
"Harus ku jawab?" tanya Teddy pelan sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ya, harus dong," jawab dessy pelna.
"Aku belum berani menemuinya dengan keadaanku sekarang," ucap Teddy pelan.
"Kenapa begitu?" tanya Dessy bingung.
"Aku takut Des. Aku juga malu," ucap Teddy pelan.
Dessy dan Ivana memiliki sifat bertolak belakang. Ivana sealau ingin di dengar, kalau Dessy selalu ingin mendengar. Tapi, mereka sama -sama mencari perhatian Teddy.
"Buat apa takut? Apalagi harus malu? Dia istrimu. Kala dia istri yang baik tentu akan menerima keadaanmu dalm keadaan apapun. Jangan -jangan dia cewek matre lagi?" tanya Dessy tiba -tiba menuduh.
"Gak. Dia bukan tipe perempuan seperti itu," jawab Teddy membela sang istri.
"Di bela nih?" kekeh Dessy sambil menikmati pesanan makanan yang sidah ada di depannya.
"Bukan membela tapi memang kenyataannya seperti itu," ucap Teddy pelan.
Keduanya bercerita dan bertukar pengalaman hingga lupa maksud dan tujuan Teddy ingin meminta bantuan Dessy untuk mencarikan donor mata.
Tepat di siang hari, Arsy, Bunda Bella dan Papah Hermawan juga ingin menikmati makan siang di restaurant favorit Bunda Bella.
"Tuh di sana resataurantnya. Kamu pasti suka sama masakannya," ucap Bunda Bella memuji masakan restaurant yang begitu enak.
Satu keluarga kecil itu pun masuk ke dalam dan tanpa sengaja Arsy langsung menatap ke arah satu meja dimana laki -laki yang mirip Teddy itu ada di sana.
__ADS_1
"Bunda cari tempat dulu aja. Kayaknya di ujung sana, enak. Arsy mau ke kamar mandi dulu," ucap Arsy pelan.
"Oke. Kamu hati -hati ya? Atau mau Bunda temenin ke kamar mandinya?" tanay Bunda Bella.
"Ga usah Bunda, Arsy bisa sendiri," ucap Arsy pelan.
Arsy memang ke kamar mandi, dan tentu melewati meja yang di duduki oleh Dessy dan Teddy. Sekilas ARsy mendengar percakapan mereka dan tertawa mereka yang terlihat lepas tanpa dosa. Fix, Arsy cemburu. Apalagi ia jelas melihat Dessy membersihkan sisa makanan yang belepetan di dekat bibir Teddy.
Langkah Arsy semakin cepat menuju meja Teddy dan menggebrak keras mej itu.
"Ohh ... Jadi gini. Pura -pura amnesia, pura -pura buta, ternyata Mas Teddy cuma ingin mendekati wanita lin?" teriak Arsy yang sudah tak malu lagi.
Teddy langsung terdiam. Ia meletakkan sendoknya di piring dan tak menjawab.
Dessy malah yang tak terima.
"Hah? APa? Sopan santun? Kamu itu yang di ajari sopan santun gak? Dia itu suamiku!! Dia sudah punya istri, seharusnya kamu yang malu!! Jalan dengan suami orang!! Sudah gak laku di pasaran? Sampai harus janjian dengan lelaki beristri?" teriak Arsy kasar.
Perdebatan itu semakin menarik. Bany orang hanya melihat drama rumah tangga dengan perbedaan bahasa yang hanya menjadi bahan tertawaan karen lucu.
"Bund ... Itu Arsy. Kenapa dia marah -marah. Kita samperin, yuk?" ucap Papah Hermawan kepada istrinya.
Keduanya langsung berjalan menuju meja Teddy dan Dessy dan menghampiri Arsy.
"Arsy ... Kamu kenapa?" tanya Bunda Bella pelan langsung merangkula Arsy. Bunda Bella menatap Dessy dan ....
"Teddy? Kau kah itu?" tanya Bunda Bella pelan.
__ADS_1
Teddy menunduk dan ta berani menjawab.
"Ada apa ini? Kamu Teddy?" tanya Papah Hermawan keras.
"Iya. Dia Teddy. Dia meminta tolong kepada saya untuk mencarikan donor mata," ucap Dessy dengan suara tegas.
Ia sama sekali tak menduga kalau akhir ceritanya jadi begini.
"Ohhh ... Jadi benar? Itu kamu, Mas? Dan kamu sama sekali gak peduli dengan Arsy. Oke, gak usah kenal lagi sama Arsy. Arsy cukup tahu akan hal ini. Bunda, Arsy mau pulang sekarang!!" teriak Arsy dengan keras.
Teddy hanya bisa menunduk. Arsy sudah pergi dengan Bunda Bella yang sudah terlanjur kecewa dengan sikap Teddy.
"Papah kecewa sama kamu, Teddy!!" teriak Papah Hermawan keras.
'Bukan begitu Pah. Teddy malu, dan Teddy berusaha mencari kalaia tapi tak pernah berhasil. Teddy buta karena kecelakaan itu," ucap Teddy lirih.
"Kau lihat, Arsy gak bisa menerima sikap kamu," ucap Papah Hermawan pelan.
Ia tahu kndisi psikis Teddy yang mungkin merasa tak percaya diri.
"Maafkan Teddy. Teddy sedang mencari cara untuk bisa melihat lagi. Kebetulan Teddy bertemu teman lama, ini Dessy, dia adalah dkter mata. Teddy mencari informasi tentang donor mata," ucap Teddy pelan.
"Sudahlah. Papah tak bisa menjawab sekarang. Ini alamat Papah, datanglah, dan jangan menunda kalau kmu tidak ingin bermaslaah dengan Arsy," titah Papah Hermawan menasehati. Papah Hermawan memberikan kartu nama berisi alamat.
Papah Hermawan pun akhirnya pulang mengejar dua perempuan yang ia sayangi.
"Arsy itu istrimu?" tanya Dessy pelan.
__ADS_1