Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
KERICUHAN DI KANTIN


__ADS_3

Arsy mengajak Wulan ke kantin tpi melewati jalan lain, sekalian merekam kenangan mereka kembali selama bersekolah tiga tahun di sekolah ini.


Arsy bercerita tentang pengalamannya saat orientasi masuk ke sekolah ini.


"Inget kan, kita gak satu kelompok. Arsy satu kelompok sama Siska. Kamu satu kelompok sama Bismo. Tapi, kalau cari tanda tangan, Bismo selalu ajak Arsy dan genadeng tangan Arsy. Sampai kita dapat tanda tangan kakak kelas yang di harapkan," ucap Arsy pelan.


"Ciee ... yang inget Bismo ..." ucap Wulan menggoda.


Tepat mereka melewati ruang OSIS dan di sebelahnya adalah ruang serbaguna yang sering di pakai untuk raoat OSIS. Arsy biasnaya duduk di kursi depan menunggu Bismo selesai rapat dan pulang ammpir membeli es krim banana caramel di tempat favorit mereka.


"Ini kan lagi kilas balik. Bukan mengingat gimana," ucap Arsy pelan.


"Akhirnya loe berdua kepilih jadi Raja dan Ratu orientasi tahun itu. Setiap pagi kalian harus berdiri di depan dan memimpin barusan sebelum di mulainya acara," ucap Wulan mengingat masa itu yang seperti baru kemarin di lewati.


Ha ha ha ... tawa Arsy begitu terdengar sangat renyah.


"Bener banget. Sampai harus bikin lagu yel yel sebagai tanda kekompakkan satu angkatan tahun itu," ucap Arsy yang tertawa bahagia.

__ADS_1


Sambil menyanyi mengenang kembali masa indah awal mereka masuk hingga mereka tanpa sengaja menbrak seseorang yang ada di depannya saking terlalu fokus dengan cerita indah mereka tiga tahun yang lalu.


Bruk ...


Arsy terjatuh dan Wulan segera menangkap tangan Arsy yang sudah lebih dulu terduduk di lantai.


Wulan langsung mendongak ke arah sosok yang tertabrak tadi. Memakai celana hitam, kemeja hitam, topi dan kaca mata hitam.


"Kalau jalan lihat -lihat!! Temen gue jatuh tuh!!" teriak Wulan ketus.


Lelaki itu pun membantu Arsy berdiri dan pergi begitu saja.


Rasanya begitu berbeda. Getaran itu seolah terasa menggetarkan seluruh tubuh Arsy.


"Makasih ya," ucap Arsy pelan dan lelaki itu sudah lebih dulu berjalan pergi.


"Ngapain loe yang minta maaf? Sudah jelas -jelas dia yang salah," ucap Wulan tak terima.

__ADS_1


"Huss ... Sudah ah. Gak usah di bahas," ucap Arsy pelan dan menarik tangan Wulan.


Wulan pun berjalan lagi melanjutkan langkahnya menuju kantin. Mereka sengaja berputar mengitari sekolahan. Padahal dari ruang kelasnya tadi tinggal turun ke bawah sudah sampai ke kantin.


"Kok Arsy baru lihat orang tadi? Siapa sih? Tapi kayak gak asing perawakannya," ucap Arsy pelan.


Jantungnya masih berdebar keras. Ia merasakan hal yang aneh baru saja.


Wulan menoleh ke arah belakang dan lelaki itu sudah tidak ada. Padahal tidak ada jalan kecuali belok ke kakan menuju koridor utama.


Wulan malah mengangkat bahunya karena tidak tahu.


"Entah," hanya iru jawaban yang lolos dari bibirnya.


Mereka pun sudah sampai di kantin. Suasana di kantin makin kacau karena terlalu ramai. Teman -teman se -angkatannya banyak yang duduk dibsana sambil main gitar dan bernyanyi riang, lagunya KITA dari sheila on seven.


Belum lagi, beberapa siswa meminta tanda tangan di pakaian putih abunya sebagai kenang -kenangan kalau mereka pernah memakai putih abu. Masa remaja mereka telah selesai.

__ADS_1


Beberpa warna pilog juga memenuhi beberapa seragam putih laki -laki dan rambut mereka.


Ini adalah suatu ventuk rasa bahagianya mereka. Setelah ini mereka punya tanggung jawab yang lebih besar lagi. Mereka bukan anak remaja yang masih harus di bimbing dan di suapi oleh keluarga dan orang -orang sekitarnya.


__ADS_2