
"Terima kasih ya, Nak Teddy sudah mengantarkan Arsy," ucap Bunda Bella pelan.
Teddy hanya mengangguk sopan.
"Sama - sama Bunda. Arsy juga sudah menjadi tanggung jawab Teddy," ucap Teddy dnegan sopan.
Keduanya turun dari lantai dua setelah Bunda Bella menutup kembali kamar Arsy.
"Mau ngopi dulu?" tanya Bunda Bella pelan.
"Tidak Bunda, Ayah. Teddy pulang saja. Kebetulan masih ada kerjaan lain yang belum di selesaikan. Besok pagi, Teddy kesini lagi untuk menjemput Arsy," ucap Teddy dengan suara pelan.
"Ayah pinta tolong jaga Arsy dengan baik. Minggu depan Ayah dan Bunda harus pindah ke London, dan mulai mengurus perusahaan yang ada di sana. Dan kamu yang akan menggantikan posisi Ayah di kantor," ucap Ayah Herwawan kepada Teddy.
"Teddy akan menjaga amanah Ayah dan Bunda dengan baik. Teddy pulang dulu, Ayah, Bunda?" ucap teddy pelan.
"Ya, hati - hati di jalan," ucap kedua orang tua Arsy.
Sepanjang perjalanan pulang, Teddy tersenyum sendiri. Malam ini adalah malam terbaik dan malam yang sangat membahagiakan bagi dirinya. Wanita yang ia idamkan selama ini telah di berhasil di milikinya walaupun melewati perjodohan.
Bunyi ponsel yang terdengar asing pun berbunyi dengan sangat keras. Teddy memberhentikan laju mobilnya dan mencari ponsel yang berbunyi.
"Ini dia. Ini punya Arsy kan?" tanya Teddy pada dirinya sendiri setelah melihat ponsel itu berkedip dan bercahaya di bawah.
Di lihat ada beberapa pesan singkat yang belum di baca di sana. Teddy pun tak berani membuka ponsel itu dan tidak lama ponsel itu kembali berdering dan tertera nama Bismo di sana.
Teddy hanya berpikir untuk mengangkat atau tidak. Jika di angkat, ia akan beralasan menjadi siapa.
"Ya, Hallo?" ucap Teddy pelan.
"Maaf, Arsynya ada Om? Ini Bismo teman Arsy," tanya Bismo sedikit gugup. Selama ini ponsel Arsy tidak pernah di pegang oleh orang lain termasuk kedua orang tua Arsy.
__ADS_1
"Arsynya sudah tidur. Kalau memang ada keperluan, besok kan bisa di bicarakan di sekolah," ucap Teddy dengan suara tegas.
Ponsel itu langsung di tutup sepihak oleh Teddy. Ada perasaan cemburu di dalam hatinya. Ia belum benar - benar menjadi orang yang di cintai Arsy walaupun sudah di miliki. Arsy masih memiliki kekasih di sekolah.
Teddy melanjutkan laju mobilnya menuju ke rumah. Malam sudah semakin larut. Tubuhnya sudah sangat lelah sekali.
"Arsy ...." panggil Bunda Bella pelan.
Bunda Bella tahu, kalau Arsy sedang berpura - pura tertidur karena malas berbicara dengan Teddy. Mungkin saat ini Arsy belum bisa menerima Teddy sebagai calon suaminya.
"Bunda tahu, kamu tidur pura - pura. Bilang saja minta di gendong Nak Teddy? Hayooo ...." goda Bunda Bella sambil membuka selimut yang di pakai oleh Arsy.
Kedua mata Arsy membuka pelan. wajahnya terlihat masih kesal karena acara mendadak hari ini. Bukan hanya itu saja, yang membuat Arsy kaget, perjodohannya ini harus dengan Pak Teddy, guru BP yang paling killer di sekolahnya.
"Arsy marah sama Bunda? Sama Ayah juga? Karena lamaran ini?" tanya Bunda Bella sambil menatap lekat ke arah Arsy.
Arsy bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya. Arsy menggelengkan kepalanya pelan.
"Tapi Arsy masih belum terima kan? Sama acara lamaran ini?" tanya Bunda Bella pelan.
Arsy terdiam dan tidak menjawab. Ia sendiri bingung harus menjawab bagaimana. Ia tidak bisa membohongi Bunda Bella. Bundanya itu selalu tahu apa yang ada di pikiran Arsy.
Arsy hanya bisa mengangguk pasrah dan tidak menjawab appun.
Bunda Bella duduk di tepi ranjang Arsy dan memegang lembut kedua tangan Arsy.
"Kamu tahu Arsy? Orang tua itu akan melakukan apapun yang terbaik untuk anaknya. Tidak ada satu orang tua pun yang ingin menjerumuskan anaknya sendiri. Pilihan kedua orang tua itu adalah matang, dan memerlukan beberpa proses hingga ada kaa sepakat dan keputusan yang di hasilkan bulat. Bukan sekedar mengambil keputusan untuk keuntungan pribadi orang tua," ucap Bunda Bella pelan.
Arsy hanya diam tak menjawab. Arsy mendengarkan nasihat Bunda Bella dengan seksama. Arsy sendiri bingung dengan perasaannya saat ini.
"Arsy hanya tidak ingin di paksa, Bunda. Arsy masih ingin menikmati masa muda Arsy. Arsy masih mau kumpul sama teman teman SMA dan hangout bersama seperti biasa. Bukan malah di nikahkan. Arsy pasti terkekang, da tidak boleh main," ucap Arsy melupakan kekesalannya.
__ADS_1
"Hei ... Gak semua pernikahan akan mengekang pasangannya. Ada pasangan yang membebaskan pasangannya asal pasangannya bisa membawa diri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri," ucap Bunda meyakinkan Arsy. Kalau pernikahannya bukanlah suatu ancaman dan bahaya bagi dirinya.
Arsy hanya diam. Pikirannya terus mencari solusi yang baik untuk dirinya sendiri. Belum lagi hubungannya dengan Bismo yang sedikit bermasalah. Lalu, Arsy harus bicara apa dengan Bismo? Kalau ia sudah di lamar dan bertunangan dengan Pak Teddy. Belum lagi, minggu depan Arsy harus menikah dan ...
"Argh ...." tiba - tiba Arsy teriak dengan suara kencang sekali.
"Kenapa Arsy?" tanya Bunda Bella pelan.
"Tidak apa - apa, Bunda. Arsy lelah mau tidur," ucap Arsy lirih. Arsy pun merebahkan tubuhnya kembali dan menutup sebagian tubuhnya dnegan selimut tebal.
Bunda Bella sangat mengerti perasaan Arsy saat ini. Arsy hanya terkejut dan butuh waktu saja. hatinya hanya kaget karena di usia yang sangat muda ini ia sudah di jodohkan dan sebentar lagi akan di nikahkan.
"Oke. Istirahatlah. Besok kamu harus bangun pagi. Nak Teddy ,akan menjemput kamu," ucap Bunda Bella pelan.
Arsy tak menjawab dan langsung memejamkan kedua matanya. Bunda Bella mengecup kening Arsy lalu beranjak pergi dari kamar itu dan mematikan lampu kamar tidur Arsy.
"Selamat malam Arsy. Mimpi indah," ucap Bunda Bella pelan. Hatinya ikut sedih melihat Arsy yang merasa tertekan dengan lamaran dan pertunangan ini.
Bunda Bella masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Ayah Hermawan yang duduk bersandar pada sandaran tempat tidur sambil membaca pun sampai menutup bukunya.
"Kenapa Bun?" tanya Ayah Hermawan, suaminya.
"Arsy, Ayah," jawab Bunda Bella pelan.
"Ada apa dengan Arsy?" tanya Hermawan kembali kepada istrinya. Hermawan tahu, Arsy sangat dekat dengan Bundanya da semua hal pasti akan di ceritakan kepada Bundanya.
"Arsy keberatan dengan acara pertunangan ini," ucap Bunda Bella pelan.
Hermawa pun beringsut mendekati Bella, sang istri dan mengusap lembut punggungnya untuk tetap tenang dan tidak menggoyahkan semua keputusan yang telah di ambil.
"Suatu hari nanti, Arsy akan mengerti semua. Bahkan Arsy akan berterima kasih karena telah di jodohkan oleh Teddy yang begitu baik dan sayang kepadanya. Ingat Bun, minggu depan setelah acara pernikahan Arsy, kita harus segera ke london," ucap Hermawan dengan suara tegas.
__ADS_1
Bunda Bella hanya mengangguk pasrah.