Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
JANGAN MENGOREK LUKA LAMA


__ADS_3

Malam itu, Arsy benar -benar tak bicara lagi. Rasa kecewanya begitu dalam di tambah hormon sensitifnya sebagai ibu hamil sedang meningkat, jadi bawaanya kesal dan ingin marah -marah saja. Setiap ada orang bicara selalu salah dan gak benar.


"Sy ... Minum susunya dulu. Ponselnya letakkan dulu, nanti di pegang lagi," titah Mama Tina pelan sambil mengusap pelan kapal Arsy.


Kedua mata Arsy tak berkedip menatap ponsel. Sudah tengah malam, kabar Teddy pun tak ada.


"Arsy sayang. Paling gak sampainya besok siang. Pasti kamu di kabari, gak mungkin gak," ucap Mama Tina pelan. Ia juga ikut bingung bila Arsy merajuk begini. Pawangnya tidak ada, tentu tidak meudah bisa mengerti Arsy.


Arsy meletakkan ponselnya dan menutup tubuhnya dengan selimut lebih ke atas lagi dan memejamkan kedua matanya.


"Biarkan dulu. Biarkan Arsy tenang," bisik Papah Baron kepada istrinya.


Papah Baron pun keluar dari kamar Arsy dan duudk di sofa depan kamar itu sambil menelepon besannya. Papah Baron hanya ingin tahu, bagaimana mengembalikan mood Arsy agar tetap semangat dan kembali ceria.


Ya, komunikasi kedua orang tua itu cukup baik dan lancar. Mereka saling bertukar kabar setiap hari. Bunda Bella juga sudah menyuruh supir pribadinya untuk menjemput Teddy di bandara.


Melihat Arsy yang masih diam. Mama Tina pun ikut keluar dari kamar itu dan duduk tepat di samping suaminya. Pintu kamar itu di tutup rapat.


Kedua mata Arsy pun membuka. Ia butuh waktu sendiri dan tenang. Ia cuma tidak ingin di bohongi.


Skip ...

__ADS_1


Malam pun telah berganti pagi. Arsy semalaman tak bisa tidur karena kepikiran Teddy. Di tambah perutnya begitu sakit dan mulas sekali. Susu hamil yang sudah di buatkan tadi malam juga sudah habis Arsy minum demi kesehatan bayinya.


Arsy merasa bersalah karena tidak mengatakan jujur kepada Teddy bahwa dirinya terjatuh dari tangga ulah Tono.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Dengan kepalayang masih berat, ARsy memaksakan dirinya untuk tetap bersekolah. Ia sedang tidak ingin berada di rumah sekali pun hanya untuk beristirahat karena tubuhnya terasa ngilu dan pegal -pegal.


"Arsy harus kuat, Arsy pasti kuat. Mas Teddy aja berjuang untuk Arsy, masa Arsy tidak berjuang untuk diri Arsy sendiri dan untuk anak Arsy," ucapnya pelan untuk menyemangati dirinya sendiri.


Pagi itu, Arsy sudah siap dengan seragam sekolahnya. Wajahnya masih sembab dan terlihat sedikit bengkak di area kedua matanya. Wajanya juga sedikit pucat karena kurang tidur.


Arsy menuruni anak tangga pelan sekali dan memegang tas sekolahnya menuju ruang makan.


Mama Tina melihat ke atas dan memberi kode kepada Papa Baron bahwa menantunya kan datang.


"Pagi Ma, Pah," sapa Arsy dengan sopan.


Mama Tina tersenyum, "Pagi, Sayang. Ini susunya. Mau makan nasi atau roti?"


"Roti, Ma. Makasih susunya," jawab Arsy pelan.


"Sama -sama, Sayang," jawab Mama Tina pelan.

__ADS_1


Suasana pagi ini agak mencair. Arsy sudah mau bicara dan menjawab pertanyaan yang di lontarkan Mama Tina. Semuanya sengaja tak membuka mulut soal Teddy. Semua bungkam.


Arsy sama sekali tidak curiga, dan menganggap semuanya nampak baik -baik saja.


Arsy mulai sarapannya dengan pelan. Lalu membuka topik pembicaraan.


"Memang dulu, Mas Teddy nakal, Ma? Pah?" tanya RAsy tiba -tiba.


Papah Baron yang masih mengunyah makanan di dalam mulutnya pun meletakkan sedok di piringnya.


"Kenapa? Kok tiba -tib atanya soal itu?" tanya Mama Tina pelan. Ia berusaha teang dan tidak tpancing dnegan masa lalu Teddy.


"Cuma nanya aja. Arsy merasa, Mas Teddy itu begitu smepurna dan tak sedikit pun Arsy melihat kekurangan dari Mas Teddy,' ucapnya pelan dengan wajah berbinar kagum dengan sosok Teddy.


"Hemmm ... Dia memang lelaki hebat dan sempurna, walaupun di balik kesempurnaannya tentu ada proses yang harus Teddy lalu dnegan perjuangan yang tidak sebentar," ucap Mama Tina dengan bangga memiliki anak lelaki seperti Teddy.


Arsy mencoba mencerna ucapan Mama Tina dengan baik. Proses perjuangan? Ini tentu ada sesuatu hal pernah di lakukan Teddy. Jalannya mungkin berliku dan tak smeulus jalan tol seperti perkiraan orang -orag di sekitarnya.


Pagi ini, Arsy benar -benar ingin mengenal sosok Teddy dari Mama Tina. Lelaki sempurna yang menikahinya dua bulan lalu, tentu punya masa lalu.


"Menurut Mama, tidak perlu membuka luka lama. Malahan nanti kita sakit hati. Lebih baik, kita mengenal seseorang yang saat ini ada di depan kita, dan dia sudah benar -benar baik," ucap Mama Tina menasehati.

__ADS_1


Arsy mengangguk paham. Ia tahu, Mama Tina dan Papah Baron sama seklai tidak mau membuka masa lalu Teddy. Arsy hargai itu.


__ADS_2