
Ada hal menarik yang di lihat Teddy saat ini. Benar sekali ucapan teman -teman se -kelas Arsy. Arsy sedang asik dengan kotak makannya dan menikmati rujak yang entah dari mana asalnya itu.
Langkah Teddy pelan menuruni anak tangga menuju taman sekolah. Ia pun mengahmpiri Arys ynag tengah asik mengobrol sambil menikmati buah potong yang di cocol dengan sambal rujak.
"Arsy?" panggil Teddy pelan.
Arsy pun menoleh ke belakang. Sedangkan teman bicaranya membenarkan duduknya dan menurunkan topinya agar wajahnya semaki tak terlihat. Ia pikir pagi -pagi begini, tidak akan ada yang mengetahui keberadaan mereka.
"Pak Teddy?" jawab Arsy pelan. Ialangsung berdiri dan meletakkan kotak makan berisi rujak itu di kursi taman sekolah.
"Kamu di sini? Saya cari kamu dari tadi. Kamu sudah makan belum?" tanya Teddy lembut. Hatinya di kuasai api cemburu yang membara. Ia tahu sosok di samping Arsy adalaj lelaki dan bukan anak sekolah sini. Memang menggunakan seragam putih abu juga hanya saja bet dan lokasinya tidak sama dengan logo yang di miliki di sekolahnya.
Mendengar pertanyaan Teddy. Kedua mata Arsy pun langsung menatap ke arah kotak makan yang ada di kursi dan menatap lelaki yang kini berhadapan menyamping. Lelaki itu juga menatap Arsy lalu menunduk.
"Ekhemm Makan ini Pak," jawab Arsy lirih. Ia mengira Teddy akan marah besar.
"Rujak? Kamu beli di mana? Kamu belum makan Arsy. Tadi pun hanya minum susu saja. Kasihan sama perutnya dan ususnya," ucap Teddy pelan menasehati.
__ADS_1
Arsy mencoba tersenyum kecut. Namanya juga lagi pengen rujak, batinnya di dalam hati.
"Kamu siapa? Kamu bukan anak sini, kan?" tanya Teddy pelan.
"Bukan Pak. Saya alumni sini," jawab lelaki itu lirih sekali.
Arsy menatap lelaki itu yang sepertinya ingin cepat menghilang dari pandangan keduanya.
"Bismo?" tebak Teddy dengan tegas dan menuduh.
Bismo hanya diam dan menunduk. Ia kesini hanya ingin mengantrakan rujak pesanan Arsy. Beberapa hari ini, Arsy meminta di belikan rujak oleh Bismo.
Tatapan Teddy tajam ke arah Arsy. Teddy merasa dirinya sama seklai tak di hargai sebagai suami dan sebagai ayah dari anak yang di kandungnya. Padahal, Teddy sangat senang bila di repotkan Arsy perihal mengidamnya yang aneh -aneh.
"Kamu ngapain kesini lagi? Masih berani datang ke sekolah ini? Semua orang sudah tahu seperti apa kamu, Bismo? Say hanya tidak ingin, kamu di anggap sebagai pelajar yang selalu berbuat onar sekali pun kamu adalah mantan ketua OSIS," ucap Teddy dengan suara tegas.
"Maaf Pak. Saya benar -benar hanya ingin memberikan rujak yang setiap pagi di pesan Arsy. Sambil menunggu waktu, syaa menemani Arsy di sini," ucap Bismo pelan.
__ADS_1
"Tidak ada alasan apapun. Saya tidak bisa menerima siswa dari sekolah lai masuk ke sekolah ini. Lebih baik kamu sekarang pergi dan jangan pernah lagi masuk ke sekolah ini dengan alasan tak masuk al. Paham?" ucap Teddy tegas dan lantang.
"Paham Pak," jawab Bismo pelan dengan nada sedikit takut. Ia masih trauma dnegan kejadian dlu, dimana dia harus di bawa ke kantor polisi dan mendekam di penjara.
"Arsy ayo ikut saya ke ruang UKS," titah Teddy tegas.
Teddy membalikkan tubuhnya dan berjalan lebih dulu menuju ruang UKS. Arsy pun hanya bisa menurut. Menutup kotak makan itu dan berjalan mengikuti Teddy.
"Maaf ya, Mo. Jadi ikut di marahi. Besok lagi gak usah bawa rujak lagi. Biar Arsy beli sendiri di jalan," ucap Arsy pelan.
Bismo hanya mengangguk pasrah. Ia masih menyukai Arsy. Arsy adalah cinta pertamanya. Sampai sekarang pun ia masih belum bisa melupakan masa -masa indah bersama Arsy. Apalagi mengetahui Arsy sudah menikah, bahkan kini hamil. Ia sama seklai belum bisa ikhlas untuk itu.
"Iya. Tapi ... Aku masih boleh menemui kamu kan, Sy? Kalau aku rindu," ucap Bismo pelan menatap sendu wajah Arsy yang menjadi serba salah.
Arsy menarik napas panjang dan perlahan di hembuskan dari mulut dan hidungnya. Ia bingung harus menjawab apa. Ada rasa kasihan terhadap Bismo yang selalu mengungkap rasa sayangnya kepada Arsy.
"Arsy!! Ayo ...." panggil Teddy deegan suara keras.
__ADS_1
Arsy pun menatap Teddy dan mengangguk kecil.
"Arsy duluan ya, Mo," ucap Arsy pelan. Arsy pun langsung berjalan cepat mengikuti Teddy yang sudah berjalan lagi menuju ruang UKS.