
Bagi pasangan pengantin baru. Waktu lima menit itu begitu berarti sekali untuk bisa tancap gas. Bukan hanya untuk sebuah kepuasan atau kenikmatan atauuntuk sebuah benih. Tapi, lebih pada memang mereka menginginkan hal itu bisa terjadi kembali dalam waktu yang singkat.
Hanya teriakan kecil dan manja Arsy yang membuat Teddy berani melakukan itu kembali dnegan istri labilnya.
Tepat jam tujuh lewat lima menit Arsy dan Teddy datang ke sekolah. Terlamabat lima menit. Semua siswa sudah berkumpul di halaman sekolah dan berbaris rapi mendengarkan instruksi dri kepala sekolah dan seksi acara yang tak lain adalah Bu Lina.
Arsy mencium punggung tangan Teddy dengan cepat, lalu buru -buru turun dari mobil itu. Rambutnya sengaja di gerai karena masih basah. Pagi ini ia harsu keramas dua kali, dan ini semua karena aktivitas yang tiba -tiba seperti serangan mendadak dari Teddy. Memang tidak memerlukan waktu yang lama, tapi mandi dan keramas membutuhkan waktu yang tidak sebentar sampai harus terlambat sampai di sekolah.
Semua siswa dan para guru yang akan ikut sebagai pembimbing pun menatap Arsy yang datang terlambat dan menatap Teddy yang berjalan dengan tenang, menuju arah depan untuk memberikan sedikit nasihat untuk anak didiknya.
Arsy berlari kecil dan masuk ke dalam barisan menyatu dengan teman -temannya.
"Masih saja telat? Padahal sudah sama pawangnya," ucap Bismo ketus.
Arsy menoleh ke arah Bismo. Mimik wajah Bismo memperlihatkan rasa tidak suka kepada Arsy.
"Kenapa? Kan gak ada masalahanya sama kamu, Mo? Arsy yang telat, kenapa kamu yang ribet sih," tanya Arsy ikut kesal seketika.
Ucapan Bismo malah membuat moodnya buruk. Sudah terburu -buru, sarapan gagal, jantung masih lari -larian. Ini malah dapat omelan gak jelas.
Bismo hanya menatap Arsy dari samping. Iamenatap mantan gadis kesayangannya itu dari bawah kaki sampai ke ujung kepala.
Arsy mulai risih dnegan tatapan Bismo ia berjalan ke depan meninggalkan lelaki yang menurutnya semakin aneh.
"Wulan ...." panggil Arsy pelan.
"Hei ... Aku tunggu dari tadi. Telat?" tanya Wulan setengah berbisik dan menarik tangan Arsy lalu berdiri berdempetan.
"Ada masalah dikit di apartemen," ucap Arsy pelan dengan pandangan tetap ke depan.
Wulan pun menoleh ke arah Arsy dan menatap lekat wajah Arsy. Binar bahagia yang terpancar dari kedua matanya terlihat berbeda, dan napasnya sedikit tersengal seperti sedang kelelahan.
"Masalah apa?" tanya Wulan mulai penasaran. Ingin rasanya menggoda Arsy dan membuatnya malu setengah mati.
"Ya masalah bangun pagi. Kamu tahu kan? Arsy itu paling gak bisa bangun pagi," ucap Arsy lirih.
"Oh ... Bangun pagiy ang membuat rambut selalu basah? Gitu?" tanya Wulan sedikit nyinyir menggoda.
"Ihh ... Apaan sih, Lan," jawab Arsy cepat dengan wajah yang memerah.
__ADS_1
"Masih malu? Itu kan normal Sy," ucap Wulan sambil tersenyum.
Keduany tidak menyimak instruksi guru pembimbing di depan dan malah asyik mengobrol, saling menggoda dan tertawa terkekeh.
"Arsy!!" teriak Bu Lina dengan toa hingga suara itu menggelegar di seluruh barisan anak didik.
Wulan pun menyenggil lenagan Arsy dan Arsy menatap lekat ke depan. Tatapan Bu Lina begitu tajam dan lekat.
"Saya di depan memberikan instruksi penting yang boleh dan tida boleh kalian lakukan selama berada di Bali. Tapi kamu sejak tadi tidak sedikit pun memperhaikan saya!! Kamu paham dengan situasi di sana?" tanya Bu Lina ketus. Terlihat jelas ada masalah pribadi di antara keduanya.
Teddy pun menatap Arsy yang memang sejak tadi asyik bicara sendiri pun ikut kesal. Minimal menghargai guru yang sedang berbicara di depan.
Arsy diam dan tetap menatap ke arah Bu Lina yang ada di depan.
"Coba kamu jelaskan. Apa saja yang saya jelaskan sejak tadi!!" teriak Bu Lina dengan geram.
Arsy masih diam membeku di tempatnya. Bismo, sebagai ketua OSIS dan sebagai ketua koordinator untuk acara study tour ini pun berinisiatif maju ke depan dan berjalan melewat Arsy. Bismo menggandeng Arsy dan menarik gadis itu menuju tempat Bu Lina berdiri.
Semua siswa terdiam menatap keberanian Bismo dan Arsy. Mereka memang tahunya Arsy adalah kekasih Bismo. Jadi, tidak ada yang aneh, mungkin ini cara Bismo ingin melindungi kekasihnya, begitu kira -kira anggapan teman -teman se -angkatannya. Wulan hanya tersenyum melihat keduanya dan kini tatapannya beralih pada Teddy, sebagai suami SAH Arsy. Teddy mengeratkan kepalanya menahan kesal. Mana ada lelaki yang mau berbagi. Melihat istrinya di gandeng dengan begitu mesra oleh mantna kekasihnya yang memang belum bisa saling move on.
"Kamu mau jadi pahlawan kesiangan?" tanya Bu Lina ketus.
"Saya hanya ingin membantu sahabat saya. Lagi pula, saya ikut bertanggung jawab atas semua teman -teman saya," jawa Bismo pelan.
"Bu Lina. Lebih baik lanjutkan pembagian bis nya saja biar lebih cepat. Nanti masing -masing guru pendamping di dalam bis yang bertanggung jawab atas anak didiknya dan memberikan bekal nasihat selama di dalam perjalanan.
Teddy sengaja diam dan tidak mau ikut campur. Ia hanya tidak ingin memperkeruh masalah. Apalagi tadi malam jelas sekali Bu Lina itu sangat kecewa pada dirinya dan kini pelampiasannya ada pada Arsy yang dnegan lantang ia akui sebagai tunangannya.
Bu Lina pun menuruti ucapan Kepala Sekolah. Ia langsung membacakan pembagian bis berdasarkan kelas masing -masing.
"Silahkan masukkan barang-barang kalian di bagasi bis. Baca baik -baik, kalian mendapat bis nomor berapa," ucap Bu Lina denagnsuara lantang.
Semua murid berteriak serempak menjawab siap. Suasana halaman sekolah pun menjadi riuh. Semua murid kelas tiga sibuk membawa koper -koper mereka menuju bis yang sesuai dengan kelasnya masing masing. Bismo dan Arsy masih berdiri tegak. tangan Arsy pun masih erat di gandeng oleh Bismo.
"Sy .... " panggil Bismo lirih. Pandangan Bismo lurus ke depan menatap semua teman -temannya yang sibuk mencari bis dan naik ke dalam bis untuk mencari bangku.
"Ya ...." jawab Arsy lembut. Getaran rasa sayang itu masih ada pada keduanya. Arsy memang sudah menikah, Arsy juga berusaha mulai mencintai Teddy. tapi mungkin lubang -lubang hatinya masih tersisa rasa sayang untuk Bismo.
Kedekatan mereka sejak awal masuk sekolah. Dan, merekaresmi pacaran sejak kelas dua hingga mereka harus putus atas permintaan Papah Arsy.
__ADS_1
"Aku ... emm ... aku ... masih sayang sama kamu, Sy. Aku cemburu lihat kamu datang berdua dengan Pak Teddy, apalagi rambut kamu selalu basah setiap pagi," ucap Bismo lirih.
Kedua mata ARsy terbelalak mendengar ucapan Bismo yang polos dan jujur itu. Ia tak menyangka Bismo masih sayang pada dirinya. Padahal ia sudah akan menikah dengan Wulan.
"Maafin aku, Sy," ucap Bsimo kemudian.
"Soal apa?" tanya Arsy pelan.
"Selama ini aku bikin cemburu kamu. Tapi, kayaknya kamu sudah gak ada perasaan cemburu lagi kayak dulu," ucap Bismo pelan.
Arsy memberanikan diri menoleh ke arah Bismo yang berdiri di sampingnya. Pandangannya berpindah mengarah pada tangganya yang masih di gandeng erat oleh Bismo.
"Kamu gak tahu yang sebenarnya. Arsy nangis. Tapi ... Arsy sudah menikah, Mo," ucap Arsy lirih.
Bukan melpaskan eratan pada tangan Arsy. Bsimo malah semakin erat menggenggam gadis kesayangannya itu.
Bismo tertawa sinis.
"Menikah? Itu hanya suatu kebodohan. Hati yang bicara Sy," ucap Bismo ketus.
Memang benar kata orang tua. Kebersamaan itu adalah proses, kita akan tambah sayang dan merasa terabaikan di saat kita mulai kehilangan orang yang kita sayangi.
"Kamu bicara apa sih, Mo? Makin lama makin gak jelas. Arsy mau naik ke bis," ucap Arsy pelan.
Bismo hanya diam dan tidak melepas genggaman itu. Dari kejauhan, Teddy masih menatap kesal pada Bismo.
"Aku antar," tegas Bismo yang masih menggandeng erat tangan Arsy dan membawakan koper Arsy menuju bis pariwisata.
Bismo memasukkan koper ke damalm bagasi bis yang ada di bawah. Tas kecil dan tas selempang itu sudah di tenteng oleh Arsy. Saat Arsy naik ke dalam bis. Semua tempat duduk sudah terisi penuh.
Kapasitas penumpang dalam bis hanya empat puluh lima orang. Jumlah siswa di kelas Arsy ada empat puluh empat orang di tambah guru pembimbing dua di dalamya
"Arsy ... Kamu pindah ke bis terakhir saja. Di sana memang untuk sisa murid yang tidak mendapatkan tempat duduk," ucap guru pendampin yang bertugas mendampingi kelasnya.
"Ohh ... Gitu ya Bu. Baik Bu," jawab Arsy pelan. Ia segera turun kembali dari bisnya.
"Sy ... Maaf ya. Tadi sudah ku siapkan tempat ini, tapi Bu Erna bilang karena kamu belum datang, kamu yang harus di pindah ke bis terakhir," ucap Wulan pelan. Ia merasa bersalah.
"Iya gak apa -apa Lan. Kamu baik -baik ya," ucap Arsy mengingatkan. Wulan mengangguk kecil. Padahal ia dan Arsy sudah banyak berkeinginan jika satu tempat duduk apa yang ingin mereka lakukan.
__ADS_1
"Ayo Sy. Ke Bis terakhir. Aku juga di sana, kita duduk bersama," ucap Bismo mengulum senyum.
Akhirnya ia bisa kembali bersama dengan Arsy secara tidak sengaja. Bismo hanya berharap semoga Pak Teddy tidak berada di bis yang sama.