
Arsy menggenggam tangan Teddy. Kali ini Teddy tak bisa lagi berkutik. Cincin pernikahan itu telah melingkar kembali di jari manis kanannya.
"Masih mau mengelak? Kalau kamu bukan Mas Teddy, suami Arsy?" tanya Arsy pelan.
Deg ...
Usapan pelan pada jari manisnya pun terasa lembut sekali. Teddy sedang memutar otaknya untuk mencari alasan.
Teddy melepaskan genggaman tangan Arsy.
"Maaf Nona, mungkin anda salah orang," ucap Teddy pelan.
'Gakmungkin. Cincin pernikahan itu jelas ada di jari kamu, Mas," ucap ARsy muali ketus dengan nada yang tinggi.
Teddy tahu, Arsy tentu marah besar. Teddy mencoba tersenyum dan memebrikan senyum terbaiknya untuk Arsy.
"Saya sedang menunggu seseorang," ucap Teddy pelan. Ia berjalan ke arah yang berbeda untuk menjauhi Arsy.
Arsy kesal melihat tingkah laku Tedy yang seperti ini seolah tak mau lagi bersama Arsy.
"Kamu gak lagi ingin menjauhiku kan, Mas?" teriak Arsy semakin keras.
Langkah kaki Teddy memelan dan terhenti. Ucapan Arsy seolah memang gadis itu sangat membutuhkannya.
"Kalau Mas Teddy memang ingin pergi dari Arsy. Silahkan. Kalau Mas Teddy gak mau lagi ketemu Arsy silahkan. Jangan harap suatu hari Mas kembali dan minta bertemu dengan Arsy dan kedua anak kita," ucap Arsy kasar.
Teddy terdiam mendengarkan suara ARsy berteriak bercampur isakan. Ingin rasanya memeluk dan mencium kening istrinya. Mendiamkan dan semalaman tertidur dalam pelukannya.
__ADS_1
Tapi ... tunggu dulu. Kedua anak kita? Itu artinya? Anak kita dua? Berarti? kembar? Hah ... Aku punya anak kembar? Ya ampun, aku bahagia banget.
Arsy sudah berbalik dan pergi. Rasanya percuma sekali, berteriak -teriak menghabiskan tenaga dan energi, padahal sama sekai tak di pedulikan.
Atau jangan -jangan memang dia bukan Teddy. Tapi ... cincin itu benar -benar sama. Gak mungkin dong, sama bisa semuanya seperti kloning. Batin Arsy semakin berontak. Ia kembali di buat kesal malam ini.
Pertemuan yang tak sengaja namun malah membuatnya sakit.
Teddy sendiri tak berani angkat bicara. Tadi ... ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengakui semuanya dnegan jujur. Semua cerita tentang diirnya. Teddy tahu, Ary pasti akan maklum dan Arsy tentu akan tetap menemani Teddy.
"Arghh ... Sudahlah. Aku memang tak punya nyali untuk hal ini," ucapnya pelan dan melanjutkan lagkahnya lagi.
Dalam perjalanan pulang. Arsy terus menangis tersedu. Napasnya sesegukan dan ia benar -benar kecewa dengan sikap Teddy. Kalau suatu hari terbongkar dan betul itu Teddy, maka Arsy tidak akan pernah memaafkan lelaki itu.
Teddy sendiri berjalan menuju apartemennya. Di sana Bismo tidak ada. Teddy terus memanggil nama Bismo, namun Bismo tak menyahut karena memang Bismo tidak pulang.
Arsy berjalan lurus dengan pandangan ke depan. Tatapannya begitu keji seperti ingin memakan orang. Arsy datang ke tempat ini karena ia mendapatkan sebuah pesan singkat.
"Kalau kamu ingin menemui suamimu, datanglah ke pantai," singkat, padat dan jelas. Pesan itu pun di baca Arsy dan benar. Ia menemukan lelaki yang sama seperti sore tadi di taman.
Dan pesan singkat itu ternyata benar.
Bismo menatap Arsy dari kejauhan. Dengan begitu ia bisa menilai kalau RAsy begitu pedulidengan Teddy. Arsy sangat mencintai Teddy walaupun bahya juga mengintainya. Ia berani ambil resiko keluar dari apartemen dan berjalan di malam yang dingin itu.
Skip ...
Pagi ini, Arsy dan kedua orang tuanya akan pergi berbelanja.
__ADS_1
"tadi malam kamu kemnaa, Sy? Bunda ke kamar kamu, tapi kamu gak ada?" tanya Bunda Bella pelan.
Ia membuatkan susu hamil hangat dengan roti gandum isi selai cokelat.
"Ke pantai," jawab Arsy santai sambil mengunyah potongan roti gandum cokelat itu.
"Ke pantai? Malam -malam?" tnaya Papah Hermawan kepada Arsy dengan heran.
Arsy mengangguk pelan. Kedua matanya sesekali menatap ke arah ponsel. Karena ia takut ada pesan singkat lagi yanag masuk ke dalam ponselnya untuk memberikan kabar terbaru untuknya.
"Memang kanapa? toh deket, gak jauh," ucap Arsy pelan.
"Itu sih sebenarnay bukan pantai, tapi kali yang dibuat sedemikian rupa untuk temat wisata. Kalau di Jakarta mungkin biasa di sebut BKT tuh," ucap Papah Hermawan memberikan penjelasan.
"Hemmm ...." jawab Arsy hanya berdehem.
"Kamu sudah mandi? Kita mau berbelanja hari ini. Sekalian beli oleh -oleh untuk Mama mertua kamu," ucap Bunda Bella pelan.
"Sudah Bund ... Sudah cantik lho ini," ucap Arsy pelan.
"Cantiklah, anak Bunda,' ucap Bunda Bella tertawa.
"Anak Papah juga," jawab Papah hermawan ta mau kalah.
"Anak kalian berdua. Kan buatnya berdua," ucap Arsy pelan menyudahi perdebatan pagi hari.
Ketiganya pun tertawa terbahak -bahak.
__ADS_1