
Baru juga jam sembilan pagi rasanya sudah se -abad bagi Arsy. Arsy mulai jenuh dan bosan dengan kondisinya yang hanya tidur dan rebahan serta menonton televisi di kamar. Tidak ada kegiatan lain selain menikmati cemilan sehat yang sudah di siapkan oleh Teddy.
Ia mulai memainkan ponselnya bermain sosial media yang sudah lama tak di bukanya semenjak menikah. Walaupun Arsy bukan tipe perempuan yang doyan bergaya dan berpose laludi unggah diberanda media sosial medianya.
Arsy terus men -scroll ke bawah mencari sesuatu yang aneh, unik dan mungkin yang tak pernah di ketahui selama ini.
"Ini kan Nanda. Nanda sama Tami? Hah? Kenapa aku baru tahu?" tanya Arsy pada dirinya sendiri.
Arsy tak peduli. Karena memang bukan urusan Arsy. Mau mereka pacaran, mau menikah muda, itu urusan mereka.
Iseng ia menekan nomor Teddy, Arsy ingin tahu apa yang di lakukan suaminya di kantor.
Sambungan telepon itu mulai tersambung tetapi tak diangkat oleh Teddy.
"Cih ... Gaya gak diangkat. Awas aja, nanti ada pembalasan. Sesibuk apa sih? Sampai gak angkat telepon Arsy. Memang gak takut, Arsy kenapa -kenapa," ucap Arsy menggerutu dengan kesal.
Arsy menngambil snack ringan berbentuk bulat yang gurih dan asin. Satu kantung besar pun tak terasa sudah berpindah ke perutnya. Tapi tetap saja, Teddy tak membalas meneleponnya atau memberikan pesan singkat kalau ia sedang sibuk.
"Hah ... Udah setengah jam lebih. Kemana sih Mas Teddy? Memang se -sibuk itu?" Arsy menggerutu terus.
Arsy mencoba menelepon sang suami kembali, namun tetap tidak ada jawaban.
"Apa mungkin Mas Teddy sedang selingkuh?" ucap Arsy lirih. Pikirannya mulai melebar dan berpikir sangat buruk.
Skip ...
Teddy sudah membaca semua laporan yang di berikan kepadanya. memang sudah hampir dua minggu, Teddy tak hadir ke kantor. Smeua urusan hanya di pasrahkan kepada Bobby yang di selalu di komando oleh Teddy.
__ADS_1
Siang ini ia langsung menemui temannya di restauran dekat kantor untuk makan siang bersama.
"Hai ... Apa kabar. Maaf terlambat, Ted," ucap Ivana pelan yang berjalan etrburu -buru saat memasuki restaurant itu untuk menemui Teddy teman lamanya.
"Hai Ivana. Tak masalah, aku tahu kamu sibuk," ucap Teddy santai.
"Sudah jadi bos nih. Keren dan tampan. Sudah berapa banyak wanita yang kau pacari?" tanya Ivana dengan suara lebut.
Ivana adalah teman SMA sekaligus temn kuliahnya dulu. Mereka satu kampus tetapi berbeda jurusan. Ivana adalah gadis paling pintar di sekolahnya, karena terbentur biaya cita -citanya menjadi seorang dokter pun kandas. Ia memilih jurusan yng sebenarnya tak di sukai, karena ia hanya di terima di juruan tersebut melalui jalur prestasi dan mendapatkan beasiswa, amaka mau tidak mau di tekuni dnegan baik.
"Kamu yang sukses Ivana. Lihat cara bepakaian kamu juga tidak main -main, ini ada harganya," canda Teddy kepada Ivana.
"Kau masih lucu seperti dulu. Kau hebat, sudah menjdi dokter. Denger -denger kau membangun rumah sakit?" tanya Ivana dengan kedua mata brbinr.
"Ya. Masih on proces. Doakan saja. Mau pesan apa?" tanya Teddy pelan.
"Ekhemmm ... Apa ya? Di isni menunya enak -enak. Pesan yang spesial dari sini saja," ucap Ivana kepada pelayan yang sudah ada di sebelahnya.
"Terima kasih sudah datang di tengah kesibukan kamu, Iv. Aku ada masalah di kantor. Ada yang menurutku janggal dan sepertinya sudah di lakukan lama, tapi kali ini terlihat menuolok sekali," ucap Teddy pelan.
"Kantor? Kamu punya perusahaan juga? Wah ... Lelaki idaman memang. Wanita mana yang mnolak untuk kamu dekati, jika lelakinya tampan, keren, smart, punya tujuan hidup, perfect banget," puji Ivana dengan senyum merekah.
Sejak dulu, Teddy adalah tujuan hidupnya. Teddy adalah cinta pertama Ivana. Ia kenal betul dengan Lina yang juga sama -sama menyukai Teddy. Bedanya Ivana bisa meredam rasa sukanya untuk bisa menjadi teman Teddy. SEdangkan Lina selalu bar -bar menunjukkan rasa sukanya.
"Hey ... Ini bukan saatnya untuk memuji. Aku butuh bantuan kamu. Secara kamu punya kantor akuntan publik terbesar di kota ini, Ivana dan rekan," puji Teddy kepada Ivana.
Ivana hanya melempar senyum bahagia dan indah. Sudah lama tak bertemu Teddy. Ia sempat kehilangan kontak Teddy karena ponselnya hilang. Smpat mencari ke beberapa temannya tapi juga tak mengetahui sosok Teddy yang dingin dan jarang berkumpul dengan teman -temannya.
__ADS_1
"Oke. Nnati aku bantu. Asal bayarannya cocok," jawab Ivana tertawa.
"Soal bayaran itu mudah asala yang curang bisa di hempas," titah Teddy tak main -main.
"Baik. Itu memang pekerjaan. Mencari dan meneliti sebuah kecurangan dalam data base yang di jadikan sebuah laporan keuangan fiktif. Kalau di temukan dan itu berlangsung lama. Kau tahu, dia adalah karyawan yang hebat bisa memanipulasi data base dengan mudah. Dia tak hanya pintar dan cerdik, bisa jadi dia sengaja karena punya dendam tersendiri," ucap Ivana yang mengambil minumannya dan menyedotnya hingga setengah gelas.
"Haus? Nambah lagi," ucap Teddy bercanda.
"Jangan membuatku malu Ted. Selera humormu makin receh sekali sih," kesal Ivana.
"Oke. Serius." tegas Teddy dengan suara lantang.
Ivana mengangguk kecil. Ia mulai mengisi perutnya dulu dengan makanan yang sudah di antar oleh pelayan. makanan ini sebagai energi sebleum ia mulai bekerja kembali atas panggilan spesial Teddy.
Sesekali Ivana mencui pandang lelaki tampan di depannya. Wajahnay memang semakin sangat tampan dan luar biasa berbeda saat masih sekolah dulu.
"Awas bintitan kalau curi -curi pandang terus," ucap Teddy tertawa. Teddy bisa menjawab tanpa melihat Ivan yang sejak tadi mengamatinya.
Ivana langsung gelagapan dan meneruskan menikmati makan siangnya.
Skip ...
Hati Arsy main tak tenang. Sambungan teleponnya sejak tadi tak di respon sama sekali oleh Teddy.
Teddy sendiri lupa, sejak pagi ponselnya di heningkan karena hari ini Teddy mau fokus pada kantornya. Ia ongin segera menumpas para benalu, belut dan enceng gondok yang ada di kantornya tanpa tersisa stu pun. Di diamkan malah ngelunjak, di keras malah menantang, serba salah menjadi seorang pimpinan denagn segala aturan yang tak pernah berpihak pada karyawannya.
"Kamu kemana sih Mas? Ini sudah jam dua belas siang. Katanya mau pulang dan membelikan makanan. Arsy lapar," teriak Arsy di dalam kamar.
__ADS_1
Arsy hanya mengambil kue dari dalam kulkas. Ia mulai rakus karena memang perutnya mulai teras keroncongan. Sejak hamil, ia tak dpat menhan rasa laparnya. Kalau lapar, Arsy akan lebih uring -uringan dan marah -marah tak jelas.
"KESEL ...." teriak Arsy terus menggerutu penuh emosi.