
"Arsy? Ayo kembali ke ruangan. Sudah cukup kan waktunya untuk sarapan?" ucap Teddy dengan suara tegas dan lantang.
Mendengar suara yang tidak asing itu, Arsy langsung menoleh ke aah Teddy yang sudah berdiri tepat di belakangnya. Dengan wajah panik sekaligus malu, Arsy hanya bisa mengangguk pelan dan tersenyum kecut yang di paksakan.
"Pak Teddy. Ini bubur Arsy belum habis," ucap Arsy membela diri.
"Ayo naik ke atas. Ke ruangan saya sekarang juga!!" ucap Teddy semakin tegas.
Arsy memutar kedua bola matnaya malas. Ia benar -benar kesal dan kecewa dengan sikap arogan Teddy. Ia sedang berbincang dengan teman barunya. Arsy pun memutar tubuhnya dan memasukkan ponselnya ke dalam tas ranselnya sambil menatap lekat ke arah Beben yang terlihat tkut.
"Kenapa gak bilang kalau ada Pak Teddy?" bisik Arsy lirih.
Beben hanya diam tak menjawab dan tetpa menundukkan kepalanya. Tangannya terlihat gemetar saat sendok makannya masih dalam genggaman tangannya.
"Gak usah berbisik. Cepet naik ke ruangan saya," ucap Teddy semakin tegas.
Arsy tidak mau banyak bertingkah. Ia pun langsung berdiri dan menggendong tas ranselnya. Ia berjalan ke arah Teddy dan melewati Teddy begitu saja memilih jalan lebih dulu. Kini tatapan Teddy ke arah Beben dnegan tajam hingga membuat Beben benar -benar tak berani mengangkat kepalanya.
Teddy memutar tubuhnya dan berjalan di belakang Arsy yang sudah lebih dulu sampai di depan lift. Saat pintu lift terbuka, Arsy lngsung masuk ke dalam dan di ikuti Teddy. Di dalam lift itu mereka hanya berdua, tak ada orang lain di sana.
"Jangan pernah mendengarkan apapun dari orang lain," ucap Teddy menasehati Arsy. Teddy memulai pembicaraan lebih dulu. Ia takut Arsy salah sangka dan mempercayai semua apa ynag ia dengar dari mulut orang lain.
Arsy diam. Tubuhnya hanya menyandar pada dinding lift dan menatap kosong pada pintu lift yang memantulkan bayangan dirinya.
Teddy hanya melirik sekilas ke arah belakang lalu menatap dari pantulan cermin pintu lift. Arsy bersikap cuek dan masa bodoh.
"Kalau di telepon itu di angkat, di chat juga di jawab. Biar saya g khawatir dan gak cemas mikirin kamu, sampai harus menunda rapat penting hanya gara -gara istri labilnya ngambek," ucap Teddy pelan. IA menahan rasa geli melihat wajah Arsy yang nampak kemerahan.
__ADS_1
Ting ... Pintu lift sudah terbuka. Teddy keluar lebih dulu dan di ikuti Arsy di belakangnya.
Teddy dan Arsy sudah masuk ke dalam ruangan dan Arsy langsung memilih duduk di sofa. Teddy mengikuti duduk di sana.
"Masih marah sama saya? Soal tadi?" tanya Teddy pelan.
Arsy hanya menarik napas dalam dan menyandarkan tubuhnya lalu memejamkan kedua matanya.
"Sayaminta maaf Sy. Mulai sekarang saya tidak akan mengganggu kamu lagi. Saya bebaskan kamu untuk melakukan apa saja sesuka hatimu kalau memang kamu belum bisa menerima saya dan pernikahan kita," ucap Teddy tegas.
Teddy pun bangkit berdiri dan keluar dari ruangan itu dan melanjutkan rapat direksi yang sempat tertunda. Suara pintu ruangan itu sudah di tutup kembali. Kedua mata Arsy pun membuka. Ucapan Teddy tadui sedikit membuat hati Arsy terasa sakit. Ia jadi berpikir kalau benar, Teddy tidak akan peduli lagi dnegan diirnya, lalu ia harus meminta bantuan pada siapa?
Arsy termenung dan memangku tas ranselnya. Kepalanya pusing sekali, lebih pusing saat ini dari pada mengerjakan soal kimia.
Tok ... tok ... tok ...
Pintu ruangan itu telah di buka. Ada sosok wanita cantik yang sudah tak asing masuk ke dalam ruangan itu. Wanita itu pun menatap Arsy dan tersenyum ramah.
"Pak direkturnya kemana?" tanya perempuan cantik yang bernama Melati.
"Ekhemm ... Pak Teddy?" tanya Arsy memastikan.
"Iya. Pak Teddy. Kemana? Lalu, kamu siapa? Kok ada di ruangan ini?" tanya perempuan cantik itu menatap Arsy lekat.
"Saya anak magang baru. Pak Teddy baru saja keluar, tapi kurang tahu kemananya," jawab Arsy sekenanya.
"Keluar? Di ruang sekertarisnya juga kosong hanya ada anak magang juga. Bisa titip ini?" tanya Melati lembut. Ia menunjukkan bekal yang sepertinya di bawa dari rumah untuk Teddy.
__ADS_1
"Titip apa? Buat Pak Teddy?" tanya Arsy yang semakin panas.
"Iya buat Pak Teddy, buat siapa lagi. Ini bekal makanan yang aku buat khusus untuk calon suamiku," ucap Melati dengan penuh percaya diri.
Arsy menelan air liurnya sambil melongo takjub. Arsy hanya tak habis pikir, ternyata benar kata Beben tadi. Pak Teddy itu memang tampan hingga banyak wanita mengaguminya. Tapi, memang para wanita itu tidak tahu kalau di jari manisnya sudah ada cincin. Itu tandanya Pak Teddy sudah ada yang memiliki, batin Arsy mulai sewot.
"Oh ... Anda calon suaminya? Tadi Mbak Riana, sekertaris Pak Teddy juga bilang kalau Pak Teddy kekasihnya. Jadi sebenarnya pacar Pak Teddy itu yang mana?" tanya Arsy penasaran.
"Riana? Mengaku kalau pacarnya? Dia itu gak ngaca kalau suka sama orang. JAdi wanita itu harus cantik, smart, punya value, menarik. Mana mungkin Riana itu kekasih Pak Teddy, bahkan saya belum pernah Pak Teddy jalan bersama dnegan wanita," ucap Melati jujur.
"Kalau begitu, Anda juga bukan calon istrinya Pak Teddy dong? Anda sendiri belum pernah melihat pak Teddy jalan bersama wanita?" tanya Arsy dnegan suara tegas.
"Anak bawang kayak kamu gak usah ikut campur. Pokoknya titip ini untuk calon suami saya," ucap Melati yang masuk ke dlama ruangan dan meletakkan tas bekal di atas meja kerja Teddy.
Setelah meletakkan tas bekal itu, Melati pun melenggang keluar ruangan Teddy dengan santainya tanpa ada rasa berdosa.
"Mbak ... Namanya siapa? Biar nanti saya bisa bilang kalau bekal makan siang itu dari Mbak. Takutnya kalau saya bilang dari clon isrinya, takutnya Pak Teddy bingung, karena yang ngaku jadi calon istrinya kan banyak banget," ucap Arsy ketus.
Melati menoleh ke arah Arsy. Tatapannya makin sinis kepada Arsy.
"Kamu anak magang? Berani ngatur saya? Kamu kira kamu itu siapa? Anaknya pemilik perusahaan? Istrinya direktur? Lihat, pakaian masih putih abu aja berani sama orang dewasa," ucap Melati lantang.
"Saya tanya baik -baik lho Mbak. Mbak ini namanya siapa? Kok malah melebar keman -mana pembhasannya. Konsepnya gimana sih, Mbak?" tanya Arsy yang semakin kesal.
Perdebatan yang semakin sengit. Adu mulut yang tetap terlihat elegan karena hanya mereka berdua yang tahu.
"Konsepnya saya calon istri Pak Teddy, direktur perusahaan ini," ucap Melati lantang.
__ADS_1
"Apa -apaan ini?" teriak seseorang dengan suara keras yang tak asing lagi.