Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
CEMBURU SAJA


__ADS_3

Sesuai harapan dan keinginan keduanya. Kini mereka sudah berada di salah satu tempat makan nasi goreng di kaki lima. Waring bertenda di pinggir jalan dengan duduk lesehan sebagai tempat andalan Teddy.


Maklum lelaki berkaki panjang akan selalu nyaman duduk lesehan bila sedang makan bersama pasangannya.


Pesanan mereka sudah datang. Nasi goreng kambing pedas milik Teddy. Arsy meminta tolong untuk di kupaskan mangga muda yang di potong kecil -kecil dan tipis dan di campurkan kendalam nasi goreng kambing itu.


"Ini beneran? Mas harus makan nasi goreng di campur mangga muda. Rasanya pasti asem gitu, Sayang," ucap Tedfy ragu makanan itu bisa di nikmati dengan enak.


Arsy terus mencampurkan nasi goreng dengan mangga muda agar tercampur menjadi satu.


"Udah makan. Arsy mau lihat," cicit Arsy manja.


Teddy hanya mengaduk -aduk makanannya. Rasanya sulit menerima makananya yang terlihat aneh. Bisa di bayangkan kan? Nasi goreng kambing pedas itu rasanya gimana? Di tambah mangga muda yang jelas asam? Perpaduan rasa yang membuat tegang, karena tidak pasti enak atau tidanya setelah di kunyah di dalam mulut.


Satu suapan terpaksa masuk ke dalam mulut Teddy karena rengekan Arsy yang terlihat manja dan memohon demi memenuhi ras ngidamnya yang mulai meminta aneh -aneh.


Teddy mulai mengunyah. Raut wajahnya berubah. Bnear -benar di luar ekpektasinya. Nasis goreng kambing itu malah terasa nikmat.Pedes, gurih, bau prengus dari kambing, tercium wangi karena mangga yang kecut dan segar. Menyatukan rasa yang betolak belakang menjadi satu kesatuan malah menimbulkan rasa lezat dnegan rasa yang luar biasa.


"Senyum? Enak, Mas?" tanya Arsy yang menelan ludahnya. Ia bisa merasakan lidahnya begitu kebas merasakan magga asam. Selama ini, Arsy tidak suka makan buah yang be -rasa asam. Ia selalu memilih buah -buahan yang manis dan wajar untuk di makan.


Teddy mengangguk pelan.


"Enak. Kayak apa ya? Jadi ada seger -segernya gitu. Kayak acar tapi lebih enak ini," ucap Teddy menjelaskan.


Teddy malah terlihat semangat menghabiskan. Ternyata ada hikmahnya juga Arsy ngidam. Ia jadi bisa mencampurkan mangga agar makanannya tidak terasa eneg..


"Ekhemmm Mas ...." panggil Arsy pelan sambil mengetuk -ngetukkan jarinya di meja.


"Apa? Bicara saja? Udah gak tahan?" goda Teddy pada istrinya.


"Bukan itu. His ... Lama -lama mesum pikirannya begituan mulu," cicit Arsy ketus.


"Lho ... Itu bagus untuk meningkatkan keharmonisan rumah tanga," ucap Teddy menjelaskan.

__ADS_1


"Itu. Pak Satpam bakal cerita gak ya?" tanya Arsy pelan.


"Pak Ambros?" tanya Teddy pelan.


"Iya," jawab Arsy bingung.


"Sudah itu urusan Mas. Kamu fokus sekolah. Ingat, kalu makan di kantin cari yang bergizi. Besok kita ke dokter," titah Teddy pelan.


"Iya," jawab Arsy pasrah.


Kalau pun mulai sekarang banyak yang tahu. Mungkin memang sudah seharusnya mereka tahu kebenarannya. Gak perlu di tutupi lagi, agar semuanya tidak salah paham.


"Sayang. Sepertinya Mas mau resign dari sekolah," ucap Teddy pelan.


"Hah? Resign? Kenapa? Kan ada Arsy? Ada anak kamu juga? Memang gak mau nemenin tiap hari?" tanya Arsy pelan. Rasanya seeprti ada yang tertusuk dan itu menyakitkan mendengar kata resign terlontar dari bibir Teddy.


Tahu sendiri, mereka pengantin baru dan langsung di beri kepercayaan untuk mendapatkan momongan. Rasanya tuh gak enak, kayak kata lagu. Ditinggal pas sayang -sayange.


"Hemm ... Pasti salah paham. Mas itu mau fokus sama kerjaan di Kantor Papah. Kamu tahu kan, lagi ada masalah penyelewengan dana kantor," ucap Teddy pelan menjelaskan.


"Nanti Arsy sendiri? Berjuang sendiri? Selama berada di sekolah? Masih lama sampai ujian akhir. Belum lagi ujian praktek olah raga, perut Arsy pasti sudah membuncit? Terus Mas Teddy lepas tangan? Kalau akhirnya Arsy harus di skors dari sekolah bagaimana?" tanya Arsy yang mulai khawtir.


Saat ini, Arsy tenang karena ada Teddy. Biar bagaimana pun juga, Teddy masih bisa melindungi Arsy selama berada di sekolah. Apalagi posisi Arsy sedang mengandung seperti ini.


"Gak gitu, Sayang. Mas akan tetap antar jemput kamu ke sekolah. Pantua kamu dari semua teman -teman kamu dan guru -guru yang dekat dengan Mas. Kamu gak usah khawatir kalau soal itu," ucap Teddy pelan sambil memegang tangan Arsy.


Arsy pun menarik tangannya. Baru saja hatinya senang dan bahagia. Pernyataan malam ini benar -benar membuat diri Arsy tersiksa.


"Kamu marah sama Mas?" tanya Teddy pelan. Ia menghabiskan segera makanannya, dan menatap lekat ke arah Arsy yang terlihat sedih.


"Gak marah." jawab Arsy tegas.


"Terus? Kenapa diam?" tanya Teddy yang sudah hapal dengan sikap Arsy.

__ADS_1


"Gak apa -apa," jawab Arsy singkat.


Rasanya sudah malas.


"Pulang yuk. Arsy capek," ucap Arsy pelan.


Teddy mengangguk pelan. Ia segera bangkit berdiri dan membayar makanannya.


Arsy sudah berdiri di depan mobil Teddy dengan kedua tangan berlipat di depan dada. Ia tak kuasa menahan air matanya. Akhir -akhir ini perasaannya mudah sekali mellow. Mudah marah, mudah kesal, mudah nangis, mudah tertawa dan mudah tersenyum.


"Kamu mau sesuatu, Sayang? Martabak? Kue Pukis? Atau kue balok? Mumpung masih di sini. Nanti kalau sudah di rumah pengen sesuatu lagi?" ucap Teddy mengingatkan.


"Mau tidur. Arsy capek," ucap Arsy pelan.


Arsy pun masuk ke dalam mobil dan duduk manis di dalam.


Teddy hanya menggelengkan kepalanya. Harap maklum dengan kondisi Ibu hamil muda.


Baru juga masuk, menutup pintu mobil menguncinya dan emnaylakan mesin mobil lalu memakai sabuk pengaman. Arsy menunjukkan satu buah lipstik yang ia temuka di bawah saat masuk ke dalam mobil.


"Ini punya siapa? Ini yang Mas bilang mau fokus sama kerjaan kantor? Dan mau resign dari sekolah? karena ini? Hah?" tanya Arsy ketus sambil menunjukkan lipstik milik perempuan lain.


"Itu punya Ivana. Temen Mas yang tadi sore nebeng pulang," ucap Teddy dengan jujur.


"Nebeng pulang? Pakai dandan segala?" ucap Arsy ketus.


"Kan mas udah bilang. Dia minta turun di jalan, mau ketemu pacarnya," ucap Teddy beralasan.


"Arghh ... Sudahlah. Terserah Mas Teddy sekarang. mau resign dari sekolah? Silahkan resign. Arsy bisa kok, urus diri Arsy sendiri," ucap Arsy kesal.


"Sayang. Jangan begini. Kok malah jadi gini sih? Mas itu beneran ngurus kasus di kantor. Okelah, Mas gak akan resign. Sebisa mungkin Mas jalani semuanya, demi kamu, demi anak kita," tegas Teddy mengalah.


Teddy lebih baik mengalah dari pada harus berdebat panjang dengan Arsy.

__ADS_1


Arsy masih diam. Dadanya terlihat naik turun menahan kekesalannya. Emosinya makin tidak stabil. Pikirannya selalu di hantui dengan rasa cemburu, cemburu dan cemburu saja.


'Arghh ... Arsy ini kenapa sih? Kenapa harus begini. Kenapa sesek banget denger nama Ivana yang tadi ikut menebeng pulang,' batin Arsy di dalam hatinya.


__ADS_2