
"Permisi ya, Bu," pamit Teddy lalu menggandeng tangan Arsy sambil mendorong trolly besar itu menuju rak lainnya.
Arsy merasa bangga dengan perlakuan manis suaminya yang alami tanpa ada drama. ARsy melewati dosen Mita yang masih menatap pasanagn yang ada di sampingnya dengan lekat. Antara percaya dan tidak percaya tapi memang begitu adanya.
Kedua mata Arsy terus melirik wajah Teddy yang terlihat datar seolah tidak ada sesuatu yang terjadi. Berbanding terbalik denagn perasaan wanita yang merasa hatinya sungguh berbunga dan di penuhi dengan kupu -kupu indah lalu ikut terbang ke angkasa.
"Mas Teddy gak malu?" tanya Arsy lembut.
"Malu kenapa?" tanya Teddy kembali menatap Arsy yang terus senyum -senyum sendiri.
"Ekhemmm ... Tadi, sama perempuan tadi," ucap Arsy tergagap. Arsy bingung bagaimana ia mengutarakan pertanyannya itu.
"Perempuan tadi? Yang nyapa sambil nanya?" tanya Teddy memastikan.
"Iya yang tadi. Siapa? Dosen kan?" tanay Arsy kemudian.
Teddy mengangguk cepat. "Iya. Dosen, namanya Mita," ucap Teddy dengan jujur.
__ADS_1
"Ohh ... Dosen juga. Tepat sekali. Cantik banget," ucap Arsy seidkit cemburu.
"Gak tuh. B aja. Masih lebih cantik istri Mas," ucap Teddy penuh percaya diri yang membuat Arsy semakin meronta -nronta hatinya karena senang dan bahagia.
Wanita mana yang tidak senang jika di akui di publik, di hargai, dan merasa paling di cintai dan di perhatikan. Tidak ada satu pun wanita yang menolak kebahagiaan se -sederhana itu tapi mampu membuatnya terus melayang tinggi dan moment langka seperti itu akan terus di ingatnya hingga menua.
Teddy melirik istrinya yang sedang menjulurkan lidahnya seperti mengejek dirinya sendiri.
"Kenapa begitu? Gak percaya?" tanya Teddy pelan.
"Terus kenapa pake julurin lidah segala? Mual? Mau muntah?" tanya Teddy memastikan.
"Ohh gak kok, Mas, Tadi lidah RAsy kayak gatel gitu dan ekringa, makanya menjulur julur," ucap Arsy terpaksa berbohong.
Malu juga dong, mengakui kalau diirnya sennag sekaligus cemburu.
Teddy mengegnggam tangan ARsy dengan erat lalu di cium punggung tanagn istrinya itu oenuh kasih sayang.
__ADS_1
"Kenapa sih harus ada keraguan di hati kamu, Sy? Bukankah selama ini ujian perniakhan kita itu sangat banayk dan berat sekali. Kita bisa melewati semuanya dengan baik, dan hubungan rumah tangga kita malah makin mesra dan romantis. Apalagi semenjak kamu mengandung, arsanya lengkap sudah kebahagiaan ruamh tangga kita," ucap Teddy penuh kemenangan.
"Bukankah kodrat wanita seperti itu? Selalu ragu, sellau bertanya, selalu meminta kepastian padahal hubunagnnay sudah pasti, selalu butuh support padahal effort pasangan sudah sangat tumpah ruah. Karena apa?" tanya Arsy memberikan pertanyaan pada suaminya.
"Ekhemmm ... Karena sayang?" jawab Teddy cepat.
"Selain itu?" tanya Arsy menyipitkan kedua matanya.
"Apa ya? Karena cinta?" jawab Teddy lantang.
"Itu sama saja, Mas Teddy. Lainnya dong," ucap Arsy kemudian.
"Apa? Karena ...." ucapan Teddy menggantung dan Arsy langsung menyambung jawaban Teddy dengan gemas.
"Karena Arsy takut kehilangan Mas Teddy. Arsy gak mau kejadian waktu itu terulang lagi. Gak enak, Mas," ucap Arsy kemudian.
Teddy melebarkan senyumnya dan emrangkul Arsy tanpa malu. Teddy begitu bahagia, semakin hari rasa cintanya pada Arsy semakin besar. Keduanya kini mempunyai perasaan yang sama besar dan sama banyak. Teddy merasa beruntung memiliki istri yang selalu smepurna di matanya. Apalagi Arsy, yang benar -benar merasa puas memiliki suami seperti Teddy. Benar -benar lelaki baik, tanggung jawab dan siaga.
__ADS_1