
"Kamu kenapa? Sakit? Perutnya sakit? Atau kenapa?" tanya Teddy mulai cemas dengan raut wajah Arsy yang tiba tiba berubah seperti merintih kesakitan.
Arsy menggigit bibir bawahnya dan memegangi bagian bawah perut yang terasa kencang dan keram. Sakit sekali rasanya.
Arsy hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil sedikit membungkuk karena tak kuat menahan rasa sakit itu. Wajahnya mulai pucat dan akhirnya ....
Bruk ...
Teddy yang sudah siap langsung sigap mengangkat istri kecilnya itu dan membawa ke sebuah ruangan untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Sejak jatuhnya Arsy di atas panggung saat acara perpisahan itu. Banyak orang mulai membuat statement sendiri dan mulai membuat praduga tak bersalah tentang hubungan Arsy dan Teddy yang terlihat nyata saat mereka berada di atas panggung.
"Kamu sudah siuman, sayang?" ucap Teddy pelan mengusap pipi Arsy dan di cium berkali kali hingga pipi itu basah.
Kedua mata Arsy mengerjap dengan indah. Tangan mungilnya dalam genggaman erat tangan Teddy. Dua bola matanya mulai membuka dan menatap ke seluruh ruangan itu dan berhenti pada wajah tampan suaminya.
Arsy tersenyum manis, "Mas ...." ucap Arsy lirih memanggil suaminya. Tubuhnya terasa lemas sekali. Untuk berbicara dan memanggil kata Mas saja perlu menahan beberapa saat untuk mengumpulkan tenaga hingga suara itu keluar dari bibirnya yang tipis dan membelah dua.
__ADS_1
"Apa sayang? Kamu mau apa? Biar Mas belikan," jawab Teddy pelan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Arsy.
Tangan kiri Teddy bertumpu pada kasur seperti ingin memeluk Arsy dalam keadaan tidur. Satu tangan lainnya mengusap pelan pipi Arsy yang sudah terlihat chubby dan meggemaskan.
Satu kecupan di kening lalu di lanjutkan di pipi kanan Arsy lalu menuju pipi kiri Arsy dan terakhir pada hidung Arsy.
Keduanya saling bertatap penuh cinta dengan rasa rindu yang begitu berat mereka tahan selama ini.
Selama ini, Teddy hanya menatap Arsy dari kejauhan saja tanpa bisa menyentuhnya secara fisik. Kalau rindu, Teddy akan masuk ke kamar Arsy pada malam hari saat Arsy swdang tertidur pulas dan menvium kening serta kedua pipi Arsy seperti yang biasa Teddu lakukan.
"Gak akan sayang. Kita akan selalu bersama. Mas juga mau menemani kamu melahirkan si kembar dan ada berita baik lainnya," ucap Teddy pelan sambil mengecup bibir Arsy yang telah membuat Teddy candu. Bibir yang tipis terbelah dan menggemaskan.
"Apa itu Mas?" tanya Arsy penasaran.
"Mas yang akan menjadi dosen kamu nanti," ucap Teddy tertawa.
Arsy menatap lekat ke arah Teddy.
__ADS_1
"Kenapa? Kok kayak gak suka?" tanya Teddy kepada Arsy pelan. Usapan di pipi Arsy makin lembut.
Asry malah menunjukkan bibirnya yang manyun. Ia tak suka Teddy menjadi dosen. Pasti fansnya banyak sekali.
"Nanti banyak mahasiswi yang suka sama Mas," ucap Arsy lirih.
"Terus? Masalahnya dimana?" tanya Teddy sambil mengecupi bibir Arsy lembut.
"Arsy cemburu Mas!! Kok gak paham sih!!" ucap Arsy keras.
Teddy hanya menatap lekat kedua mata Arsy tanpa berkedip. Ia sengaja diam dan berpura pura menjadi tuli tak mendengar ucapan Arsy.
Tapi tak kuasa menahan tawa melihat raut wajah Arsy yang makin terlihat bete dan lama lama makin menjadi kesal.
Cup ...
Teddy langsung mencium bibir Arsy lembut. Ia gemas dan rindu campur aduk. Ingin membuktikan rasa cinta dan rasa sayangnya yang luar biasa dalam kepada Arsy, istri sekaligus ibu dari si kembar.
__ADS_1