
Hari pertama OSPEK di kampus sungguh melelahkan. Arsy tidak mendapatkan hak istimewa sebagai mahasiswa yang memang sedang mengandung. Semua panitia seolah tak peduli dan bahkan sedikit membully Arsy. Setengah hari saja rasanya kaki dan pinggang tak kuat lagi menopang tubuhnya yang memang mulai berat.
Arsy hanya bisa menghela napas panjang dan berkali -kali meluruskan kakinya agar tidak keram. Seharian ini, acara OSPEK hanya perkenalan saja. Ada beberapa dosen yang mengisi acara untuk memperkenalkan kampus tercintanya ini dan menjelaskan sistem perkuliahan disini.
Ada juga beberapa senior yang menjelaskan ruang lingkup kampus dan kegiatan yang ada di kampus ini di luar dunia perkuliahan.
"Hai ... Namaku Mega," ucap Mega mengulurkan tangannya ke arah Arsy yang duduk sendiri sambil membuka kotak bekalnya.
Arsy menoleh ke arah Mega yang tersenyum manis dan ramah. Arsy pun mengulurkan tangannya kepada Mega.
"Hai .. Aku Arsy. Yuk makan siang disini. Silahkan duduk," ucap Arsy pada Mega.
Mega pun menyambut senang tawaran Arsy dan keduanya duduk berdua sambil menikmati bekal makan siang mereka. Keduanya langsung tampak akrab satu sama lain.
"Kamu lagi hamil berapa bulan?" tanya Mega penasaran sambil mengunyah makanannnya.
"Sudah mau lahir," jawab Arsy tetap tenang.
Apa yang perlu di takutkan. Toh, ia mengandung anak suaminya, bukan anak haram. Mungkin memang Arsy masih terlalu muda, tapi tidak menjadi alasan orang untuk membully sebagai gadis tak baik.
"Kamu Arsy? Di panggil sama Kak Emil, ketua panitia OSPEK," ucap salah seorang teman maba yang belum di kenalnya.
__ADS_1
"Kak Emil? Dimana?" tanya Arsy kemudian sambil menutup kotak bekalnya yang belum habis dan segera ke tempat yang di tuju untuk menemui Kakak panitianya.
"Disana. Di ujung koridor. Semuau panitia sedang makan siang. Katanya kamu di panggil," ucap maba itu.
Arsy hanya mengangguk kecil dan emnatap ujung koridor yang cukup jauh.
"Aku antar ya Sy," ucap Mega kemudian. Mega merasa kasihan pada Arsy. Arsy mengangguk kecil dan keduanya segera menuju ke arah ujung koridor dan mengetuk pintu satu -satunya yang ada disana.
Suara tawa smeua panitia yangs edang berpesta pun terdengar hingga sampai di luar.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Masuk!" jawab salah seoarng panitia dari dalam tanpa membukakan pintu ruangan itu. Arsy membuka pintu dan masuk Ia menyuruh Mega untuk menunggunya di luar saja.
"Wow ... Ibu hamilnya sudah datang," ucap Emil, Kakak panitia yang paling julid dengan Arsy sejak awal pertemuan mereka.
"Kak Emil panggil Arsy? Ada apa ya?" tanya Arsy pelan dengan emmasang wajah penasaran.
"Ohh iya. Kamu ingat, kamu melakukan kesalahan apa hari ini?" tanya Emil ketus membuat semau teman -teman panitia lain hanay bisa menatap apa yang akan di lakukan Emil selanjutnya.
"Arsy terlambat datang," jawab Arsy yakin.
__ADS_1
"Berapa menit?" tanya Emil kemudian.
"Sepuluh menit," jawab Arsy berusaha emngingat berapa lama keterlambatannya tadi.
"Ingat kan? Ada hukumannya?" ucap Emil ketus.
Arsy hanya mengangguk pasrah. "Iya Kak."
"Setelah ini adalah acara kampus lagi. Ada beberapa dosen yang akan di perkenalkan untuk fakultas ekonomi. Nah ... Tugas kamu itu ...," ucapan Emil terhenti dan mengedarkan pandangannya pada semua teman -temannya.
"Apa tugas Arsy Kak," ucap Arsy pelan.
"Tugas kamu menyiapkan makanan kecil, buah dan air. Semua makanan itu ada di lantai bawah di bagian pengajaran. Bilang saja untuk acara OSPEK, snack dosen," titah Emil pada Arsy.
"Baik," jawab Arsy tegas.
Emil hanya menatap Arsy dengan tatapan tidak suka. Arsy sudah memutar tubuhnya dan segera pergi dari sana. Ia mulai risih denagn smeua tatapan orang banyak yang terkesan mengejeknya. Mungkin karena dirinya sedang hamil.
"Benta. Ada satu pertanyaan lagi yang masih buat gue penasaran," ucap Emil memanggil Arsy kembali.
"Iya Kak?" jawab Arsy sopan sambil membalikkan tubuuhnya lagi.
__ADS_1
"Itu perut asli kan? Maksud gue beneran hail?" tanay Emil penasaran.