
Kini giliran kelas Arsy dan wulan yang di kumpulkan di aula besar. Semua siswa dan siswi satu hampir satu angkatan itu memenuhi ruang aula itu.
"Arsy mesti gimana?" tanya Arsy berusaha tenang. Namun degub jantungnya sama sekali tak berpihak pada dirinya. Detak jantungnya begitu keras dan terasa sesak di dada Arsy.
"Ini buat kamu. Pindahkan itu ke wadahnya nanti. Masukkan ke kantong saku kemeja kamu, dan tutupi dengan uang," titah Wulan pelan.
Tadi pagi saat Wulan masuk ke gerbang sekolah. Ia melihat beberapa tenaga medis yang sedang mempersiapkan wadah urine dan beberapa alat tes, termasuk alat tes kehamilan di sana.
Wulan sempat mendekati beberapa tenaga medis itu dan bertanya, apakah ada acara penting di sekolah. Namun, mereka menjawab akan ada pemeriksaan urine.
Wulan bergegas menuju toilet dan kebetulan saat itu ia ingin membuang air kecil. Airseni itu snegaja di masukkan ke adalam plastik bening dan ia simpan untuk Arsy nantinya. Karena Wulan tahu, Arsy sedang hamil.
"Wulan? Kamu sudah persiapkan semuanya?" tanya Arsy dengan tatapan sendu. Sahabatnya itu benar -benar baik. Selalu ada dalam suka dan duka.
__ADS_1
"For you, Arsy. Kamu selalu baik buat aku. Tidak ada salahnya di saat genting begini, aku juga membantumu. Ini gunanya sahabat kan?" ucap Wulan lirih sambil memeluk Arsy dengan erat.
Hari ini memang awal bagi Wulan setelah ia lama beristirahat di rumah karena keguguran. Selama ini, Pak Teddy selalu mensupport Wulan untuk tetap survive mengejar impiannya.
Wulan sempat tak percaya diri dan ingin bunuh diri dengan cara loncat dari kamar rawat inapnya.
"Semuanya!! Silahkan duduk dengan rapi dan maju satu per satu untuk mengambil wadah. Lalu masuk ke dalam kamar mandi yang sudah di persiapkan," ucap Kepala sekolah yang di temani oleh Bu Lina.
Satu per satu murid pun keluar dari ruangan denagn membawa wadah urine dan masuk ke adalm toilet sesuai dengan jenis kelaminnya.
Tiba saatnya Arsy yang maju terlebih dahulu. Ia menerima wadah urine yang di berikan oleh salah satu tenaga medis itu dan berjalan keluar ruang aula. Di sana sudah ada Bu Lina yang menatap Arsy dengan tajam.
Saat Arsy melewati Bu Lina, ia sengaja membalas tatapan Bu Lina.
__ADS_1
"Semoga kamu bisa melewati tahap ini, Arsy," bisik Bu Lina dengan nada mengejek.
Arsy tak menjawab. Ia hanya membalas tatapan tajam yang nyinyir itu. Ia tak lagi pusing memikirkan hal yang akan terjadi. Namanya juga kehidupan. Pasrahkan saja semuanya.
Saat berada di dalam toilet. Arsy sengaja membuka toilet duduk dan duduk di sana lalu membuka wadah urine itu. Dengan cepat Arsy membuka kantong plastik dan menumpahkan isinya ke adalm wadah urine dan membuat plastik itu ke dalam tempat sampah.
Tangan Arsy langsung memencet air penyiram agar terdengar sedang buang air kecil dan keluar dari toilet dengan perasaan tenang..
Sikapnya begitu santai. Seolah semuanya akan baik -baik saja. Wadah urine itu lalu di berikan kepada tenaga medis dan di beri nomor urut, nama dan kelas.
"Boleh kembali ke kelas," titah tenaga medis itu pelan.
Arsy hanya mengangguk pelan dan berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya. Degub jantungnya mulai tak karuan lagi. Kedua matanya mulai tak fokus dnegan jalan yang di lewati hingga ada seseorang yang menutup mulutnya dan menariknya masuk ke dalam ruangan yang sangat gelap.
__ADS_1