Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
TAPI APA?


__ADS_3

Keduanya sama -sama diam. Jawaban Arsy seharusnya cukup jelas dan cukup bisa di mengerti oleh orang cerdas seperti Bismo. Arsy bukan tipe perempun bertele -tele dan menye -menye. Ia katakan mau kalau memang mau, dan ia katakan tidak mau kalau memang tidak mau.


"Arsy mau pulang sudah sore. Takut Bunda dan Ayah khawatir," ucap Arsy pelan dan membawa tentengan plastik yang masih berisi makanan dan belum sempat ia makan.


Sore ini mood makan cemilannya hilang begitu saja. Pertemuannya dengan Teddy tadi membuatnya kepikiran terus.


Arsy sudah bersiap -siap untuk pergi dari taman itu menuju apartemen kedua orang tuanya.


"Bunda dan Ayah ada di sini? Boleh aku bertemu?" tanya Bismo pelan.


"Untuk apa? Sudahlah, Mo. Jangan buat masalah baru," ucap Arsy pelan dan berusaha mencegah keinginan Bismo yang ingin menemui keluarganya.


"Mudah ya, Sy? Cinta kamu bisa hilang sekejap. Dulu kita pernah berjanji untuk bersama -sama di kota ini dan menggapai mimpi kita berdua," ucap Bismo pelan.


"Mo ... Cukup dan jnagan kamu lanjutkan ucapanmu itu. Jangan buat Arsy semakin sedih dengan keadaan yang tak ingin Arsy rasakan. Arsy baru kehilangan suami," ucapnya pelan.


Suara Arsy yang begitu lembut membuat Bismo pun menatap pemandangan lai. Semakin dalam ia menatap Arsy, maka semakin rasanya sulit melupakan gadis itu dari pikirannya.


Arsy sudah bangkit berdiri dan bersiap pulang. Mereka pun berdua berpisah di depan pintu masuk taman.


Sesampai di apartemen, Bunda Bella dan Ayah Hermawan sudah bada di rumah. Mereka tersenyum saat melihat Arsy yang pulang dengan senyum lebar dan banyak tentenga plastik di tangannya.

__ADS_1


"Sini sayang. Mama baru saja selesai masak. Kita makan malam sekarang. Nanti malam kita jalan -jalan sama Ayah juga," titah Bunda Bella pelan.


"Iya Bund," jawab Arsy pelan. Arsy berjalan menuju ruang makan dan meletakkan beberap plastik jajanna itu.


Bunda Bella mengambil piring dan mengeluarkan semua isi jajanan itu ke atas piring.


"Banyak sekali ini? Sama sekali gak di makan?" tanya Bunda Bella pelan menatap Arsy yang sedang meneguk air putih.


Sambil meletakkan gelas kosongnya, Arsy pun mengangguk pelan ke arah Bunda Bella.


"Papah," panggil Arsy lembut. Arsy memeluk Papahnya dan mencium pipi Papahnya. Stiap melihat Papahnya, ia teringat dengan Teddy, suaminya.


"Arsy ... Kamu sudah mau jadi Ibu. Gak pantas begitu sama Papah," titah Bunda Bella pelan.


"Emang gak boleh, Pah?" tanya Arsy manja.


"Boleh sayang. Tapi ... Kalau ada suamimu jangan begini. Nanti Papah di cemburui," ucap Papah menasehati.


Tangan Arsy perlahan di tarik pelan dan ia kemblai beringsut ke arah tempat duduknya tadi.


"Kenapa Sy? papah salah bicara?" tanya Papah Hermawan yang seolah melupakan masalah yang sedang di hadapi Arsy.

__ADS_1


Arsy malah mengambil piring jajanan dan mulai memilih jajanan yang akan ia nikmati pertama kali. Bunda Bella menyenggol lengan Sang Papah untuk mengingtkan kalau Arsy sedang berduka atas kehilangan suaminya.


Papah Hermawan melongo dan menutup mulutnya. Ia benar -benar lupa.


"Tadi ... Arsy ke taman dekat sini," ucap Arsy pelan. Papah dan Bunda langsung menatap Arsy dan menunggu Arsy melanjutkan ceritanya.


Papah Hermawan pun tak berkedip menatap Arsy dn menyeruput kopi hitamnya. Bunda Bella yang sedang mengupas buah pun langsung di letakkan dan tak di lanjutkan.


Arsy malah menggigit dan mengunya kebab yang di belinya tadi dengan lahap. perutnya memang lapar sekali, tapi kejadian tadi membuatnya tak berselera makan sama sekali.


"Terus? Kami nunggu kelanjutan ceritamu, Sy," ucap Bunda Bella.


Arsy menatap Papah Hermawan dan Bunda Bella secra bergantian. Benar sekali keduanya sedang fokus menatap Arsy mendengarkan ceritanya yang di gantung begitu saja tanpa di lanjutkan.


"Ada lelaki yang begitu mirip sekali dengan Mas Teddy. Wajahnya yang tampan, tubuhnya yang gagah dan kekar, suaranya pun sama persis. Mungkin kalau di sandingkan, meraka adalah kembar identik karena sama sekali gak ada perbedaan. Rencananya besok pagi -pagi, Arsy mau ke taman itu lagi, berharap bisa ngobrol dengan lelaki itu," ucpanya pelan.


Kedua mata Bunda Bella mengerjap pelan. Bunda Bella menatap ke arah Paph Hermawan. Beberapa hai yang lalu, ia juga melihat lelaki yang sama persis di ceritakan oleh Arsy. Namun, Bunda Bella hanya mengganggap itu semua hanya halusinasi, ilusiya terlalu jauh kepikiran tentang Teddy. HIngga ia terbawa dan terbayang wajah Teddy dalam diri orang lain.


"Tapi ...." ucapan Arsy terhenti. Ia meltakkan kebab yang masih di nikmatinya itu dan mengambil tisu untuk mengelap sisa sos dan mayonise yang terasa belepotan di sekitar wajahnya.


"Tapi? Tapi apa?" tanya Bunda Bella dnegan cepat karena penasaran.

__ADS_1


Arsy pun mendongak menatap Bunda Bella dan Papah Hermawan yang masih serius menatap Arsy menunggu cerita selengkapnya. Mata Arsy mulai basah.


__ADS_2