh dan kembali menangis keras sambil menjerit beberapa kali.
Teddy hanya menerima ponsel itu dan di letakkan di atas meja dan memeluk Arsy. Membawa kepaa Arsy ke dalam dada Teddy agar terdiam dn tak lagi meronta seperti orang sedang di pukuli saja.
"Ada apa sih?" tanya Teddy sangat lembut sambil megusap rambut Arsy pelan.
Arsy pun mendorong teddy hingga tubuh Teddy tersandar di sandaran sofa.
"Mas selingkuh ya?" tanya Arsy ketus.
"Se -selingkuh? Sama siapa? Gak ada Sy. Mas cintanya cuma sama kamu," ucap Teddy dengan bingung.
Baru saja hilang satu masalah malah muncul masalah baru.
"Lihat ponselnya tuh. Arsy barusan baca smeua isi pesan Mas untuk Ivana. Kenapa sih? Harus pakai emoji senyum yang ada lope lope nya? Emang gak bisa cukup pakai emoji senyum biasa aja atau tangan yang tertutup sebagai tanda terima kasih," ucap Arsy mulai nerucus panjang lebar dnegan mimik wajah cemburu jelas membuat Teddy semakin suka dan gem smelihatnya.
"Uluh ... Sayangnya Mas cemburu," ucap Teddy menuduh.
"YA, tapi cara bicara kamu itu seperti orang lagi cemburu Sy," ucap Teddy pelan.
"Gak Mas. Arsy sama seklai gak cemburu, cuma biar Mas dan Ivana itu tahu, kalau chatiseperti itu adalah sebuah kesalahan," ucap Arsy yang mulai emosi.
"Oke. Kamu gak cemburu. Cuam menasehati Mas? Gitu kan? Baik, nanti Mas rubah gaya chatnya, biara kamu gak marah -marah," ucap Teddy mengalah. Dalam hatinya tertawa melihat ekspresi Arsy yang sangat berbeda sekali.
"Nah gitu dong. Cepet, bales sekarang. Bilang kalau chat jangan pakai emoji lope lope, biasa aja. Kan cuma temen,' ucap Arsy makin keras bicaranya.
"Iya sayang. Ini juga lagi ngetik," ucap Teddy pelan.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian. Teddy menunjukkan ponselnya dan memperlihatkan isi chat terakhir Teddy yang sudah tak terkirim ke ponsel Ivana. Sepertinya ponel Ivana sedang tidak aktif.
"Udah kan? Bisa menerima?" tanay Teddy menahan tawany.
Arsy hanya mengangguk pasrah.
"Yuk ... Tidur lagi," ajak Teddy pelan.
Arsy menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak mau tidur? muanya apa?" tanya Teddy pelan.
"Laper," jawab Arsy santai.
Teddy pun tertawa lepas.
"Mau makan apa sayang? mau beli di luar? Atau mau Mas yang buatkan, tapi sedanya bahan di kulkas," ucap Teddy pelan.
Arsy pun menatap jam dinding di atas tembok putih. Sudah lewat tengah malam, amna mungkin ada warung amkan atau restauran yang masih buka.
"tadinya mau sate padang," cicit Arsy manja.
"Sate padang? Bisa. Mau?" tanya Teddy pelan.
Wajah Arsy pun sumringah dan etrtawa lepas.
"Bener bisa?" tanay Arsy memastikan.
__ADS_1
"Iya. Kan gak perlu ke padang. Kita bisa cari dari ujung ke ujung," ucap Teddy pelan.
Lagi -lagi jawaban Teddy begitu konyol membuat Arsy hanya memutar kedua bola matanyas emakin malas.