
Arsy terjatuh begitu saja di lantai. Tubuhnya mendadak lemas dan tak bergerak di lantai setelah melihat Bismo ada di depannya sambil membawakan makanan utuk Wulan.
"Arsy ... Arsy ...." panggil Bismo sambil menepuk pipi Arsy yang sedang tak sadarkan diri.
Mendengar suara keras Bismo memanggil nama Arsy. Wulan pun lansung berlari dan menolong Arsy. Berkali -kali Wulan menepuk pipi Arsy dan memangku kepala Arsy di pangkuan Wulan.
Bismo sendiri meletakkan plastik yang di bawa dan segera mengangkat Arsy menuju kamar Wulan. Wulan berjalan ke dapur untuk mengambil air dan kembali lagi ke kamar mencari minyak kayu putih untuk di oleskan ke hidung Arsy.
"Arsy kenapa Lan?" tanya Bismo pelan.
Wulan menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak mungkin menceritakan hal ini kepada Bismo. Kalau Arsy cemburu kepada dirinya.
"Gak tahu. Mungkin kaget lihat kamu kesini, Mo," ucap Wulan pelan.
"Memang kamu tidak cerita sama Arsy? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Bismo kepada Wulan.
Wulan menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku gak tega Mo. Arsy cinta sama kamu, Mo," ucap Wulan pelan.
"Tapi ini semua juga sudah jadi keputusan aku, Lan. Aku harus bertanggung jawab atas hal ini. Kalau bukan karena kamu saat itu aku sudah mati di bunuh," ucap Bismo pelan.
"Cukup Bismo!! Jangan ucapkan hal itu lagi. Toh semuanya masih aman -aman saja," ucap Wulan pelan.
Tangan Bismo menggenggam tangan Wulan dnegan erat.
"Aku harus pergi dari kehidupan Arsy. Biar ini semua tidak terus berlanjut. Walaupun aku masih sayang dengan dia. Tapi rasa tanggung jawab ku terhadap kamu lebih besar, Lan. Bukankah kamu juga yang menyuruhku untuk melupakan Arsy?" ucap Arsy pelan.
Wulan mnundukkan kepalanya mnahan tangisnya. Kini ia di hadapkan pada suatu masalah yang besar. Antara dirinya dan sahabatnya karena saling berkaitan.
"Jangan jelaskan saat ini. Ini gak baik. Aku gak mau hubungan persahabatan aku dan Arsy memburuk," ucap Wulan pelan.
Perlahan kedua mata Arsy terbuka. Pandangannya ke atas melihat langit -langit kamar Wulan. Semuanya masih terasa samar dan lama -lama pandangan itu terpusat.
"Arsy?" panggil Wulan lirih. Arsy langsung melepaskan genggaman Bismo dan kini menggenggam tangan Arsy dengan erat.
Arsy langsung menatap Wulan. Ia lupa dengan kejadian bausan.
"Sy ...." Bismo pun ikut memanggil Arsy lembut.
Arsy menoleh ke arah Bismo dan kebecian itu muncul kembali karena rasa kecewa yang di rasakan Arsy.
"Ka -kalian? Kalian jahat ...." ucap Arsy lirih. Ia menahan sesak di dadanya. Air matanya sudah mengumpul di sudut matanya. Ingin rasanya pergi dari keduanya.
"Sy ... Kita mau jelasin semuanya," ucap Bismo pelan sambil memegang tangan Arsy. Tangan mungil dengan cincin ynag melingkar di jari manis Arsy membuat Bismo bertanya -tanya.
"Sudahlah Bismo. Gak perlu jelaskan lagi kan. Kalian sudah jelas ada main di belakang Arsy. Lalu, kamu Lan? Kamu tega dengan melakukan ini? Walaupun kamu tahu rahasia terbesar aku, tapi tidak eharusnya mengkhianati sahabat kamu sendiri," ucap Arsy ketus.
__ADS_1
"Rahasia besar? Rahasia apa? Apa ini ada kaitannya dengan cincin yang kamu pakai Sy?" tanya Bismo menuduh.
Wulan pun terkejut dan menatap Arsy. Karena di saat yang sama Arsy menatap tajam ke arah Wulan dan membuat Wulan semakin ketakutan. Ia takut di tuduh membuka rahasia besarnya ini.
"Kenapa kalian berdua diam? Apa yang kalian sembunyikan dari aku?" tanya Bismo dengan suara tegas. Ia menatap Arsy dan Wulan secara bergantian.
Arsy bangun dari tidurnya. Tubuhnya di rasa sudah cukup kuat untuk pergi dari rumah Wulan. Ia muak melihat keduanya. Pengkhianatan yang tak pernah ARsy bayangkan sebelumnya.
"Iya ... Arsy sudah tunangan. Arsy di jodohkan oleh Papah dan Bunda. Tapi ARsy masih tetap berusaha mempertahankan ini semua. Tapi? Apa? Kamu selingkuh Bismo!! Dengan Anisa? Adik kelas kita yang juga sekertaris OSIS, dan sekarang dengan Wulan, sahabat aku sendiri. Atau mungkin dengan yang lain juga? Aku tidak pernah tahu untuk itu. Dan mulai sekarang, aku gak akan mau tahu lagi tentang kamu atau kamu juga, atau yang lain. Memang benar kata Papah dan Bunda, aku harus fokus sama belajar dan menggapai cita -cita. Mulai sekarang aku tahu, apa arti ketulusan, dan mulai sekarng aku akan belajar mencintai tunanganku. Urusanku dengan kamu kamu selesai. Lalu, persahabatan kita? Aku anggap cukup sampai di sini saja," ucap ARsy ketus.
Arsy bangkit berdiri dan keluar dari kamar mengambil tas nya lalu pergi tanpa pamitan. Ia berlari menuju jalan besar kompleks untuk mencari taksi online dan pulang ke rumah Mama Tina.
Bismo mengepalkan tangannya. Ia juga merasakan sakit. Rasa sayanganya pada Arsy selama ini begitu tulus, hingga ia harus berpura -pura mendekati Anisa karena suatu alasan. Lalu, kini ia harus bertanggung jawab atas kesalahannya terhadap Wulan.
"Kamu kenapa gak bilang sama aku, kalau Arsy sudah tunangan?" tanya Bismo ketus.
"Untuk apa? Arsy sahabatku, kamu adalah kekasih sahabatku. Biarkan Arsy saat itu menjelaskan sendiri tanpa campur tangan aku," ucap Wulan menjelaskan.
"kamu tahu. Aku masih sayang sama Arsy. Kalau bukan rasa tanggung jawab aku smaa kamu, aku gak bakal begini sama kamu, Lan. Harusnya kamu sadar," ucp Bismo yang seolah malah menyalahkan Wulan.
"Aku tidak pernah menyalahkan kamu. Apalagi mmebuat kamu merasa bersalah. Kamu sendiri yang datang ke rumahku dan bilang mau tanggung jawab? Saat itu aku hanya diam? Karena aku tahu resikonya, semua ini akan terjadi. kau harus pertaruhkan persahabatanku dengan Arsy selama dua tahun lebih hanya untuk hal gila ini? Aku masih punya hati Mo!!" teriak Wulan kesal.
Bismo tak menjawab ia segera berdiri dan mengejar Arsy. Tapi, sudak tak terlihat lagi sosok tubuh mungil itu. Bismo mencari -cari dan mengejar ke arah jalan besar kompleks.
'Tidak mungkin secepat itu? Ini kompleks sepi dan jarang sekali ada taksi. Tidak mungkin dengan mudah mendapatkan taksi online di sini. Kemana dia?' tanya Bismo pada dirinya sendiri.
"Arsy ...." teriak Wulan denean suara keras. Jantung Arsy berdegup keras tak biasa.
Hari mulai gelap Arsy belum di temukan dan tidak ada kabar. Sudah satu jam Wulan dan Bismo mencarinya. Namun, di kompleks itu memang sudah tidak ada.
"Ketemu?" tanya Wulan dengan suara pelan.
"Gak. Atau mungkin memang sudah pulang naik taksi? Tapi aku telepon ponselnya gak aktif," ucap Bismo pelan.
"Perasaan aku gak enak deh, Mo. Semoga perasaan ini salah," ucap Wulan yang mersa janggal.
"Jangan bikin aku cemas deh. Apa aku susul ke rumahnya ya?" tanya Bismo pelan.
"Eits ... Arsy udah gak di rumah itu. Kedua orang tuanya pindah ke luar negeri karena Papahnya sakit dan harus berobat di sana," jawab Wulan dnegan jujur.
"Lalu? Arsy tinggal dimana sekarang?" tanya Bismo mulai penasaran.
"Ekhemm ... Saudaranya, Mo. Tapi aku juga gak tahu," jawab Wulan dengan masuk akal.
Sebisa mungkin memang Wulan ingin menyembunyikan rahasia pernikahan Arsy.
"Saudarnya? Saudara yang mana? Setahu aku, dia gak ada saudara yang sama di kota ini?" ucap Bismo tak percaya.
__ADS_1
"Arsy bilang gitu. Masa iya aku bohong," jawab Wulan pelan.
Tak lamaponsel Wulan berbunyi. jelas nama guru Bp di sekolahnya terpampang dengan jelas di layar ponselnya hingga membuat Bismo melongo dan menoleh bingung ke arah Wulan.
"Pak Teddy?" tanya Bismo merasa aneh.
Wulan sendiri juga merasa bingung. Tentu, gurunya ini akan menanaykan keberadaan Arsy.
"Iya Mo. Ada hubungan apa kamu sama Pak Teddy?" tanya Bismo penasaran dan menunggu jawaban Wulan.
Wulan mengambil ponselnya dan berjalan ke depan untuk mengangkat ponsel itu menjauhi Bismo.
"Ya Pak? Malam?" ucap Wulan sopan.
"Arsy dimana? Rumah kamu dimana? Saya sudah di rumah kamu? Tapi katanya bukan rumah kamu? Gimana ini?" tanya Teddy pelan.
"Maaf Pak. Wulan ke sana sekarang. Rumah Wulan memang pindah ke belakang komplek lewat gang kecil yang ada di sebelah rumah lama Wulan," ucap Wulan pelan.
Dengan cepat Wulan berlari ke arah gang kecil dan bertemu Pak Teddy yang juga berjalan cepat mengarah ke rumah Wulan.
"Pak Teddy? Maaf yaPak," ucap Wulan pelan.
"Arsy mana?" tanya Pak Teddy pelan.
"Ekhemmm Arsy sudah pulang Pak," jawab Wulan lirih dan merasa bersalah.
"Sudah pulang? Ponselnya gak aktif lho Lan? Pulang kemana? Naik apa?" tanya Pak Teddy mulai mencecar Wulan.
"Tadi sekitar jam setengah lima sore Pak," ucap Wulan pelan.
Teddy langsung menelepon Mamanya di rumah untuk mneanyakan Arsy.
"Ma? Arsy ada? Ini sudah mau jam tujuh. Dia sudah pulang belum? Hah? Beneran Ma?" tanya Teddy bingung dan cemas seketika.
Wajahnya terlihat panik sekali.
"Pak? Arsy belum sampai rumah?" tanya Wulan yang tiba -tiba ikut cemas.
"Belum Lan? Kenapa dia bisa pulang duluan? Kan tahu saya akan jemput dia," ucap Teddy dengan nada kecewa.
"Maafkan saya Pak. Mampir ke rumah dulu Pak," ajak Wulan pelan.
"Gak usah. Saya mau pulang, saya mu tunggu Arsy di rumah. Ingat ponsel kamu harus tetap aktif. Kalau sampai jam sembilan malam, Arsy tidak pulang, saya akan lapor polisi," ucap Teddy ketus.
"Pak ... Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan. Tadi memang sempat ada salah paham di antara kita berdua sampai pada akhirnya Arsy menangis dan dia pergi begitu sja. Pas saya ikuti dengan Bismo, Arsy sudah menghilang begitu saja. sat jam saya dan Bismo berkeliling komplek dan tidak menemukan Arsy. Jadi saya pikir, Arsy sudah pulang pakai taksi online seperti biasanya," ucap Wulan pelan.
"Apa? Kalian berantem? Ada Bismo juga? Permainan apa ini sebenarnya? Drama apa lagi?" tanya Teddy dengan suara yang sangat lantang.
__ADS_1
Suara keras dan tegas Teddy membuat Wulan merasa takut dan terpojokkan.