Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
S2.CPA.44


__ADS_3

Hujan turun dengan sangat deras sekali. Petir yang menyambar juga begitu kencang dengan kilatan cahaya yang begitu mengerikan. Suasana sunyi makam itu pun berubah menjadi mencekam dan senyap sekali. Tubuh Arsy sudah basah dan bercampur dengan tanah merah yang menjadi lumpur. Teddy hanay berdiri menatap Arsy yang masih berusaha melindungi kedua makam bayi kembarnya.


"Mas ... Cari cara agar mereka tidak kehujanan dan tidak kedinginan merek bisa sakit, Mas. Mas!! Kamu malah diam saja!! Bukannya cari bantuan atau cari sesuatu. Kasihan bayi kita Mas. Bayi kita masih kecil. Sayang ... Ini susu untuk kalian, kenapa kalian tidak mau minum dan diam saja. Ayolah Nak, biar tubuh kalian hangat. Apa susu ini sudah basi?" tanya Arsy bingung.


"Arsy ... Sadar Arsy. Mereka sudah tiada. Mereka sudah tak bernyawa dan mereka sekarang ada di dunia yang berbeda dengan kita. Pulang Sy, ini semakin lebat hujannya," pinta Teddy dengan nada memohon. Teddy berjongkok dan menatap Arsy denagn attapan sendu yang penuh dengan air hujan.


Arsy menggelengkan kepalanya pelan dan tetap memeluk makam kedua bayi kembarnya secara bergantian.


Teddy tidak bisa berbuat apa -apa. Mau di paksa, takutnya Arsy malah berontak dan semakin benci dirinya. Mau di diamkan, tapi kondisi Arsy begitu lemah dan tidak memungkinkan berlama -lama di bawah guyuran air hujan seperti ini.

__ADS_1


"Putra ... Putri ... Bangun Nak ... Jangan diam saja. Seharian Mama disini menemani kalian, tapi kalian hanay diam, tidak tertawa, tidak tersenyum, tidak menangis dan tidak mau susu yang Mama bawa. Ada apa kalian? Kalian sehat kan di bawah sana. Di sana dingin, Mama bisa rasain kok. Makanya Mama datang biar kalian tidak kesepian lagi dan tidak kedinginan," ucap Arsy terus berbicara sendiri seolah ia sedang berbicara denagn kedua bayi kembarnya.


Kepala Arsy mulai terasa pening, perutnya mulai perih karena kelelahan seahrian berada di makam tanpa membawa sesuatu untuk perutnya. Dadanya juga terasa sakit, karena dua hari ini, air susunya mulai merembes keluar dari kedua dadanya. Jika tidak di keluarkan, rasanya sangat sakit sekali.


"Pulang yuk? Kita makan? Mau makan apa? Biar Mas yang masak? Atau mau beli? Kita deliveery makanan lalu makan berdua sambil nonton drakor kesukaan kamu? Mas akan temani kamu," ucap Teddy lirih yang sama sekali tak di respon oleh Arsy.


Teddy mendekati Arsy dan mengusap kepala Arsy yang terasa panas di keningnya.


Teddy semakin panik lalu ia mengangkat tubuh Arsy dan berjalan menuju keluar dari area pemakaman. Jalan setapak yang licin dan penuh lumpur membuat Teddy tak bisa segera cepat membawa Arsy pulang ke rumah. Beberapa kali kakinya terperosok di lumpur yang cukup dalam.

__ADS_1


Akhirnya Teddy bis ammebawa ARsy menuju mobil dan langsung membawa Arsy pulang ke rumah.


"Arsy kenapa?" tanya Bunda Arsy yang tyerlihat cemas lalu mengambil pakaian ganti dan handuk untuk Arsy. Arsy di tidurkan di sofa dengan di alasi plastik karena tubuhnya penuh denagn lumpur.


Bunda Arsy dan asisten rumah tangga mulai mengurusi Arsy denagn mengelap tubuh putrinya denagn air hangat dan tubuhnya di balur dengan minyak kayu putih agar tidak kedinginan.


Teddy juga langsung mandi dan memberishkan diri lalu segera membuatkan makan malam untuk istrinya.


"Bunda ... Teddy mau bikin bubur dulu," ucap Teddy.

__ADS_1


"Iya. Buatlah," jawab Bunda Arsy yang sedang memakaikan pakaian tidur di tubuh Arsy. Saat ini, Arsy tidak boleh di biarkan pergi sendiri tanpa ada seseorang yang menemani. Rencananya, Teddy akan menyuruh Mega, sahabat Arsy di Kampus untuk menemani Arsy.


__ADS_2