
Mencintai itu tak harus di tunjukkan melalui kata -kata romantis bernada merayu. Tak perlu juga menunjukkan perlakuan mesra yang di tunjukkan secara publik. Tapi kadang sikap, perhatian, kepekaan itu malah yang membuat pasangan itu merasa di hargai, di miliki dan di muliakan secara terhormat.
Arsy pun sedang berusaha untuk bisa menghargai permintaan Teddy, suaminya tanpa harus bernegosiasi kalau memang itu nasihat terbaik untuk dirinya.
Arsy mulai terbiasa dengan perintah baik Teddy. Arsy mulai menikmati nasi campur dengan gudeg dan ayam ungkep bacem. Teddy pun sibuk menikmati makanan pesanannya yang sudah ia inginkan sejak kemarin. Apakah ini bisa di namakan dengan mengidam juga?
"Enak sayang? Tambah lagi, biar kamu tetap sehat dan kuat. Sudah mau lahiran lho," titah Teddy sengaja membawa Arsy ke restaurant agar Arsy bisa memilih makanan yang di sukainya. Teddy hanya ingin membuat istrinya bahagia, agar Arsy melupakan rasa sakit di perutnya yang kini makin sering terasa karena semakin mendekati waktu lahirannya.
"Cukup Mas. Ini juga sudah mulai kenyang. Nanti es serut mangganya amalah gak kemakan," cicit Arsy pelan menolak secara halus. Sebenarnya untuk mengunyah makanannya saja sudah muali mual. ARsy hanya ingin es serut mangga yang membuat lidahnya sejak tadi bergoyang.
Malam ini menjadi malam yang tak akan di lupakan oleh Arsy seumur hidupnya. Hidupnya terasa sangat sempurna sekali. Memiliki semuanya di usia muda dan tentu saja hal ini membuat iri banyak orang.
__ADS_1
***
Satu minggu kemudian kehidupan Arsy benar -benar berubah. Ia bukan lagi gadis mungil yang manja dengan seragam putih abu yang masih bisa menye -menye. Tapi kini Arsy telah berubah menjadi gadis remaja yang beranjak dewasa yang sudah memiliki kewajiban tambahan yaitu sebagai istri dan kini sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
Sejaka pagi, eddy sudah membangunkan istrinya dan membantu istrinya mempersiapkan segala sesuatunya agar tidak ada yang tertinggal. Istri kecilnya itu masih saja tetap ceroboh dan sering melupakan sesuatu yang penting hingga tidak terbawa.
Arsy sudah memakai dres selutut dengan pita di depan perut buncitnya. Ia mengaca dirinya dari pantulan cermin kaca riasnya sambil berputar hingga rambut panjangnya ikut menari mengikuti tubuhnya.
Riasannya kali ini sangat alami sekali. ARsy hanay memakai pelembab bayi dan bedak tabur bayi saja dan sedikit parfum bayi. Entah kenapa Arsy menajdi sangat suka denagn aroma bayi. Beberapa persiapan untuk bayinya juga sudah ada di lemari khusus. RAsy benar -benar tidak sabar menunggu waktunya tiba.
Teddy sudah rapi sejak pagi lalu membangunkan istrinya dan emmbuat sarapan pagi untuk istrinya yang sdeang hamil.
__ADS_1
Menu sarapan pagi ini adalah roti bakar cokelat denagan satu gelas susu strawberry hangat khusu untuk ibu hamil.
Arsy keluar dari kamarnya dan tersenyum lebar mendekati suaminya yang sedang merapikan meja makan.
"Mas Teddy ganteng banget? Emang hari ini udah mulai kerja?" tanya Arsy penasaran.
Selama ini Teddy tak bekerja menunggu panggilan di sebuah kampus yang tidak sama dengan kampus dimana Arsy kuliah.
"Iya ... Kalau Mas gak kerja. Nanti kamu dan baby twins kita mau makan apa? Lagi pula tabungan Mas juga sudah mulai menipis, atkutnya tidak cukup sampai nanti kamu melahirkan," titah Teddy merangkul istrinya dan mengecup kepala istrinya yang sangat harum sekali.
"Memangnya Mas Teddy ngajar di Kampus mana?" tanya Arsy sendu. Baru kali ini, Arsy merasa takut kehilangan Teddy. Biasanya Arsy cuek dan tidak peduli, karena memang selama ini mereka tak pernah berjauhan.
__ADS_1
"Makan dulu, keburu siang, dan kita bis angobrol di mobil. Oke? habiskan sekarang roti dan susunya. Ini tas kamu, dan tas bekal kamu. Inget jangan telat makan," ucap Teddy mengingatkan.
Teddy ikut duduk di depan Arsy yang langsung terdiam. Suasana hati Arsy tak sebaik kemarin. Rasanya bakal ada sesuatu terjadi setelah ini. tapi enath apa itu.