Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
HALUSINASI


__ADS_3

Mama Tina pun berjalan menghampiri Arsy. Melihat menantunya yang berharap Teddy datang juga membuat hatinya sakit bagai tertusuk jarum. Ia lagsung memeluk Arsy dengan sangat erat.


"Arsy, Sayang. Mama tahu ini semua berat untuk kamu. Tapi Mama selalu berusaha membuat kamu lupa dengan semua kesediahan kamu dan masalah yang saat ini sedang menguji keluarga kita," ucap Mama Tina pelan.


Pelukan tulus itu begitu terasa nyaman. Rambut Arsy juga di usap pelan oleh Mama Tina.


"Maksud Mama, gimana? Arsy kok gak paham?" tanya Arsy pelan sambil melepas pelukan itu dengan paksa.


Mama Tina tetap berusaha tenang dan tersenyum. tangan Arsy tetap di genggam erat.


"Ekhemm ... Papah Baron pulang sendiri dengan asistennya ...." ucapan Mama Tina sengaja di gantung. Arsy masih menatap lekat kedua mata wanita paruh baya yang telah menjadi mertua kesayangannya itu. Arsy berharap ucapan Mama ada kelanjutannya.


"Terus?" tanya Arsy penasaran.


"Ekhemmm ... Tidak ada Teddy, Sy. Teddy tidak di temukan," ucap Mama Tina menahan suaranya yang parau dan bergetar. Ia sebagai ibu sudah pasrah, sudah ikhlas dan tidak mua menunjukkan kesedihan itu kepada Arsy mennatunya.


Kedua mata Arsy pun membola dan menatap tajam ke arah Mama Tina. Otaknya mulai terhenti berputar untuk berpikir jernih. Arsy gagal paham.


"Apa maksudnya? Arsy gak paham," ucap Arsy jujur.


Detak jantungnya semakin berdegup keras. Hatinya terasa tertusuk jarum yang dingin. Nyeesss banget rasanya.


"Teddy sudah di anggap hilang. Teddy di anggap mati karena tidak di temukan tubuhnya. Ia benar -benar menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat yang tak kembali," ucap Mama Tina pelan. Mama Tina menarik kembali tubuh Arsy dan memeluk erat menantu kesayangannya yang sedang mengandung itu.


"Kenapa sih, kamu gak pulang Mas? Kenapa gak pulang bareng Papah Baron. Papah kan sudah jemput kamu," ucap Arsy pelan. Air matanya sudah mulai kering. Kesedihannya sudah tak basah lagi, hanya terasa sesak dan tatapannya semakin kosong. Pikirannya kalut dan buyar membayangkna selamanya ia harus hidup sendiri tanpa Teddy. Lalu? Anak kembar ini? Bagaimana nasibnya?


Skip ...


Satu bulan sudah berlalu. Arsy mulai terbiasa melewati semuanya dengan baik. Walaupun Arsy masih suka menyendri dan memegang foto Teddy dan menciuminya sebagai tanda rindunya.

__ADS_1


Kandungannya pun semakin baik -baik saja. Arsy sudah berubah. Ia mulai memakai pakaian panjang dan berhijab. Ada alasan kenapa Arsy memakai pakaian itu, selain untuk menjada dirinya dari lelaki yang ingin mendekatinya dan alasan lain untuk menutupi kandungannya yang sedikit mulai membuncit.


Satu bulan lagi mereka akan menghadapi ujian akhir nasional. Beberapa ujian praktek sudah mereka lewati termasuk uji coba ujian nasional yang di adakan di sekolah.


Wulan selalu setia mendampingi Arsy, sampai -sampai latihan drama pun, Wulan tetap menemani.


"Lan ... Kamu mau tengok Papa, kamu?" tanya Arsy pelan saat mereka menikmati batagor di meja kantin sekolah.


"Ho oh. Tapi loe kan mau latihan? Masa, iya gue tinggal?" ucap Wulan dengan mulut penuh dan mengunyah.


"Ya kan Arsy latihan. Kamu sama Pak Parjo ke kantor polisi. Nanti, Arsy jemput lagi dong," ucap Arsy dengan suara datar. Mimik wajahnya pun sekarang lebih terlihat santai daan tak seceria dulu.


Wulan bisa maklum dnegan keadaan Arsy yang mungkin masih mengingat kejadian buruk itu.


"Iya Arsy. Berarti gue ma supir loe pergi ya. Loe jangan kemana -mana. Inget!!" titah Wulan tegas.


"Iya gak," jawab Arsy pelan.


"Oh ya? Kalau cuma tiga hari untuk apa? Arsy mau ke London. Mungkin setelah ujian saja, biar agak lama. Lagi pula kalau sudh selesai ujian kan gak ada beban," jawab Arsy pelan.


"Bener juga sih," ucap Wulan pelan.


Suasana sekolah saat ini sudah tidak seperti dulu lagi. Dulu, Arsy paling suka berangka sekolah, menunggu jam istirahat dan bergegas antri makanan di kantin. Itu sebuah keseruan yang gak bisa di lupakan.


Sudah lelah antri, malah tumpah makanannya kaena tidak hati -hati. Sudah antri pnjang, ternyata dompetnya tertingggal di kelas. Mau ngakak tapi kok ngenes karena itu suatu kebodohan yang paling hakiki.


Cerita indah akan selalu terukir di bangku sekolah. Seragam putih abu mejadi saksi bisu kenakalan remaja yang sedang mencari jati diri. Mungkin bukan hanya Arsy hanyayang memiliki sebuah cita dan menyembunyikan statusnya sebagai istri seorang guru di sekolah yang sama.


Tapi ... Cerita itu harus berakhir karena kejadian yang mengenaskan. Tatapan Arsy kosong menatap ke arah tangga. Di sana adalah tangga kenangan. Mulai dari kenangannya bersama Bismo, kenangannya bersama Teddy bahkan kenangan buruk bersama Tono yang telah mnarik tubuhnya hingga terjatuh ke bawah.

__ADS_1


Hubungannya dengan Tono, kini keduanya mulai menjauh satu sama lain. Arsy yang terpuruk karena kejadian Teddy pun mulai membatasi diri dekat dengan semua teman -temannya. Ia hanya dekat dan selalu bersama dengan Wulan.


Tiba -tiba Arsy tersenyum kearah tangga. Senyumannya begitu manis dan lebar. Kedua matanya begitu berchaya dan berbinar indah. Wulan menatap Arsy dengan aneh dan ikut menoleh ke arah tangga yang terlihat kosong dan tak ad siapa -siapa.


"Sy ... Arsy ...." panggil Wulan pelan sambil mengibaskan tangannya di depan mata Arsy.


Arsy tak merespon. Ia tetap fokus dengan apa yang di tatapnya sekarang. Arsy pun bangkit berdiri dan berjalna plean menuju arah tagga itu.


Wulan pun dnegan cepat berdi dan emgikuti Arsy, sahabatnya. Daya halunya begitu kuat. Ia takut sesuatu bakal terjadi pada Arsy.


Sesampai di tangga Arsy berdiri dan seolah sedang berbincang sambil menaglungkan tangannya ke depan seperti sedang memeluk seseorang dan Wulan pun menepuk bahu Arsy dengan pelan.


"Sadar Sy ... Gak ada siapa -siapa," ucap Wulan mengingatkan.


Kedua mata Arsy langsung menatap Wulan.


"Ini Mas Teddy datang," teriak Arsy keras.


Beberapa teman melihat kedua sahabat itu berdebat.


"Sadar Sy. Pak Teddy sudah gak ada!!" ucap Wulan tak kalah keras.


"Kamu gila Lan. Mas Teddy di depan kita ini. Mas ... tuh denger kan. Wulan aja fk pernah percaya kalau Mas Teddy itu nyta dan ada di sini," ucap Arsy pelan.


"Arsy!! Ayok kita ke kelas!! Gak usah nge -halu aja," titah Wulan sambil menarik tangan Arsy dan menaiki tangga menuu kelasnya.


"Gak mau. Mas ... Mas Teddy .... Tolong Arsy, Mas ...." teriak Arsy memohon pada Teddy.


"Ayok Sy. Pak Teddy itu gak ada!!" teriak Wulan dengan kesal setelah sampai di koridor lantai dua.

__ADS_1


Arsy hanya diam. Bentakan Wulan beberapa kali membuat Arsy termenung. Sosok lelaki tadi mirip sekali dengan Teddy. Mirip sekali dan bahkan tidak ada bedanya sama sekali. Tadi nyata. Arsy bisa memeluk Teddy bahkan tadi Teddy ingin mencium pipinya karena rindu.


__ADS_2