Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
NANTI COBA TEST


__ADS_3

Makan malam kali ini mereka berada di daerah Sidoarjo. Arsy dan Wulan sudah duduk di salah satu meja makan. Teddy meminta ijin untuk berkumpul dengan guru -guru pendamping lainnya dan berada dalam satu meja besar.


"Makan kamu banyak juga ya, Lan? Apa itu efek dari hamil?" tanya Arsy mulai penasaran.


"Kayaknya iya deh. Kamu tahu kan, aku kalau makan gimana? Terus sekarang tuh, malah makanan yang dulunya gak aku suka, sekarang jadi suka," ucap Wulan sambil tertawa.


"Oh ya? Berarti kamu doyan pare sekarang?" tanya Arsy pelan sambil menyuapkan satu sendok makanannya ke dalam mulut.


"Iya doyan banget. Apalagi pakai bumbu siomay Mang Kosim hemmm endul banget," ucap Wulan penuh kenikmatan.


"Segitunya Lan?" ucap Arsy merasa aneh.


"Memang begitu. Orang hamil itu bisa tiba -tiba bahagia dan bisa tiba -tiba sedih hanya karena hal -hal kecil, Sy. Nanti kalau kamu hamil, kamu pasti ngerasain," ucap Wulan pelan.


"Gitu? Rasanya hamil gimana?" tanya Arsy pelan. Ia mencoba memahami betul apa yang di katakan Wulan. Siap tidak siap, suatu hari nanti Arsy juga akan hamil dan mengalami sama persis yang di alami oleh Wulan.


"Apa ya? Kalau awal dulu sih lebih mual, eneg, perut rasanya kembung gitu. Kalau sekarang sudah jalan dua bulan tuh lebih yang menikmati aja. Cuman kalau capek, perut suka sakit," ucap Wulan pelan.


"Hemm ... Sabar ya Lan," ucap Arsy menyemangati.


"Kalau gak sabar aku udah bunuh bayi ini. Aku jalani kok. Masalah Bismo juga aku lebih santai. Kalau memang orang tuanya tidak merestui, ya aku gak bisa berbuat apa -apa kan? Aku gak mau nyuruh Bismo juga jadi anak yang durhaka. Lagi pula, bayi ini juga bukan anaknya. Ini hanya takdir," ucap Wulan pelan.


"Arsy yang punya suami saja, was -was mau hamil," ucap Arsy pelan.


"Was -was gimana? Takut gitu?" tanya Wulancepat.


"Iya ... Takut. Padahal Bunda tiap malam chat Arsy. Layani suami kamu. Gak perlu malu, gak usah takut kalau memang hamil. Toh, kamu punya suami. Masalah pendidikan, bisa mengikuti yang penting kodrat kamu sebagi wanita dan sebagai istri harus kamu lakukan," ucap Arsy yang mengulang kembali pesan Bunda setiap malam kepada dirinya.


"Iya lah. Apa yang harus kamu khawatirkan. Bisa jadi mamah muda," uca' Wulan tertawa.


"Usia anak kita nanti gak jauh berbeda dong?" ucap Arsy tertawa.


Wulan mengangguk kecil lalu menghabiskan seluruh makanan yang tadi di ambilny.


Teddy tiba -tiba datang dan memberikan susu putih kepada Arsy dan Wulan.


"Ini untuk kamu, Lan. Ini susu hamil. Dan ini untuk istriku. Minum ya? mas masih ada brifing karena sebentar lagi mau naik kapal, jadi harus benar -benar di pantau anak -anak didiknya," ucap Teddy pelan.


Sambil bicara Teddy mengusap pucuk kepala Arsy lembut.


"Iya Mas," jawab Arsy lembut.


"Kalau sudah selesai naik langsung naik ke bis saja. Mas ke sana dulu ya. Wulan ... Titip Arsy," titah Teddy pelan.


"Siap Pak," jawab Wulan dengan senyum.


"His ... Emang tawanan harus di jaga. Udah sana kumpul sama Bu Lina," ucap Arsy yang cemburu.


"Kok Bu Lina sih? Itu semua guru pada kumpul, bukan cuma Bu Lina. Suka gitu deh. marah -marah gak jelas," ucap Teddy pelan.


"Bodo. Udah sana pergi," ucap Arsy kesal.

__ADS_1


Teddy malah tak jadi pergi dan dduduk di salah satu kursi yang masih kosong sambil menatap Arsy.


"Kok malah duduk. Katanya mau pergi?" tanya Arsy kesal tapi mengulum senyum.


Entah kenapa ia kini sedang tidak ingin jauh -jauh sama Teddy. Maunya duduk di dekat Teddy. Mencium aroma tubuh lelaki itu membuat Asry menjadi tenang.


"Mas mau lihat kamu habiskan susunya," ucap Teddy tegas sambil menunggu susu putih itu di minum," ucap Teddy pelan.


"Nanti Arsy minum Mas. Perut Arsy rasanya mau meledak ini, sudah penuh dan kekeyangan," cicit Arsy memohon.


"Udah Mas tungguin," ucap Teddy tegas.


"Mas ... Udah tinggal aja. Itu gak enak di lihatin sama guru -guru pendamping yang lain. Nanti di kira kita ada skandal apa?" ucap Arsy yang merasa kurang nyaman dengan lirikan mata para guru yang mengarah kepada drinya.


"Katanya gak malu mengakui hubungan ini?" tanya Teddy yang membalikkan ucapan Arsy tadi sewaktu berada di Bis.


"Emang gak malu. Tapi kalau di perhatiin gitu kan lama -lama Arsy juga risih," ucap Arsy pelan.


"Jadi mau di akui atau gak? Memang buktinya kita ada skandal," ucap Teddy pelan.


"Iya skandal ciuman bibir di Bis. Bisa -bisanya," celetuk Wulan sambil mengulum senyum dan menatap ke arah lain.


Wulan tahu sebentar lagi arsy pasti malu bukan kepalang. Dan benar saja, Arsy melotot ke arah Wulan dan wajahnya mulai berubah warna menjadi merah seperti kepiting rebus.


Teddy hanya tersenyum girng di dalam hatinya. Ia mencoba bersikap tenang seolah -olah tidak tejadi apa -apa. Apa yang harus di permasalahkan. Tinggal mengakui di muka publik.


"Wulan? Apa -apaan sih? Siapa juga yang ciuman?" ucap Arsy berbohong untuk membela diri.


"Mas Teddy ...." teriak Arsy yang sudah mali.


Teddy hanya diam dan berdiri lalu pergi meninggalkan Arsy yang nampak kacau. Tiba -tiba Teddy membalikkan tubuhnya dan menatap Arsy.


"Love u, Sayang," ucapnya setengah berteriak. Ia kembali memutar tubuhnya. Tangannya di masukkan ke dalam kantong celanany.


"Pak Teddy itu memang romantis ya? Peduli, perhatian dan sayang. Tapi ... percuma mengangumi punya orang," ucp Wulan lirih.


Arsy menatap tajam ke arah Wulan.


"Gak usah macem -macem deh, Lan," ucap Arsy pelan. Ia menghabiskan susu putih itu yang mulai mendingin.


"Lho ... Memang itu kan faktanya. Kamu itu beruntung Sy dapat lelaki sebaik Pak Teddy. Kalau aku jadi kamu, aku mau mengakui di muka publik. Minimal kita ada hubungan atau sudh bertunangan. Kalau kita mengakui suami -istri mungkin akan ada masalah besar," ucap Wulan menjelaskan.


"Ekhemmm ... Iya sih. Tahu gak ... beberapa hari ini, Arsy ngerasa aneh sama diri Arsy. Kayak maunya deket terus sama Pak Teddy. Kalau di tinggalkan tuh kayak gimana rasanya, belum lagi lihat Pak Teddy harus berurusan sama Bu Lina kayaknya tuh kesel banget, cemburu gitu" ucap Arsy pelan. Ia meletakkan gelas kosong seusai meminum susu hingga habis.


"Jangan -jangan kamu hamil Sy? Soalnya kalau punya hal -hal aneh gitu namanya ngidam. Dan itu salah satu cirinya, kayak aku dulu," ucap Wulan menjelaskan.


"Memang kamu dulu gimana?" tanya Arsy mulai panik.


"Kalau aku dulu, gak suka bau masakan. Makanya dulu kamu kalau ajak aku ke kantin selalu malas, lebih suka beli cemilan yang tidak ada bau menyengat," ucap Wulan mencona mengingatkan.


"Oh gitu ya?" ucap Arsy lirih.

__ADS_1


"Terakhir haid kapan? Sebelum kamu nikah kan?" tanya Wulan mencoba mengingatkan.


"HAid terakhir itu, pas mau nikah. Satu hari sbeelum nikah kayaknya," ucap Arsy mencoba mengingat kembali. Ia samar juga karena lupa -lupa ingat gitu.


"Terus, kamu berhubungan kapan?" tanya Wulan penasaran.


"Pertama kali sih,minggu kemarin. Sejak pindah ke apartemen," jawab Arsy jujur.


"Terus kapan lagi?" tanya wulan kembali.


"Terus kemarin baru hubungan lagi," ucap Arsy mencoba ikut mengngat.


Wulan nampak serius sekali menghitung masa subur Arsy.


"Kamu melakukan pertama itu pas masa subur Sy. Itu artinya, kemungkinan besar benih itu jadi pembuahan," ucap Wulan menjelaskan.


"Usia pernikahan aku baru sebulna lho Lan," ucap Arsy pelan.


"Tapi kan haid itu seharusnya maju minimal akan maju lima hari dari tanggal dapat kamu di bulan lalu. Saran aku sih, coba kamu cek saja, biar gak penasaran," ucap Wulan sambil tertawa.


"Kok malah ketawa sih? Emang lucu? Gak tahu Arsy lagi panik dan cemas gini?" ucap Arsy yang merasakan tegang di sekujur tubuhnya.


"Kenapa harus cemas sih? Di bawa santai aja. Punya suami kok bingung? Aku aja yang gak ada suaminya, santai," ucap Wulan mencoba membuat Arsy tennag dan membesarkan hatinya.


Wulan hanya ingin Arsy bisa menerima kenyataan kalau memang benar Arsy hamil secepat ini.


"Belum siap Lan. Kamu ngerti kan?" ucap Arsy pelan.


"Kamu pikir aku siap Sy?" tanya Wulan kepada Arsy.


Arsy menatap Wulan sendu. Salah sepertinya kalau ia menceritakan keluh kesahanya kepada Wulan. Karena Wulan adalah wanita yang tangguh dan sangat kuat.


"Maaf Lan," jawab Arsy lirih.


"Gak apa -apa. Aku cuma ingin kamu bisa ikhlas menerima kalau memang kamu hamil. Itu saja. Nikmati semua prosesnya dan itu menyenangkan. Aku pun begitu. Setiap malam, aku usap sendiri perutku dan mengaaknya bicara. Walaupun baru usia dua bulan dan sama sekali belum terlihat wujudnya, setidaknya di dalam perut ia sudah bernyawa da kita wajib menjaganya dengan baik," ucap Wulan dengan bijak.


Wulan memang nampak lebih dewasa saat hamil ini. Semua keputusan selalu di pikirkan dengan matang sebelum ia ambil untuk dirinya sendiri.


Arsy menarik napas dalam dan di hembuskan secraa perlahan untuk menenagkan hainya. Seharusnya memang ini kan sudah resiko. Berani berbuat ya, berani menerima konsekuensinya. Wulan yang korban saja, siap dengan segala konsekuensinya.


"Nanti Arsy cek. Kalau sudah berada di Bali. Apapun hasilnya Arsy akan siap menerimanya," ucp Arsy dengan sikap legowo.


"Nah gitu dong. Kamu pasti bisa melewati semuanya dengan baik, karena ada pak Teddy yang selalu menjag kamu, Sy," ucap Wulan menyemangati Arsy.


"Hei ... Kalian di sini? Ini untuk kamu Lan," ucap Bismo pelan meletakkn satu kantong plastik berisi banyak cemilan dan susu. Ia langsung pergi begitu saja meninggalkan dua perempuan yang menatap dirinya dengan sikpa bingung.


"Bismo kenapa Sy?" tanya Wulan merasa aneh.


Ia membuka sedikit melihat ke arah isi kantong belanjaan itu.


"Entah?" jawab Arsy singkat.

__ADS_1


Arsy masih merasa aneh dan menatap punggung Bismo hingga tak terlihat lagi.


__ADS_2