
Beberapa jam kemudian, pertempuran di kasur itu seolah tak ada suara lagi. Entah Nada yang tertidur kembali atau memang tidak mengingat apa apa.
Kedua matanya memang terpejam. Angin dingin dari hembusan mesin pendingin kamar pun terasa sangat menusuk kulitnya. Ruang geraknya kemabli bebas dan Nada bisa bergerak leluasa.
Pelan kedua mata itu di buka. Lalu, menatap langit - langit kamar hotel yang begitu putih dan bersih. Nada masih tersadar bahwa ia kini sedang berada di hotel. Tubuhnya hanya tertutupi oleh pakain dalam dan terselimuti oleh selimut yang tebal yang ada di kamar hotel itu.
"Hah ...." teriak Nada dengan suara keras. Nada begitu kaget saat mebuka selimut tebal itu dan memperlihatkan tubuhnya yang putih mulus dari dalam selimut itu.
Arwana hanya mengerag pelan. Suara lengkingan yang di keluarkan Nada darai mulutnya cukup mengganggu tidurnya yang pulas.
"Apa sih Nada," suara Arwana tiba - tiba terdengar parau bertanya kepada Nada yang terlihat panik bukan main.
Kedua mata Arwana pun membuka perlahan dan menoleh ke arah samping tempat Nada terbaring tepat di sebelahnya.
Posisi tidur Arwana langsung menyamping dan menatap Nada lalu satu tangannya mnegusap lembut rambut Nada yang panjang dan hita,.
Tubuh Nada makin mermang, sentuhan itu tentu akan membuat hubungan ini berlanjut.
"Terima kasih Nada. Secepatnya aku akan menikahimu. Kamu itu benar - benar spesial," ucap Arwana lirih dengan senyum melebar dan sumringah.
Nada langsung menoleh ke arah Arwana dan menatap lekat lelaki setengah tua itu yang terelihat tenang dan menikmati semuanya hingga senyum itu terus ada dan tak hilang dari wajahnya.
"A - apa? Menikah?" tanya Nada sambil menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
Jujur Nada tidak pernah terpikir untuk menikah muda. Apalagi harus menikah dengan mantan rektornya sendiri yang berstatus duda dan berumur setengah tua itu.
Nada hanya menghela napas dalam. Tubuhnya pun memang tidak pegal pegal dan tidak aa rasa sakit di area intimnya. Kalau tidak salah, saat Nada mencari tahu tentang bagaimana berhubungan intim itu bahwa di tandai dengan bercak darah dan rasa sakit. Itu tanda keperawanan kita hilang. Tapi ini tidak sama seklai. Lagi pula, tadi malam, Nada benar - benar mendengar suara percikan percintaan yang begitu dahsyat. Hingga suara leguhan dari Arwana dan Nyai Konde pun terdengar begir menikmati.
"Ya ... Menikah. Hubungan kita sudah terllau jauh. Kamu pun sdah berhasil aku tiduri Nada, bahkan aku menikmati tubuhmu berkali - kali hingga kita berdua basah dan kelelahan. Pagi ini, kalau di bolehkan pun, aku ingin mengulangnya kembali bercinta bersmaamu," ucap Arwana pelan sambil mengedipkan satu matanya kepada Nada.
Nada langsung bergidik ngeri menatap tatapan penuh nafsu dari Arwana.
"Mengulang kembali? Sudah Mas, aku lelah dan benar - benar lelah," ucap Nada langsung menolak. Kalau sudah mulai terang seperti ini, tidak mungkin Nyai Konde menggantikan posisi ini. Lagi pula yang di butuhkan Nyai Konde adalah keperjakaan bukan mengulang kembali percintaan yang telah di lakukan.
"Bukankah kamu telah brjanji ingin hidup bersamaku, Nada? Tadi malam kamu mengtakan itu kepadaku saat pedangku membuat kamu kenikmatan hingga tubuhmu menggelinjang tak karuan," ucap Arwana yang denga cueknya berbicara apa adanya.
Arwana tak pernah tahu, gadis yang di tiduri dengan wewangian tujuh rupa itu bukan Nada , melainkan wanita yang hanya menginginkan keperjakaannya agar ilmu hitamnya juga semakin kuat untuk membalas dendam perbuatan Ki Melet.
"Dancuk ... Gila ... Kenapa ia bisa berubah begini?" teriak Ki Melet dengan amarah dan kemurkaan. padahal Ki Melet sudah berhasil menguasai Desa ini dan akan di buat semu aorang tunduk padanya.
"Ada apa Ki?" tanya Merong pelan yang terlihat bingung melihat Ki Melet marah.
"Nyai Konde. Ia kembali. Sepertinya ia menemukan gadis itu dan lihat, begitu cepat ia bisa mendapatkan tumbal dan kini ia begitu sangat cantik, ucap Ki Melet tegas sambil memegangi janggut putihnya yang panjang.
"Ilmu ku belum sempurna untuk mengalahkan Nyai Konde. Ia juga punya segudang senjata yang di simpan untuk melawanku. Mungkin ia tahu keinginan terbesarku untuk menguasai Desa ini," ucap Kiu Melet sambil memutar kedua bola matanya dengan malas. Seakan Ki Melet malas menatp apa yang di lihatnya dari air baskom itu. Senyum Nyai Konde yang dulu selalu menghiasi hati dan pikirannya, kini harus segera di hempaskan karena penolakan lamaran di masa lampau.
"Apa menurut Ki, aku harus ikut turun tangan dalam masalah ini?" tanya Merong yang merupakan anak buah kesayangan Ki Melet.
__ADS_1
Ki Melet hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pean.
"Tidak perlu, Merong. Aku masih harus mendapatkan gadis perawan sebanyak dua puluh lima lagi. Aku pastikan aku bisa membalas dendam kepada Nyai Konde<' ucap Ki Melet pelan.
"Bukankah Ki sudah merasakan kegadisan Nyai Konde?" tanya Merong kembali.
"Sudah. Tapi tanpa ku nikmati. Aku hanya melakukan itu di saat Nyai Konde tidak sadarkan diri hingga ia hamil, dan di usir oleh keluarganya. Aku bersalah, tapi aku juga membencinya. Lelaki yang ia sukai itu sudah mati ku bunuh dan berharap aku mendapatkan cinta dan raga seutuhnya Nyai Konde, tapi semuanya salah," ucap KI Melet.
"Percintaan yang aneh," ucap Merong sekenanya.
"Apa kamu bilang, Merong?" tatapan Ki Melet begitu tajam menatap Merong yang asal bicara.
"Tidak Ki. Maaf kan Merong," ucap Merong pelan sambil tertawa.
"Kamu gila Merong. Aku ini lelaki setia. Aku begini ingin memberikan pelajran kepada semua wanita agar tak sembaang menolak cinta seorang lelaki," ucap Ki Melet dengan suara tegas.
Dadanya langsung naik turun karena rasa kesalnya saat itu kembali teringat dan membuat hatinya begitu sesak. Sebenarnya Ki Melet itu terlihat seperti preman namun berhati hello kitty. Ia tak sanggup melihat Nyai Konde dengan pria lain. Dendamnya saat itu begitu membara. Melihat kemesraan Nyai Konde dengan lelaki yang di cintainya.
"Maafkan hamba, Ki," tawa Merong dengan gelak tawa yang begitu keras.
Ki Melet melihat ke arah baskom kembali. Ia melihat pergerakan Nyai Konde dan lihat siapa yang berasama Nyai Konde.
"Apa? Nyai Konde mendapatkan gadis yang ku inginkan? " teriak Ki Melet kesal dan membuang baskom yang berisi air kembang itu ke depan.
__ADS_1