
Malam itu adalah malam pertama mereka tidur di hotel saat berada di Bali. Semua yang telah di rencanakan pun gagal. Niatnya acara study tour ini sekalian untuk berbulan madu pun sepertinya ada saja hambatannya.
Sejak pagi Arsy sudah bolak -balik ke kamar madi. Perutnya mual dan rasanya ingin memuntahkan sesuatu dari peutnya namun setelah di keluarkan tak ad yang keluar kecuali air liur yang bercampur dengan cairan sedikit berwarna kuning.
Dengan setia dan begitu perhatia, Teddy pun ikut menemani Arsy masuk ke dalam kamar mandi dan memijat tengkuk istri labilnya itu. Wajahnya memang terlihat pucat dan tubuhnya terasa lemah tak bertenaga.
Teddy pun membopong Arsy dari kamar mandi dan merebahkan istrinya di kasur dan tubuh mungil itu di selimuti.
"Apa yang sakit Sy? Ada yang kamu rasakan aneh gitu?" tanya Teddy yang mulai ikut panik. Ia memegang segelas air hangat yang di ambil dari dispenser. Namun, Arsy seperti enggan melakukan apapun. Ia hanya ingin tidur dan melupakan rasa mualnya ini.
Teddy meletakkan gelas itu dan mengambil minyak kayu putih dan mulai menggosokkan di tubuh Arsy pada bagian perut, dada dan punggung serta sekitar tengkuk dan bahunya.
Kaki Arsy pun di pijat pelan agar lelahnya terasa hilang.
Rasa mual itu terasa kembali, dan seperti ada yang ingin di muntahkan kembali dari dalam perutnya.
"Awas!! Arsy mau turun!!" sentak Arsy tanpa sadar.
Ia hanay lelah harus bolak balik dari kamar mandi menuju tempat tidurnya.
Teddy memaklumi sikap Arsy dan terdengar Arsy sedang berusaha mengeluarkan isi perutnya yang tak keluar -keluar.
"Sy ... Ke dokter saja ya?" pinta Teddy pelan.
Arsy diam saja lalu naik lagi ke atas kasurnya tanpa menggubrisnya.
"Arsy? Kalau saya bicara itu dengarkan lalu jawab. Bukan diam saja. Memangnya diam itu bisa memberikan jawaban? SAya malah bingung kalau sikap kamu begini," ucap Teddy mulai panik.
Mendengar ocehan Teddy, Arsy pun bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar pada tumpukan bantal untuk menyangga punggungnya.
"Mas kan seorang dokter? Kenapa harus bawa ARy ke dokter? Memang Mas gak bis aperiksa Arsy? Arsy sedang kenapa? Kleuhan seperti ini tuh kenapa? Jangan dikit -dikit ke dokter. PercumaARsy punya suami serang dokter, aklau istrinya sakit saja harus di bawa ke dokter lain," ucap Arsy dengan kesal.
__ADS_1
Jawaban Arsy begitu menohok bagi Teddy. Teddy berusaha tennag. Berkali -kalai Teddy menarik napas dalam dan di hembuskan perlahan. Sepertinya ia harus pelan -pelan menjelaskan kepada Arsy tentang suatu keadaan dan kondisi.
"Sayang ... Mas itu memang seoarng dokter. Tapi, saat ini Mas tida membawa alat apa -apa. Bukan Mas tidak mau memeriksa kamu sendiri dnegan tangan Mas, tapi seoarng dokter juga butuh alat penunjang untuk memeriksa pasiennya. Kamu mu jika Mas salah dianogsa hanya gara -gara Mas tida memeriksa kamu pakai alat? Hanya di sentuh saja, oh dahinya panas, bibirnya pucat, denyut nadinya lemah, detak jantungnya pelan. Itu bisa tanda -tanda orang kelelahan dan masuk angin. Tapi bisa juga ia sedang hamil karena hormonnya naik ... Hamil ...." ucap Teddy mengulang kembali hasil dianogsanya sendiri dan ada beberapa kemungkinan yang terjadi pada Arsy dengan kondisi yang seperti ini.
Arsy hanya terdiam menata Teddy. Tatapan Teddy pun saling pandang dengan Arsy.
"Ekhemmm ... Kamu hamil sayang?" tanya Teddy lirih sambil mengenggam tangan Arsy.
Arsy hanay diam menatap Teddy yang nampak kebingungan.
"Sayang ... Jangan bikin Mas panik begini. Jawab?" tanya Teddy gusar.
"Mas ... Mana Arsy tahu, Arsy sedang hamil atau tidak. Arsy tidak test kehamilan itu yang pertama dan yang kedua, Arsy gak siap hamil. Arsy takut kayak Wulan, ucap Arsy kesal.
"Sayang ... Kita test ya. Mas ijin keluar dulu dan beli alat tes kehamilan. Kalau kamu hamil, Mas harus ekstra kerja keras menjaga kamu. Kamu gak boleh capek, Sayang," ucap Teddy pelan. Perasaannya kini campur aduk. Antara senang, bahagia, bingung dan cemas semua tercampur menjadi satu menjadi perasaan gundah gulana dalam senyum kecut.
Teddy membuka selimut Arsy dan menyibakkan daster Arsy lalau memegang perut Arsy. Arsy mendiamkan semua yang di lakukan oleh Teddy.
"Sudah periksa ankanya?" tanya Arsy pelan.
"Anak?" tanya Teddy semakin bingung.
Arsy mnegangguk kecil.
"Ya ... Anak. Mas memang gak mau punya anak?" tanya Arsy cepat.
"Mau dong. Kamu kan yang selalu bilang gak maua," ucap Teddy pelan. Teddy menutup daster Arsy dan meyelimuti kembali istri labilnya itu supaya tubuhnya tetap hangat.
"Ya udah." jawab Arsy singkat dan mengundang pertanyaan yang begitu banyak di benak Teddy.
"Arsy. Mas lagi gak main -main. Kamu kenapa sebenarnya?" tanya Teddy cemas. Ini yang Teddy takutkan, Arsy akan berpikir buruk dan tidak mau hamil karena Wulan. Kondisi Wulan yang lemah itu memang karena kondisi tubuh Wulan yag belum siap karena takut, stres, jadi berpengaruh pada pertumbuhan janin. Berbeda dengan wanita muda tapi memang sudah siap untuk hamil. Biasanya kandunganny apun ikut menguat karena si ibu tidak stres.
__ADS_1
"Arsy juga gak main -main Mas," ucap Arsy yang ikut menjawab dengan nada tinggi.
"Mas keluar sebentar," ucap Teddy pelan yang mmeinta ijin pada Arsy.
Teddy sudah berdiri mengambil dompet dan ponsel serta memakai jaket jeans berwarna biru muda. Memang sangat tampan sekali.
"Mau kemana?" tanya Arsy polos.
"Ke apotek sebentar. Beli obat mual buat kamu, " ucap Teddy yang sedikit gugup.
"Mas ...." panggil Arsy kembali saat Teddy sudah memakai alas kakinya dan bersiap keluar kamar.
"Ya ... Mau titip? Mau apa? Biar sekalian di belikan," tanya Teddy dengan sikap lembut.
"Titip martabak pandan isi keju, cokelat, kacang, wijen, susu dan pisang,' pinta Arsy pelan.
"Hanya martabak? Lainnya?" tanya Teddy kemudian.
"Titip Mas Teddy ...." pinta Arsy sambil tersenyum sdan mengedipkan satu matanya kepada suaminya dengan menggoda.
"Titip saya? Kan sudah seutuhnya untuk kamu, sayang. Udah nih. Mas pergi ya? Kalau mau apa lagi, telepon Mas saja," ucap Teddy pean.
"Mas ... Tolong ambilin ponsel Arsy di tas kecil itu di meja rias. Arsy lemes," ucap Arsy pelan.
Teddy pun mengangguk pasrah. Ia sudah tidak sabar ingin membeli alat tes kehamilan dan akan menyuruh Arsy mencoba memakai alat itu.
Tas kecil itu di angkat dan Teddy hanya mengambil ponsel sesuai dengan permintaan Arsy. Saat mengambil ponsel ada sesuatu benda yang ikut terjatuh saat menarik ponsel dari dalam tas kecil itu. Tapi Teddy tak sadar akan hal itu.
"Apa itu yang jatuh Mas/" ucap Arsy pelan.
Teddy pun menunduk dan menatap benda yang tergeletak di lantai.
__ADS_1