Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
KAU SALAH ORANG, NONA


__ADS_3

"Aku tidak apa -apa, tuan," jawab Arsy dnegan suara berat. Sulit rasanya menjawab ucapan Teddy tadi. Arsy tak menyangka kalau Teddy ini benar Teddy yang ia kenal, Teddy, suaminya. Tapi ... Kenapa memakai tongkat? Dan mengapa tak mengenalnya? Aku ini Arsy, istrinya yang sedang mengandung anank kembarnya.


Mendengar jawaban Arsy. Teddy pun langsung mengangguk kecil dengan mimik wajah datar tanpa mengulurkan tangannya untuk membnatu Arsy yang masih terduduk di atas plesteran semen itu.


Arsy hanay menatap lekat punggung kekar dan gagah itu berbalik dan kembali duduk di kursi besi taman yang sejak tadi ia duduki.


Perlahan dengan memegangi perutnya dan mengambil beberapa kantong plastik berisi makanan dan minuman tadi, Arsy pun bangkit berdiri dan berjalan ke arah Teddy. Jujur, Arsy masih penasaran dengan lelaki yang kini ada di depannya itu. Jarak mereka sagat dekat sekali. Rupa, wajah, postur tubuh dan suara tak salah lagi. Dia adalah Teddy, suaminya. Ekhemmm ... Satu lagi yang tak bisa di tutupi. Cincin itu, Ya, cincin pernikahan mereka. Teddy masih memakainya dan itu benar dia. Dia adalah Teddy, suaminya.


Air mata Arsy luruh begitu saja membasahi pipi mulusnya yang mulai chubby. Berat badanya sedikit agak lebih berisi seiring dnegan pertumbuhan janin di perutnya. Tak hanya itu saja, Arsy lebih suka makan sekarang. Perutnya mudah seklai terasa lapar.


Ingin rasanya memeluk lelaki itu. Lelaki yang sangat Arsy rindukan. Tapi, kenapa lelaki itu tak mengenalinya? Bukankah Teddy itu lelaki yang dingin tapi sayang terhadap pasangannya.


"Boleh aku duduk di sini? Atau tuan sedang menunggu seseorang/" tanya Arsy pelan. Suaranya tak di rubah sama sekali. Ia hanya ingin Teddy tahu, bahwa Arsy datang.


Deg ...


Suara itu ... Di balik kacamata hitam yang di pakai oleh Teddy. Antara percaya atau tidak, suara wanita yang meminta ijin untuk duduk di sebelahnya itu sama persis dengan suara istrinya. Bibir Teddy terasa kelu dan tak dapat menjawab atau memanggil Arsy. Tiba -tiba saja, rasa insevure, cemas, takutnya timbul. Ia takut, Arsy membencinya. Ia takut Arsy tak dapat menerimanya karena ia buta.

__ADS_1


Jari jemari Teddy langsung menutupi cincin itu dan perlahan ia lepaskan dan ia maasukka ke dalam kantong celananya. Arsy tak melihat aktivitas itu. Tanpa ada jawaban Teddy, tetap saja Arsy duduk di sebelah Teddy dan meletakkan beberapa kantong plastik itu di sebelahnya.


Perasaan Arsy saat ini campur aduk. Ia sangat senang tapi juga sangat bingung.


Baru juga Arsy duduk dan bersandar di sandaran kursi taman untuk melepas lelah. Ia sekarang mudah sekali capek dan lelah. Berjalan agak lama, kedua kakinya mulai terasa pegal dan sedikit keram.


Arsy membuka satu kantong plastik berisi makanan kesukaan Teddy. Ia berniat membagikan makanan itu dan ingin memberikannya kepada lelaki yang duduk di sampingnya.


Tapi, Teddy sudah bangkit berdiri dan berusaha pergi meninggalkan Arsy. Teddy tahu, wanita yang ada di sebelahnya adalah Arsy, istri labilnya. Dari suaranya, dari hembusan napasnya, dan dari aroma parfum yang di pakai Arsy. Semua masih sma. Semua tidak ada yang berubah.


Kedua matanya tak sanggup menahan air mat dari pelupuk matanya yang sejak tadi sudah terkumpul banyak. Arsy pun bangkit berdiri dan memeluk Teddy dari belakang tanpa ragu.


Deg ...


Pelukan itu pun masih sama. Perut Arsy semkain besar. Biasanya pelukan itu begitu intim dan sangat rapat, tapi kali ini pelukan hangat itu tergnjal oleh perutnya.


"Kamu ... Mas Teddy kan? Kamu masih hidup kan, Mas?" ucap Arsy dengan suara lantang dan keras dan nampak terbata. Beberapa kali Arsy menarik cairan di hidungnya agar tidak turun begitu saja.

__ADS_1


Teddy sendiri tak bisa berkutik. Tubuhnya yang gagha seperti membeku dan ingin seklai rasanya berbalik dan membalas pelukan itu lalu menciumi wajah Arsy semuanya tanpa sedikit pun kulitnya ada yang terlewati.


Dengan cepat, Teddy menggelengka kepalanya.


"Maaf Nona. Kau salah orang," jawabnya pelan dan begitu santai.


Padahal Teddy tak sanggup lagi harus bicara apa.Kata -kata ini sbeenarnya membuat dirinya sesak juga. Tapi ... Teddy tidak ingin membuat Arsy lebih menderita memiliki suami yang buta seperti ia saat ini.


Teddy lupa. Arsy istrinya sudah mencintainya. Bahkan cintanya kini lebih besar kepada suaminya di bandingkan kepada diri Arsy sendiri.


Wajah Arsy sudah merapat di punggung Tedy dan tangannya sudah mengulur ke depan melingkar di perut Teddy. Kedua mata Arsy emngerjap indah denagn bulu mata yang masih basah. Ia nampak terkejut dnegan jawaban Teddy.


Arsy mencari tagan Teddy dan mengusa pelan jari -jarinya. Dan ... Cincin nikahnya tak ia temukan berada di jari manis sebelah kanan Teddy.


Apa Arsy salah orang? Tidak mungkin ... Tidak mungkin Arsy salah orang. Arsy sudah dengan berani memeluk Teddy tanpa ada rasa malu.


"Aku salah orang?" tanya Arsy pelan setengah berbisik.

__ADS_1


__ADS_2