Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
WULAN KEMBALI


__ADS_3

Sesampai di ruang UKS. Arsy duduk di salah satu kursi dan Teddy duduk di depannya sambil menatap Arsy tajam. Ia memberikan bungkusan plastik berisi roti isi daging yang di belinya di kantin tadi.


"Makan!! Kamu gak kasihan sama perut kamu? Pagi -pagi makan rujak, belum makan juga," ucap Teddy pelan sambil membukakan bungkusan roti isi daging itu dan di belah menjadi dua.


Arsy hanya diam. Bau roti isi daging itu membuatnya mual dan ingin rasanya memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya. Arsy menggelengkan kepalanya pelan.


"Bau. Arsy mual," ucap Arsy pelan sambil mendorong roti itu agar menjauh dari Arsy.


"Mual? Ini makanan kesukaan kamu, Sy. Terus kamu mau apa?" tanya Teddy lembut.


"Arsy mau habiskan rujak saja," cicit Arsy sedikit manja. Asy masih memegang kotak makan berisi rujak mangga muda itu. Lidahnya masih terus mengecap seperti ingin menikmati kembali rujak yang di berikan oleh Bismo.


"Oke. Makanlah. Tapi, nanti nasi gorengnya habiskan. Mas ajak kamu ke sini karena ada hal penting. pelajaran olah raga kamu jam ke berapa?" tanya Teddy pelan.


"Habis istirahat pertama. Jam keempat. Kenapa?" tanya Arsy bingung.


Teddy melai menarik napas dalam dan berusaha tenang. Kedua matanya melirik ke arah kanan dan kiri untuk melihat apakah ada orang lain selain mereka. Takutnya ada orang lain yang ikut nimbrung mendengarkan pembicaraan privasi mereka.


"Hari ini ada pemeriksaan urine di aula. Mungkin sebelum istirahat pertama. Setiap kelas akan di kumpulkan di aula, lalu di tes urinenya. Sepertinya, ada orang lain yang mengetahui hubungan kita sesangguhnya dan keadaan kamu saat ini, Sy. Makanya Mas tidak suka kamu terlalu dekat dengan Bismo," ucap Tedy menasehati.


"Tes urine? Terus gimana dong, Mas? Nanti ketahuan dong kalau Arsy sedang hamil," ucap Arsy mulai panik.


Tahu kan, bagaimana paniknya anak SMA yang punya salah. Keringat dingin mulai deras mengucur di dahi Arsy. Padahal tadi makna sambal rujak dengan cabai rawit dua puluh biji, ia tak merasakan pedas sama sekali.


"Kamu tenang dong. Jangan panik gitu. Sntai. tarik napas dulu," ucap Teddy berusaha menenangkan Arsy.


"Tenang bagaimana? Kalau ketahuan itu tamat riwayat Arsy sekolah di sini. Arsy itu sudah mengajukan beasiswa, bisa sia -sia semua impian Arsy. Semua gara -gara Mas sih. Pakai nikahin Arsy segala," cerucus Arsy mulai emosi.


"Arsy!! Kenapa kamu malah main salah -salahaan di saat begini. Kita ini harus cari solusi bukan malah menyalahkan," ucap Teddy mulai bingung sendiri. Sikap Arsy yang terkesan memojokkan dan berontak, membuat Teddy makin tertekan dengan keadaan. Apalagi tadi kepala sekolah sudah jelas mengultimatum dirinya agar ARsy tidak hamil duluan.


"Ya Mas, lah yang salah. Sudah tahu Arsy itu masih sekolah. Kalau kita berhubungan tentu resikonya hamil. Terus kalau sudah begini, bagaimana? Mas bingung kan?" cerucus Arsy makin menjadi -jadi.


"Cukup Arsy. Berhenti menyalahkan Mas. Pernikahan ini atas kemauan Papah Hermawan, bukan pyur keinginan Mas karena Papah Hermawan itu sakit. Mas harus menjaga kamu, Arsy. Tapi kamu malah menyalahkan Mas," ucap Teddy yang tak terima.

__ADS_1


"Iya dong. Jelas ini salah Mas," ucap Arsy ketus.


"Kamu berpura -pura sakit saja?" ucap Teddy pelan sambil mengetuk -ngetukkan jarinya di meja UKS.


"Gak Mas. Ini semua pasti ulah Bu Lina Kenapa sih, guru centil itu menyusahkan Arsy," teriak Arsy keras.


"Hus ... Jangan keras -keras," titah Teddy tegas. Teddy pun bangkit berdiri dan melongok keluar ruang UKS. Kedua matanya berkeliling menatap sekitar ruangan itu yang masih sepi. Walaupun jeritan para siswa dan siswi terdengar jelas hingga di koridor ruang UKS.


"Arsy mau ke kelas," ucap Arsy pelan. Ia tak mau menjadi bahan ghibah teman -temannya. Selama ini ia cukup menutup telinganya dari berbagai kejadian yang menimpanya.


"Gak. Kamu di sini saja," tegas Teddy sambil menahan Arsy.


"Mas ... Jangan begini. Ini di sekolah bukan di apartemen," ucap Arsy kesal.


"Mas mau tanya. Kok bisa kamu bertemu lagi sama Bismo? Setelah kejadian buruk itu?" tanya Teddy menatap tajam wajah Arsy dengan geram. Rasa cemburunya sudah sampai di ubun -ubun dan tak bisa di bendung lagi.


"Mas itu bertanya? Apa mau cari masalah baru? Arsy cuma pesen rujak, itu saja," jawab Arsy lantang.


"Hanya? Cuma? Antar rujak saja? Tapi belai rambut, terlihat penuh damba tatapannya? Begitu? Kalian itu sudah tidak ada hubungan apa -pa lagi. Gak sepantasnya seperti itu, dan terlihat jelas di depan mata kepala Mas?" ucap Teddy tegas.


"Gak ada alasan Arsy!! Kalian pernah ada hubungan. Kalian pernah bersama dan sekarang kalian bukan siapa -siapa. hargai Mas sebagai suami kamu, Sy. Kalau aa apa -apa minta tolong sama Mas, tentu Mas dnegan senang hati membantu kamu, memberikan semua apa yang kamu mau. Bukan pada orang lain, apalagi pada orang dari masa lalu kamu. Itu semua tidak di benarkan," ucap Teddy muali marah.


"Masalah begitu saja di besar -besarkan? Pikirkan tes urine nanti, bukan malah menyalahkan pertemanan Arsy dn Bismo," ucap Arsy dengan nada penuh kekecewaan.


Arsy langsung pergi dnegan menabrak langsung tubuh Teddy yang berdiri di tengah -tengah pintu UKS.


"Arsy ... Arsy!!" panggil Teddy dengan suara keras namun di abaikan oleh Arsy.


Arsy tetp berjalan menuju ruang kelasnya.


"Arsy ...." panggil Tono dnegan suara yang kental adat jawanya.


Arsy yang moodnya msih buruk pun terpaksa tersenyum.

__ADS_1


"Hai Tono. Ada apa?" tanya Arsy pelan.


"Gak apa -apa. Ekhemm ... denger -denger, hari ada tes urine ya?" tanya Tono dnegan wajah sedikit panik.


"Ekhemm katanya sih iya, tapi gak tahu juga," jawab Arsy sekenanya. Ia sendiri juga takut bukan main dengan tes urine kali ini. Masalahnya ia positif mengandung.


"Oh ... kira -kira untuk apa ya?" tanya Tono kembali.


"Kamu kenapa? Kok kayak panik gitu," tanya Arsy pelan.


"Anu ... Pengen pipis. Ya, pengen pipis. Aku pipis dulu ya," ucap Tono dengan cepat. ia pun langsung berjalan cepat menuju toilet pria. Arsy pun hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.


Jujur, kaki tangannya sudah bergetar karena takut.


Arsy pun masuk ke dalam ruang kelasnya dan duduk di meja belajarnya.


"Heh ... Ini semua gara -gara loe!! Kita semua ikut kena getahnya untuk tes urine!!" ucap Siska dengan suara lantang dan keras sambil menggebrak meja Arsy.


"Hah? Loe pada gila, ya? Loe pikir, gue pemakai? Gue aja gak takut buat tes urine," ucap Arsy lantang.


"Loe itu memang bukan pemakai. Tapi loe hamil kan? Karena loe cewek nakal!!" teriak Siska dengan suara keras.


PLAK!!


Siska mengusap pipinya yang terasa perih akibat tamparan Arsy yang spontan.


"Jaga mulut kamu, Sis!! Jangan buat onar!! Jangan buat fitnah keji!! Paham!! Loe takut kan? Karena semalam loe habis dugem juga? Iya kan? Udah loe gak usah munafik!!" ucap Arsy makin emosi.


"Cukup. Sudah Sy. Biarin aja dia sesuak hatinya mau bilang apa? Semua itu bisa di buktikna nanti setelah tes urine. Loe gak usah takut," ucap Wulan yang baru saja datang ke kelas.


"Wulan? Kamu sudah masuk? Kamu sehat?" tanay Arsy dnegan binar mata bahagia. Ia rindu pada sahabatnya itu. Hampir seminggu lebih Wulan tidak masuk sekolah akibat keguguran. Pihak sekolah hanya tahu, Wulan sakit keras.


Wulan memeluk Arsy dan mengangguk kecil.

__ADS_1


"Ada aku, Sy. Kamu jangan takut akan hari ini. Semua akan baik -baik saja," bisik Wulan tepat di telinga Arsy.


Wajah Arsy tersenyum lebar. Ia tahu, hanya Wulan yang tentu bisa membantunya.


__ADS_2