
Teddy menyalankan mesin mobil dan melajukan kendaraan beoda empat itu dengan kecepatan stabil menuju rumah Wulan.
"Wulan. Saya antar kamu terlebih dahulu," ucap Teddy pelan.
"Iya Pak. Terima kasih," jawab Wulan pelan.
Teddy langsung mengambil ponselnya. Lalu menelepon Bunda Bella, Bunda Arsy. Intinya Teddy meminta ijin pulang terlambat dan mengajak Arsy pergi untuk persiapan pernikahannya. Bunda Bella pun memberikan ijin, sempat bicara juga dengan Arsy dan menasihati anak gadisnya itu untuk menuruti Teddy, sebagai calon suaminya.
Ketiganya diam dan tidak ada yang bersuara. Wulan yang biasa mengajak bicara pun terdiam. Ia juga canggung bila berada di antara Arsy dan Pak Teddy, Gurunya itu.
"Kamu sudah makan siang, Sy?" tanya Teddy lembut sambil fokus pada setir mobilnya.
Arsy tetap diam tak menjawab.
"Arsy sudah makan belum Lan?" tanya Teddy tak mau kalah langkah.
"Belum Pak. Tadi kami baru memesan makanan dan Arsy meminta pulang," jawab Wulan jujur.
Akhirnya, sampai juga di rumah Wulan. Teddy sengaja mengantarkan terlebih dahulu Wulan pulang ke rumahnya, baru mengajak Arsy untuk membeli barang -barang untuk keperluan seserahannya.
"Terima kasih Pak, sudah mengantar Wulan. Arsy. aku duluan ya," ucap Wulan pelan berpamitan.
"Ya, Wulan," jawab Teddy pelan.
"Iya Lan. Salam buat Mama kamu," jawab Arsy pelan. Wajahnya hanya melirik sekilas ke arah Wulan yang sudah membuka pintu belakang mobil untuk keluar dan turun dari mobil tersebut.
Teddy dan Arsy melanjutkan kembali perjalanannya menuju salah satu pusat perbelanjaan. teddy ingin mengajak Arsy mencari beberapa keperluan Arsy sebaga seserahan. Maklum Teddy sendiri belum tahu betul kebiasaan Arsy dan kesukaan Arsy. Sekalian akan makan bersama sebelum pada akhirnya Teddy membawa Arsy pulang ke rumahnya sesuai dengan pesan Mama -nya tadi.
"Kita pilih barang dulu ya? Ini buat seserahan nanti," ucap Teddy pelan.
"Ya. Gimana Bapak saja. Arsy hanya nurut," ucap Arsy pelan.
Teddy pun melajukan mobil Arsy dengan cepat. Sekitar setengah jam, mereka berdua sudah sampai di pusat perbelanjaan yang di maksud. Arsy sempat tertidur karena kelelahan.
"Sy. Arsy?" panggil Teddy dengan suara lembut. Teddy membranikan diri untuk menyentuh tangan Arsy dengan sangat pelan, sambil di usap lembut agar Arsy terbangun tanpa rasa kaget.
"Ekhemmm ...." Arsy hanya memutar tubuhnya mencari kenyaman tidur, tanpa membuka matanya sedikit pun.
"Arsy ... Kita sudah sampai. Kita makan dulu yuk?" ajak Tedddy dengan lembut.
Arsy pun tersadar dan membuka kedua matanya pelan. perlahan tubuhnya di tegakkan dan mengumpulkan nyawanya.
"Sudah sampai? Laper pak," jawab Arsy polos.
"Kita makan sekarang. Kamu mau makan apa?" tanya Teddy pelan sambil menunggu Arsy benar -bena bangun dan merapikan baju seragamnya.
"Apa ya? Mie ayam bakso boleh?" tanya Ars jujur.
"Mie ayam bakso? Memang ada di sini?" tanya Teddy kemudian.
"Memang ini dimana? Mall XX, ada Pak. Di lantai atas, ada mie ayam enak." jawab Arsy sambil tersenyum lebar.
"Hapal ya? Sering ke sini?" tanya Teddy lembut mematikan mesin mobilnya dan membuka pintu mobil.
"Cuma nonton sama makan aja," ucap Arsy pelan. Iateringat Bimo yang sering mengajaknya ke tempat ini setiap malam minggu atau hari libur.
"Sama Bismo? Atau sama Wulan?" tanya Teddy mulai penasaran. Sedikit ada rasa cemburu di hatinya. Tapi yang membuatnya tenang adalah Arsy kini sudah menjadi tunangannya dan sebentar lagi akan menjadi miliknya.
Arsy hanya tersenyum tanpa menjawab. Sebagian isi tasnya di keluarkan agar tidak berat dan tas punggung itu di gendong.
Teddy paham. Arsy sedang tidak ingin membahas Bismo, kekasihnya itu. Lalu ia keluar dan menutup pintu mobilnya sambil mengunci mobil Arsy dengan remote mobil.
__ADS_1
Arsy brjalan di belkang Teddy, hingga membuat Teddy menarik tangan Arsy pelan dan menggandengnya erat.
"Pak ... Jangan begini. Saya kan pakai seragam putih abu, gak enak juga di lihat orang," ucap Arsy pelan dan melepaskan gandengan itu perlahan dari genggaman Teddy.
Teddy menoleh Arsy dan menarik kembali tangan kiri Arsy.
"Untuk apa takut? Untuk apa malu. Kita sudah bertunangan dan sebentar lagi menikah. Apa jangan -jangan kamu yang malu? Atau takut ketahuan kekasihnya?" goda Teddy pelan.
"Gak. Siapa yang punya kekasih. Arsy gak malu kok. Siapa bilang malu," jawab Arsy ketus tak mau kalah.
Arsy memang sedang ingin melupakan Bismo pelan -pelan atas perlakuannya tadi. Pergi diam -diam dengan Anisa, adik kelasnya. Lelaki yang sudah lama menjadi kekasihnya ini ternyata sedang di uji perasaannya. Mungkin awalnya Arsy merasa panas dan terbakar api cemburu. Namun, Wulan berhasil meredamkan itu semua. Wulan sanggup membuat Arsy tidak melabrak Bismo dan tetap diam menahan emosi dan amarahnya.
Teddy melirik dan menatap Arsy dari arah samping. Ucapan Arsy terlihat jujur dan apa adanya. Terkesan memang sedang marahan atau sedang dalam masalah hubungannya.
"Syukurlah sudah tidak punya kekasih. Sudah putus ya? Memang seharusnya begitu kan? Kan kamu sudah punya saya?" ucap Teddy dengan sedikit angkuh dan menahan senyumnya.
Arsy menatap Teddy dari arah samping dan berpindah menatap tangan kirinya yang masih di gandeng erat dengan Teddy.
"Dih ... Percaya diri banget sih? Arsy itu lagi gak pengen punya hubungan dnegan siapa pun. Pengen sendiri, pengen fokus sama ujian," jawab Arsy menjelaskan.
"Oke. Tunjukkan tempat makannya. Setelah ini kita nonton baru belanja. Kamu mau tetap pakai baju putih abu ini atau ganti pakaian?" tanya Teddy pelan.
"Biarkan saja begini. Lagi pula Bapak juga telihat rapi seperti guru. Arsy gak malu kok. Tenang saja," jawb Arsy meyakinkan. Arsy hanya berusaha mengikuti alur hubungannya dengan Teddy, tunangannya.
Tidak ada salahnya membuka hati di saat hati Arsy mulai hancur, terkikis dengan rasa percaya.
Keduanya di sudah berada di lantai empat. Lantai yang khusus menjajakan bnayak makanan dan biasa di sebut food court. Karena waktu sudah semakin siang keduanya langsung memesan makanan dan minuman sesuai selera. Bagi Teddy, ini pengalaman pertamanya jalan dengan seoarng gadis yang telah memiliki hubungan khusus dan serius.
"Makan duluan ya Pak?" ucap Arsy saat meliha mie aya bakso pesenannya sudah datang terlebih dahulu.
"Makanlah," jawab teddy sambil mengangguk kecil dan menyereput jus buah naga yang ada di meja.
Tanpa rasa malu, Arsy pun mulai menikmati mie ayam bakso yang sudah lama menjadi makanan kesukaannya selama ini.
"Soto ayam," jawab Teddy singkat dan sedikit dingin. Kedua matanya tidak terlepas dari layar ponselnya sejak tadi. Seperti ada sesuatu yang lebih penting isi dari ponsel itu.
Arsy hanya mengangguk -anggukkan kepalanya pelan, lalu melanjutkan menghabiskan mie ayam bakso itu.
Beberapa saat kemudian, semua pesanan sudah datang dengan lengkap. Makanan dan minuman yang ada di meja juga sudah di habiskan tanpa tersisa. Keduanya tidak banyak bicara, hanya sesekali saling melemparkan petanyaan yang di rasa perlu saja.
"Mau nonton apa?" tanya Teddy kemudian kepaa Arsy yang sedang menghabiskan minuman segarnya melalui sedotan besar.
"Apa ya, Pak? Arsy suka romance, action juga suka. Apa aja sih. Bapak suka apa?" tanya Arsy antusias.
"Kita lihat saja, nanti ada film apa saja," ucap Teddy yang masih terus fokus pada ponselnya. Sesekali mengernyitkan dahinya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Bapak lagi sibuk ya? Pulang saja dulu kalau memang masih ada kesibukan?" tanya ARsy pelan yang mulai jenuh berada di food court.
Teddy mengangkat wajahnya menatap calon istrinya yang masih belia dalam balutan seragam putih abu. Teddy menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak sibuk kok. Sebentar ya? Ada yang harus di urus sedikit. Kamu gak keberatan kan?" tanya Teddy lembut.
"Iya Pak. Gak apa -apa," jawab Arsy sambil melempar senyum terpaksa.
Tak lama, Teddy pun menutup layar ponselnya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Yuk? Maaf ya Sy, Kamu sudah menunggu lama?" ucap Teddy yang kemudian berdiri untuk menuju gedung bioskop.
"Gak apa -apa Pak. Bukankah, Arsy juga harus terbiasa dengan ini semua? KIta punya kesibukan yang berbeda. Bapak yang sudah berumur juga memiliki aktivitas dan pertemanan yang tentu tidak sama dengan Arsy," ucap Arsy tenang.
Arsy harus mulai membiasakan diri. Pergi dengan Teddy tidak mungkin sekali ini saja. Pasti ada waktu -waktu tertentu yang mereka akan terus berduaan. Itu juga kalau belum hamil dan punya anak. Apa? Hamil? Punya anak?
__ADS_1
"Arghh Tidak ...." teriak Arsy tiba -tiba sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat berjala tepat di samping Teddy.
"Kamu kenapa, Sy?" tanya Teddy panik. Teddy khawatir sesuatu terjadi pada Arsy. Karena Arsy tiba -tiba saja berteriak sedikit keras.
Arsy menoleh menatap Teddy. Lelaki di sampingnya ini sebentar lagi akan menjadi suaminya. Lalu, mereka akan berhubungan layaknya suami istri setelah SAH dan itu bisa membuat Arsy hamil dan melahirkan. Menjadi seorang ibu, sibuk di rumah, memaasak, mengurus rumah dan .... "Argh ... Tidak. Arsy belum siap," jawab Arsy dengan cepat sambil menggelengkan kepalanya.
"Sy? Kenapa?" tanya Teddy pelan. Teddy berhenti berjalan dan memutar tubuh Arsy. Menatap gadis belia itu yang nampak panik dan cemas.
"Arsy cuma takut. Sebenarnya Arsy tidak siap denagn pernikahan in. Arsy masih ingin kuliah, mengejar impian Arsy, bukan menikah begini," ucap Arsy pelan.
Teddy terdiam. Dirinya memang yang meminta Papah Arsy, melamar anak gadisnya karena rasa sayangnya. Kebetulan kedua orang tua mereka berteman hingga drama perjodohan itu di lakukan.
Tangan kanan Teddy semakin erat menggandeng Aarsy dan berjalan pelan menuju tempat nonton yang sejak tadi di inginkan keduanya. Teddy sengaja tak membahs, tak menjawab dan tak mau membuat Arsy semakin tertekan dengan pernikahan ini.
"Apa yang kamu takutkan Sy? Ada Saya yang akan terus menjaga kamu. Saya akan tetap membebaskan kamu, asal kamu tahu batasannya, itu saja," ucap Teddy pelan sambil berjalan menuju tempat yang mereka inginkan.
Arsy melirik sekilas ke arah Teddy. Sebelumnya ia berpikir, Tedy seorang laki -laki tua yang tak mengerti kehidupan anak SMA dengan seragam putih abu. Arsy salah, Teddy lelaki yang perhatian dan pengertian. Usia keduanya memang terpaut jauh, tapi Teddy mampu mengimbangi Arsy dengan baik. Tampangnya tidak memalukan saat di bawa jalan, bahkan banyak wanita melirik ke arah Teddy yang semakin lama malah terlihat tampan dan dingin.
Teddy tetap bersikap dingin tanpa menatap Arsy. Jujur, saat ini Teddy tidak tega juga melihat gadis kesayangannya itu sedih. Arsy memalingkan wajahnya lagi dan menatap lurus ke depan. Ia tahu, banyak orang sedang memperhatikan dirinya yang sedang bergandengan tangan dengan gurunya sendiri, mungkin orang -orang itu melihat ARsy sedang berjalan dengan om -om.
"Pak?" panggil Arsy pelan.
"Apa?" jawab Teddy lembut.
"Banyak orang melihat ke arah kita Pak. Karena kita bergandengan tangan. Arsy pakai puti abu, dan Bapak pakai pakaian kerja seperti ini. Kesannya, Arsy sedang jalan sama om -om ya? Pasti mereka akan berpikir buruk pada Arsy," ucap Arsy pelan.
Ha ha ha ... Sontak ucapan polos Arsy membuat Teddy tertawa.
"Kamu masih peduli perasaan orang. Tapi orang -orang itu tidak peduli dengan perasaan kamu, Sy. Biarkan saja, orang berpikir sesuai kemauan hatinya. Mereka tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi denagn kita, karena mereka tidak pernah mengenal kita." tegas Teddy.
Teddy berjalan menuju tempat pemesanan tiket nonton. Ia melihat banner dan menatap satu per satu film layar lebar yang akan tayang siang ini.
"Nonton itu saja ya? Romantis, suka kan?" tanya Teddy kemudian yang mendapatkan anggukan kecil dari Arsy.
Teddy punlangsung membeli dua tiket nonton dan mengajak Arsy membeli makanan ringan untuk di bawa ke dalam dan masuk ke ruangan gelap khas bioskop itu.
"Duduk di mana Pak?" tanya Arsy pelan sambil membawa pop corn besar di tangannya.
"Di sana pojok kayaknya," ucap Teddy pelan.
Keduanya duduk dan menunggu film di putar. Arsy mulai berai bertanya beberapa hal yang bersifat privasi kepada Teddy.
"Bapak dekat sama Tita? Ekhem maksud Arsy, dekat sama Tita?" tanya Arsy yang sebearnya penasaran sejak di kelas tadi.
"Tita?" Teddy meyakinkan pertanyaannya kembali kepada Arsy.
"Iya, Tita?" jawab Arsy pelan.
"Teman se -kelas kamu?" Teddy makin menggoda Arsy yang masih nampak tenang.
"Iya Pak," jawab Arsy mulai sedikit kesal.
"Yang cantik itu kan? Idaman para cowok -cowok satu sekolah?" tanya Teddy makin membuat Arsy memanas.
"Iya Pak, Tita? Bapak kenal sebelumnya?" tanya Arsy pelan penasaran.
"Sebenarnya tidak hanya kenal. Kita pernah jalan bareng gak sengaja," ucap Teddy jujur.
"Apa jalan bareng?" jawab Arsy agak meninggi.
Ars mengerjapkan kedua matanya tak percaya. Teddy tidak hanya jaln besamanya, bahkan pernah jalan baeng juga dengan Tita, teman se -kelasnya.
__ADS_1
"Siang Pak Teddy? Eh Kok ada kamu Sy?" tanya Tita yang menatap tajam ke arah Arsy.
Teddy tak kalah kaget mendapat sapaan lembut dari muridnya dan menatap tak suka pada Arsy, yang sebenta lagi akan menjadi istrinya itu.