
Tatapan Teddy tak berpindah dari benda yang tergeletak di lantai. Tentu Teddy bukan orang bodoh karena ia bekerja di dunia kesehatan. Melihat benda pipih dan pangjang itu bukan hal asing baginya.
Teddy memungut benda itu dan memegangnya. Di sana jelas muncul tanda berwarna pink kemerahan untuk menunjukkan suatu hasil.
Pandangannya berpindah ke arah Arsy yang juga sedang menatapnya kini. Arsy tersenyum malu. Tapi, malam ini ia akan menjadi istri yang paling bahagia.
Teddy memejamkan kedua matanya, dadanya mulai bergemuruh hingga detak jantungnya kembali terasa sangat kencang berdegup. Langkahnya hati -hati menghampiri Arsy yang masih duduk dengan senyum bahagia.
"Ini milikmu Sayang?" tanya Teddy lirih. Entah mulai kapan, Teddy mulai nyaman memanggil Arsy dengan kata sayang. Baginya, suatu panggilan itu adalah bukti cinta dan hubungannya yang mesra antara satu pasangan dnegan pasangannya sendiri.
Teddy duduk di pinggiran ranjang dengan sedikit gugup. Ia masih belum percaya melihat hasil alat test kehamilan itu.
"Iya. Itu punya Arsy, Mas. Tadi siang waktu makan siang, Arsy mencoba untuk test, karena ...."
"Karena apa?" tanya Teddy pelan. Mimik wajah Arsy berubah saat ingin menceritakan hal yang Arsy rasakan tentang Wulan.
"Wulan. Beberapa hari yang lalu Wulan menyuruh Arsy untuk tes kehamilan, soalnya beberapa kali Arsy merasa mual. Pas Wulan masuk rumah sakit, Arsy jadi takut hamil, malah hasilnya itu," ucap Arsy pelan.
Teddy memeluk istri labilnya. Ini memang tidak mudah, apalagi yang ia jadikan contoh adalah kondisi sahabatnya sendiri yang setiap hari bersamanya. Ketakutan, kecemasan, kegugupan, kebelumsiapan, kepanikan, kegelisahan, tentu itu semua terasa campur aduk di dalam hati dan pikiran Arsy.
"Arsy takut Mas ... Bukan Arsy tak bahagia dengan hasil tes itu. Maafkan Arsy," cicit Arsy lirih di dalam dekapan Teddy.
Teddy sendiri tak dapat membendung rasa sedihnya. Tangannya memang memeluk Arsy tapi satu satu tangannya masih memegang hasil tes kehamilan yang menampakkan hasil dua garis berwarna merah dengan jelas.
Seharusnya ia bahagia saat ini melihat hasil tes kehamilan yang ada di genggamannya. Tapi, pasangannya seolah tidak bisa menerima semua ini dengan ikhlas.
Pelukan itu semakin erat. Arsy semakin erat melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Teddy.
"Tapi Mas bahagia Sy. Ini adalah anugerah, kita gak bisa menolak. Anak itu titipan. Kamu harus yakin, kalau sang pencipta sudah menitipkan hadiah terindah, masa iya kamu tidak mau menjaganya?" tanya Teddy pelan sambil mengusap kepala Arsy hingga ke punggung istrinya dengan sangat lembut.
__ADS_1
Di balik tubuh itu, tentu Arsy tersenyum bahagia. Suaminya senang dengan hasil itu. Lama -lama pelukan itu di kendurkan. Mimik wajah sedihnya di hilangkan secara langsung dan mengganti dengan wajah bahagia.
"Surprise sayang ... Arsy bahagia bahkan rasa bahagianya melebihi Mas Teddy. Maaf ya sayang, Arsy sengaja pura -pura sedih," ucap Arsy tertawa tanpa rasa berdosa.
Teddy menatap Arsy dengan tajam.
"Ini bukan hal yang bisa kamu anggap sebagai main -main, Sy," ucap Teddy terlihat marah.
"Lho Mas Teddy marah? kan Arsy cuma bercanda," ucap Arsy membela diri.
"Jangan -jangan hasil ini pun kamu bercanda!!" ucap Teddy kesal.
"Gak Mas. Itu hasil tes Arsy. Arsy memang positif hamil," ucap Arsy mencoba menjelaskan.
"Tapi cara kamu salah. Kamu sudah membuat saya tegang dan panik. Saya merasa bersalah telah menikahi kamu, di saat usia kamu belia dan belum siap menikah," ucap Teddy mulai melemah. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Pernikahan ini permintaannya sendiri walaupun akhirnya kedua keluarga besar sepakat untuk menjodohkan juga.
Arsy menggelengkan kepalanya dengan cepat. Semua ini tidak sesuai dengan apa yang ada di pikirannya tadi. Arsy tadi tidak pikir panjang. Ia kira menggoda Teddy dan berpura -pura tidak bisa menerima dirinya hamil, maka Teddy akan merayunya, membujuknya dan berkata romantis hingga bucin luar biasa. Ternyata semua di luar ekpektasinya. Ada juga, Teddy malah marah, kesal, ngambek dan menyalahkan dirinya sendiri.
Arsy mengambil alat teskehamilan yang ada di genggaman Teddy . Ia lihat dua garis berwarna merah itu adalah bukti cinta keduanya.
"Mas Teddy tahu. Arsy bli ini adalah suatu perjuangan. Anak sekolah ke apotek beli alat tes kehamilan, itu sesuatu banget. Tapi, Arsy merasa menunjukkan rasa tanggung jawab, rasa bahagia itu kita gak usah gengsi dan gak perlu punya rasa bersalah. Dan hasil ini, dua garis merah yang membuat ARsy girang se -ketika dan berteriak keras di dlam kamar mandi, karena apa? Arsy tahu Mas pasti bahagia dengan hasil ini. Ini bukti cinta kita Mas ... Mulai sekarang Arsy gak akan ragu sama Mas dan Arsy mohon Mas juga gak perlu cemburu dnegna siapa pun yang dekat dengan Arsy ...."
Teddy melotot ke arah Arsy, ia langsung menyela ucapan Arsy.
"Gak bisa gitu Sy. Mas gak rela kamu dekat lelaki lain selain Mas. Mas ini punya perasaan dan punya hati. Mas gak suka!! Apalagi kamu sedang mengandung. Mas ingin jaga kamu dua puluh empat jam!!" tegas Teddy jelas dengan suara lantang.
"Kan semua teman, Mas. Kayak Bismo, Moko, Nanda, Arga, Aji, Semua cuma teman. Mereka hanya bercanda dengan Arsy," ucap Arsy membela diri.
Arsy hanya tidak ingin sisa kebersamaan dnegan teman -temannya di masa putih abu itu akan hilang tanpa cerita dan kenangan. Walaupun statusnya kini bukan lagi pacara orang atau tunangan orang, bahkan statusnya sudah istri orang dan sembilan bulan lagi ia akan menjadi seorag Ibu.
__ADS_1
"Dengarkan Mas. Mas paling cemburu kalau kamu dekat dengan lelaki lain, apalagi menanggapi dengan candaan, guyonan yang buat kalian tertawa, rasanya tuh sakit hati Mas lihatnya," ucap Teddy denagn mimik wajah yang serius dan tidak sedang bercanda.
Tangan Arsy mengenggam tangan Teddy. Arsy berusaha meredam semuanya. hatinya kini telah seluruhnya utuh Teddy. Mungkin benar, kalau perempuan itu mudah mencintai bila di telateni oleh lelakinya.
"Mas harus yakin sama Arsy. Perjalanan kita juga gak mudah setelah ini, Arsy kuliah, Mas juga akan sibuk dengan rumah sakit milik Mas. Belum lagi hal lain yang memicu. Tapi, sekarang ada ini," ucap Arsy pelan. Tangan Teddy di ayunkan menuju perut Arsy dan mengusapnya pelan.
"Ini bukan hanya bukti cinta kita berdua ...." Teddy tersenyum.
"Ini penguat cinta kita di masa yang akan datang ...." Arsy menambahkan dan membalas senyuman bahagia itu.
Teddy mengusap pucuk kepala Arsy. Malam ini keduanya tampak manis sekali. Sikap romantis tidak melulu dengan kata -kata gombal. Terkadang dengan ucapan yang tak biasa pun bisa mmembuat hati kita di bawa terbang ke angkasa.
Keduanya saling berpelukan mengeratkan tubuh mereka satu sama lain. Mengeratkan pelukan itu hingga keduanya tak saling terelepas. Teddy mencium kening Arsy lembut.
"Terima kasih. Sudah mau menerima cinta sederhana ini di masa putih abu kamu. Mas janji ini akan menjadi cerita terindah untuk kamu kenang selama kamu memakai seragam putih abu," ucap Teddy lirih. Teddy pun mulai menciumi istrinya dengan gemas. Seluruh wajah mungil dan imut itu sudah habis terkena sapuan bibir Teddy.
Arsy sendiri hanay tersenyum dan tertawa kecil kegelian.
"Sudah Mas ... Geli ...." tawa Arsy sambil menampilkan senyum bahagia.
"Geli? Atau ....." ucap Teddy yang langsung merebahkan tubuh Arsy.
Mungkin bulan madu itu terjadi lagi ... walaupun sudah ada Teddy junior di dalam perut Arsy.
"Argh ... pelan -pelan dong Mas. Ini ada anak kamu," ucap Arsy yang mulai nakal menggoda Teddy suaminya.
"Anak kita sedang tidur. Giliran Ayahnya yang membuat Bundanya merem melek dlu," ucap Teddy tertawa.
"Argh .... Mas ...." ucap Arsy lirih. Entah bagaimana cara mengungkapkan itu smeua. Karena semua itu hanya bisa di rasakan bukan di ungkapkan.
__ADS_1
"Mmmphhhh ....." suara keduanya memicu gairah.
Teddy dan Arsy sedang butuh kosentrasi penuh agar Teddy junior tetap aman dan tenang di dalam perut.