Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
S2.CPA.42


__ADS_3

Gundukan tanah merah yang masih terlihat basah di bandingkan dengan makam -makan yang ada di sampingnya membuat Arsy semakin yakin, bahwa itulah rumah etrkahir bagi kedua bayinya untuk beristirahat. Arsy berjalan di antara kedua makam itu dan berjongkok sambil memegang kedua nisan yang hanya terbuat dari kayu rapuh.


Buliran kristal yang turun dari kelopak matanya sudah tak sanggup ia tahan lagi. Betapa pedih hati seorang Ibu muda seperti Arsy yang baru akan merubah statusnya menjadi Mamah muda tapi gagal.


"Kenapa kalian harus pergi? Disaat Mama menanti kehadiran kalian? Sampai Mama pun tidak tahu, siapa nama kalian. Papah kalian tidak pernah bicara apapun," ucap Arsy terus berkeluh kesah di makanlm kedua bayi kembarnya.


Perlahan Arsy menaburkan bunga mawar merah dan putih itu di atas pusara kedua bayi kembarnya. Bunga mawar putuh telah memenuhi seluruh permukaan tanah merah yang masih basah itu. Arsy membaca nama yang tertulis di nisan kayu itu. Putra Diar dan Putri Diar. Nama yang singkat dan gabungan dari nama Tedy dan Arsy.


Perlahan Arsy terduduk dan mengusap pelan pusara itu. Tidak ada lagi yang harus di ceritakan oleh Arsy saat ini. Semakin Arsy menjelaskan kesedihannya, semua malah makin terasa sesak di dadanya.


Kepala Arsy di letakkan di atas tanah itu sambil memejamkan kedua matanya yang basah. Jari -jarinya meremat kembang mawar yang ada di atas pusara itu.

__ADS_1


"Mama ... Mama ... Ini Putri, Ma. Ini Putra, adik Putri. Peluk kami berdua, Ma. Kami mau di peluk erat sama Mama. Mama ....," suara teriakan itu begitu keras dan menggema di kepala Arsy.


"Putrii!! Putraa!!" teriak Arsy menjawab panggilan kedua anak kembarnya.


"Arsy!! Bangun sayang ... Arsy ... Bangun," panggil Teddy yang terus mengusap lembut kepala Arsy.


Hijab hitam yang oanjang itu sudah terlepas dari kepala Arsy dan teejatuh di tanah. Hari sudah semakin siang. Bunda Arsy sengaja menelepon Teddy untuk segera menjemput Arsy yang sejak pagi pergi mengunjungi pemakaman umum.


"Ekhemmm ... Kepala Arsy pusing, Mas," jawab Arsy lirih sambil mengerjapkan kedua matanya menatap suaminya.


"Kenapa tidak menunggu Mas? Lihat keadaan kamu seperti ini. Ini sudah siang kamu tak kunjung pulang. Jangan membuat khawatir orang di rumah, sayang. Semua orang cemas sama keadaan kamu. Ikhlaskan semuanya, walau itu berat," ucap Teddy menasehati.

__ADS_1


"Mas yang tidak mau mengantar Arsy, bukan? Mas yang sengaja ingin membuat Arsy menderita batin? Iya kan?" ucap Arsy sekenanya dan tidak mau bangun dari sana. Arsy merasa tenang berada di atas pusara itu. Arsy juga nyaman berada di dalam area pemakaman yang sepi dan terasa dingin.


"Bukan Mas tidak mau mengantar kamu. Tapi, Mas masih sibuk mengurusi Emil, mahasiswi yang sengaja melukai anak kita," ucap Teddy jujur.


Arsy menggelengkan kepalanya cepat.


"Ini murni kecelakaan dan jangan salahkan siapapun. Apalagi menyalahkan orang yang sedang menggapai masa depan. Itu sama saja, Mas Teddy sedang merusak dan menghancurkan hidup dan mimpi mereka," ucap Arsy ketus.


"Arsy. Apa maksud kamu? Semua orang mencari keadilan untuk kamu, karena semua orang sayang sama kamu. Kenapa kamu malah membuat keputusan lain," ucap Teddy kecewa dengan penjelasan Arsy.


"Maksud Arsy? Maksud Arsy sederhana. Arsy mau fokus kuliah dan gak mau di pusingkan dengan hal apapun," ucap Arsy tegas.

__ADS_1


__ADS_2