
Malam ini Bismo tidak pulang. Memang sudah biasa, dan Teddy juga tak mencarinya. Ia malahan melakukan aktivitas seperti biasanya.
Mulai dari memasak, membersihkan apartemen, mencuci baju dan semua pekerjaan di apartemen itu di kerjakan oleh Teddy tanpa mengeluh.
Siang ini, Teddy seperti biasa, berjalan ke luar dan mencari pekerjaan yang mudah. Bukan hanya itu saja. Ia selaku berharap ada keajaiban.
Ia berjalan menyusuri pertokoan dan tanpa sengaja bertemu dengan seorang dokter wanita.
Tak sengaja mereka bertubrukan dan Teddy terjatuh, tingkatnya terlempar.
"Maafkan saya. Ini tongkat kamu," ucap wanita itu pelan.
"Tidak apa -apa," jawab Teddy pelan.
"Ekhemm ... Kalau gak keberatan sebagai ucapan permintaan maaf, saya traktir makan siang," ucap wanita itu pelan.
Jujur, wanita itu kagum melihat Teddy. Kaca mata hitam Teddy sempat terjatuh dan menampakkan wajah gantengnya. Pesonanya langsung membuat wanita itu jatuh hati.
"Kalau saya tidak mau?" tanya Teddy pelan.
"Harus mau. Kalau tidak mau, berarti anda tidak memberikan maaf pada saya," ucap wanita itu pelan.
Akhirnya keduanya mencari restaurant dekat pertokoan itu. Wanita itu memilih restaurant yang ada di dalam pusat perbelanjaan.
Keduanya sudah memilih restaurant dan duduk dalam satu meja yang sama dan saling berhadapan.
Merrka sudah memesan makanan san menunggu pesanan itu datang.
"Namaku Dessy, aku dokter di sebuah rumah sakit," ucap Dessy pelan.
"Ohh Bu Dessy. Saya Ted ... Ekhemm Saya .... " ucapan Teddy terhenti tepat dengan pesanan minuman mereka datang.
"Ini rainbow coke milikmu," ucap Dessy pelan dan memberikan gelas itu pada Teddy.
__ADS_1
"Oh ya ... kamu dokter apa?" tanya Teddy pelan smabil menyeruput minumannya dengan sedotan.
"Dokter mata," jawabnya tersenyum.
Teddy menatap wanita di depannya. Ia merasa kenal Dessy seorang dokter mata.
"Kenapa? Ingat sesuatu?" tanya Dessy pelan.
Teddy terdiam. Ia tak mau menjawab. Menerima ajakan makan siang kali ini malah membawanya pada masalah baru.
"Kamu lagi main drama?" tanya Dessy pelan.
Teddy menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak. Kenapa bisa kepikiran begitu?" tanya Teddy pelan.
Dessy adalah sahabat karib Ivana. Keduanya sama -sama mencintai pria yang sama. Keduanya sama - sama bersaing hingga akhirnya Dessy memilih pergi dan melanjutkan studinya ke luar negeri.
"Ekhemm kamu pikir kamu bisa menghindari aku?" ucap Dessy tertawa.
"Gimana Ivana? Kalian sudah menikah?" tanya Dessy saat melihat sebuah cincin yang melingkar indah di jari manis Teddy. Dessy beramsumsi kalau cincin itu pasti cincin pernikahan.
"Aku? Sama Ivana? Cuma temen Dessy," jawab Teddy pelan.
"Udah ih bercandanya. Buka kek kaca matanya. Lagi ngelabuin siapa sih?" yanya Dessy pelan.
"Aku habis kecelakaan. Aku memang buta Dessy," ucap Teddy pelan.
"Kamu serius? Kamu buta?" tanya Dessy pelan.
"Iya Dess. Kalau ada donor mata. Aku mau Dess," ucap Teddy pelan.
"Gak semudah itu kan, Tedd. Banyak pemeriksaannya. Belum lagi kalau ada kendala," ucap Dessy pelan.
__ADS_1
"Kok malah nakutin sih? Jadi dokter itu harus yakin dan bisa meyakinkan pasiennya untuk sembuh. Ini malah di takut -takutin," ucap Teddy pelan.
"Maaf Ted. Aku gak bisa bantu," ucap Dessy pelan.
"Kenapa?" tanya Teddy pelan.
"Aku gak mau ambil resiko. Aku akan kasih tahu kalau ada donor mata, tapi aku gak bisa bantu untuk operasinya. Kamu paham kan? Aku menyukai kamu, Ted. Jadu aku gak akan tega melakukan operasi itu," ucap Dessy jujur.
"Dessy itu perasaan waktu SMA. Gak akan mungkin kamu bawa sampai kita berumur begini. Apalagi usia kita gak muda lagi. Tentu banyak yang mau sama kamu dengan tingkat kemapanan dan ketampanan yang bisa menyesuaikan selera kamu," ucap Teddy pelan.
"Perempuan itu gak semudah itu melupakan cinta sejatinya. Mungkun laki - laki yang tulus juga akan merasakan hal yang sama," ucap Dessy menjelaskan.
"Aku gak percaya soal itu," ucap Teddu pelan.
"Kamu sudah menikah?" tanya Dessy pelan mencari topik lain.
"Sudah. Istriku sedang hamil," jawab Teddy pelan.
"Ohh ..." jawab Dessy hanya beroh ria. Ia sudah tahu pasti jawaban Teddy sudah menikah.
"Dokter juga?" tanya Dessy pelan.
Dessy tahu persis. Wanita seperti apa yang di inginkan oleh Teddy.
"Calon dokter," jawab Teddy tegas.
"Waoww ... spek idaman dong pastinya," ucap Dessy pelan.
"Pastinya," jawab Teddy mengangguk bangga. Sosok Arsy mampu membuat Teffy selalu tersenyum.
Obrolan mereka harus terhenti sejenak karena makanan yang mereka pesan sudah datang.
"Mari makan ...." ucap Dessy penuh semangat. Ia menatap Teddy dengan iba.
__ADS_1
Lebih baik kamu buta begini. Agar aku bisa merawat kamu tanpa punya rival.
"Istrimu dimana?" tanya Dessy tiba -tiba membuat Teddy langsung terbatuk.