
"Papah sakit apa sih? Kayaknya ada yang di sembunyikan dari Arsy?" tanya Arsy kepada Teddy yanag menutup kembali laptopnya dan membereskan meja kecil d atas kasur itu.
"Memang Papah sakit?" tanya Teddy melemparkan pertanyaan kembali kepada Arsy.
"Mana Arsy tahu. Kan dulu Mas Teddy yang bilang kalau Papah sakit dan harus berobat ke London? Masa lupa?" ucap Arsy pelan sambil bersandar pada sandaran ranjang.
Teddy pun melangkah ke arah Arsy dan duduk di tepi ranjang. Memeluk istrinya dnegan penuh kasih sayang.
"Papah lagi sakit. Kit ahanya bisa mendoakan yang terbaik. Niat Mas mau ke London untuk menjenguk Papah. Tapi, mas lihat jadwal anak kelas tiga begitu padat hingga menjelang ujian nasional di bulan empat nanti. Makanya Mas putuskan untuk berangkat ke London setelah ujian nasional berkhir. Gimana?" tanya Teddy pelan.
Arsy berada di pelukan Teddy. Cara ini makin meyakinkan Arsy bahwa sesuatu yang tidak baik terjadi pada Papah. Penyakit Papah bukanlah penyakit biasa saja, sampai harus berobat ke London.
"Mas lagi gak berbohong sama Arsy kan?" tanya Arsy lirih dalam pelukan suaminya.
Ysapan lembut di rambut Arsy pun terasa tulus dari dalam hati Teddy.
"Pernah Mas bohong sama kamu?" tanya Teddy pelan.
Terasa Arsy menggelengkan kepalnaya pelan di dada Teddy.
"Mas cuma pengen kamu sekarang fokus belajar, dan fokus sama anak kita. Kalau nilai kmau bagus, kita akan ke London. Kita sekalian bulan madu," ucap Teddy pelan.
"Bulan madu?" tanya Arsy mengendurkan pelukannya.
"Kenapa? Bulan madu. Ga ada salahnya ka?"tanya Teddy pelan.
"Tapi, Arsy kan sudah hamil. Masa iya mau bulan madu," ucap Arsy pelan.
"Bulan madu itu, bukan untuk hamil kan. Bulan madu itu lebih mempererat hubungan antara suami dan istri," jelas Teddy.
Arsy melepas pelukan itu dan kini mereka saling bertatapan dan saling memandang lekat.
"Mas Teddy mau berangkat kapan? Ini sudah siang lho," ucap Arsy pelan.
Teddy melihat jarum jam di jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Mas mau berangkat sekarang. Kamu yin berani di rumah sendiri?" tanya Teddy yang masih bimbang.
__ADS_1
"KAn ada ini Mas? Ponsel ini fungsinya apa? Bukan buat kasih kabar?" ucap Arsy pelan.
"Oke. Kalau Mas telepon kamu harus angkat. Biar Mas tahu kondisi kamu selama di rumah," titah Teddy tegas.
"Siap komandan. Laksanakan," jawab Arsy sambil tertawa.
Teddy bangkit dari duduknya dan Arsy pun juga bangkit berdiri.
"Eits ... Kamu mau kemana? Kamu tiduran aja, istirahat. Gak perlu antar Mas sampai depan. Oke," titah Teddy kembali dengan suara tegas.
"Kan mau anter Mas sampai depan. Arsy kuat kok. Arsy mau kayak di sinetron gitu, anter suaminya, di peluk, di cium," ucap Arsy sambil menatap ke arah lain membayangkan cerit -cerita manis di sinetron.
Cup ...
"Udah di cium. Tadi juga udah di peluk. Sekarang istirahat. Bikin cerita kayak sinetron bisa besok lagi kalau kamu sudah sembuh," ucap Teddy pelan.
Arsy pun menunduk malu. Entah sepetinya wajah Arsy saat ini pasti berwarna merah kayak kepiting rebus.
"Ish ... Bisanya curi start terus." cicit Arsy kesal.
"Curi start?" tanya Teddy pelan.
"Ohh iya ... Papah lupa sayang. Habisnya Papah terlalu khawatir sama Mamah, sampai lupa gak di cium juga. Doain Papah ya, punya banyak uang, bisa beli rumah sultan kayak rumah milik sultan andara," ucap Teddy pelan sambil terkekeh.
"Kok ketawa sih. Serius dong Mas. Anaknya juga butuh konsentrasi untuk doain Papahnya," ucap Arsy kesal. Teddy seolah hanya mengajak bercanda saja dan tidak serius.
"Iya ini serius sayang." jawab Teddy mengalah. Teddy mengecup perut Arsy berkali kali hingga istrinya malah merasa kegelian.
"Sudah Mas. Geli," ucap Arsy sambil menjauhkan kepala Teddy dari perutnya.
"Oke. Mas berangkatnya. Kamu istirahat saja. Nanti Mas pulang baru Mas bantu ganti baju. Ini air, cemilan sudah ada di nakas. Hanya itu yang boleh kamu makan. Oke?" titah Teddy.
Arsy hanya mengangguk kecil. Ia hanya bisa menatap suaminya pergi dan menutup kamar tidur dan mengunci pintu depan.
Skip ...
Teddy sudah sampai di kantor. Bobby tangan kanannya sudah memberikan setumpuk proposal yang harus di teliti oleh Teddy sebelum di tanda tangani. Riana juga ada di sana memberikan beberapa berkas penting yang memerlukan otorisasi dari sang manajer.
__ADS_1
"Pak ... Sepertinya Bapak harus mulai stay di kantor. Banyak pekerjaan yang tidak bisa saya handle sendiri," ucap Bobby pelan menjelaskan.
"Kenapa gitu?" tanya Teddy pelan.
"Banyak klien yang membatalkan kontrak kerja karena Pak Teddy tidak stay di kantor. Mereka menganggap Pak Teddy itu hanya mempermainkan mereka, karena biar bagaimana pun juga Pak Teddy adalah pemimpin di perusahaan ini." Bobby mulai berkeluh kesah. Kalau kondisinya begini terus maka perusahaan bisa mengalami bangkrut.
Teddy menarik napas dalam dan berpikir sejenak. Lalu mentap Riana yang akan melaporkan sesuatu hal yang penting.
"Pak ... Kemarin Pak Hermawan meminta di transferkan uang sebanyak ini," ucap Riana menunjukkan data bukti transfer.
"Banyak sekali? Untuk apa? Lalu, siapa yang meminta? Biasanya Pak Hermawan akan bicara dulu dengan saya," ucap Teddy pelan.
Riana dan Bobby pun saling berpandangan.
"Riana tinggalkan berkas itu. Akan saya pelajari," titah Teddy pelan.
"Ekhem Tapi Pak, biar syaa yang menyimpannya saja," ucap Riana gugup.
"Letakkan. Saya akan konfirmasi pada Pak Hermawan dan Ibu Bella, sebagai pemilik perusahaan," tegas Teddy dengan suara keras.
"Ekhemm ... Biar saya simpan di ruangan saya pak. Nanti kalau butuh bisa langsung di ambil." jawab Riana yang semakin terlihat gugup.
"Kalian berdua kenapa? Sejak tadi saya lihat saling berpandangan dan cemas? Ada masalah?" tanya Teddy ketus.
"Tidak ada Pak. Semua bisa kami atasi dengan baik," ucap Bobby pelan.
"Saya akan pikirkan kembali masalah kehadirasn saya di sini. Mungkin saya akan fokus di kantor ini," ucap Teddy mengambil keputusan singkat.
"Kalau Bapak memang sibuk di tempat lain. Kami berdua bisa di andalkan," ucap Bobby pelan.
Teddy menatap Bobby dan Riana bergantian. Teddy merasa ada yang aneh pada keduanya.
"Sudahlah saya ingin sendiri, menandatangani semuanya dengan khusyuk. Kalian pergi saja. Tidak perlu di temani," ucap Teddy tegas.
Bobby dan Riana pun keluar dari ruangan Teddy dan berjalan pelan ke arah pantry.
"Ini ide gilamu? Aku malah spot jantung dengan tatapan tajam Pak Teddy," ucap Riana sambil mengambil air minum di dalam gelas lalu mengaknya agar hatinya kembali tenang.
__ADS_1
"Pak Teddy tidak akan tahu. Selama ini Pak Hermawan juga tidak ada komplain dengan uang transferannya," ucap Bobby pelan dengan santai.