Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
BERBOHONG


__ADS_3

Malam ini Teddy memilih tidur di sofa ruang tv. Ia masih tahu diri. Ia hanya menumpang di rumah Bismo.


"Aku sudah bercerita banyak, tapi aku rak bertanya siapa namanya," ucap Teddy pelan. Kalau hanya mendengar suaranya, Teddy tak bisa mengingat orang tersebut.


Di dalam kamar kecil itu Bismo masih belum bisa tertidur. Di dalam dadanya seperti ada perasaan yang mengganjal. Namun, hal apa itu, ia tak bisa merasakan dan mengetahuinya. Semakin ingin melupakan tapi perasaan sakit danganjalan itu begitu kuat terasa. Kepalanya kembali sakit luar biasa dan dua tangannya nemegang erat kepalanya sambil ia berteriak hingga napasnya memburu dan dadanya begitu sesak.


Bismo pun terbangun dan duduk sambil terengah -engah. Ia mencoba mengatur ritme napasnya yang sempat teroacu dnegan jantung.


"Ada apa ini sebenarnya? Aku haris mencari tahu," ucap Bismo pelan.


Skip ...

__ADS_1


Keesokkan harinya, Teddy tetap berada di dalam apartemen dan Bismo berangkat lebih awal karena ingin menemui doktwr yang menanganinya.


Sesampai di rumah sakit. Bismo mencoba mengungkapkan semua apa yang di rasakannya dan bicara apa adanya dengan semua rentetan kejadian yang di alaminya.


"Kamu memang salah satu korban kecelakaan pesawat. Nasibmu dan satu orang yang di temukan bersamamu sangat lah baik. Kamu tanpa luka parah di sekujur tubuhmu tapi kamu koma karena benturan keras saat terjatuh. Kamu bisa sembuh tanpa kurang satu apapun. Hanya saja kamu mengalami lupa ingatan yang bersifat sementara dan kamu meluoakan kejadian buruk itu. Mungkin saat ini otakmu sedang ingin membuka memori itu karena secara tidak sadar, alam bawah sadarmu meminta itu dari hati yang paling dalam. Makanya kepalamu sakit karena merasa terpaksa dan secara tidak langsung di paksa untuk mengingat sesuatu hal," ucal dokter itu pelan menjelaskan.


Seharusnya Bismo di terapi agar semua memorinya dapat di ingat dengan baik. Tapi, tanpa terapi pun, Bismo sedikit demi sedikit mengingat sepotong -sepotong kejadian kecelakaan itu.


Skip ...


Teddy duduk terdiam di dalam apartemen. Ia mencoba memasak makanan yang ia cari dengan meraba dan mengendus. Pelan -pelan Teddy mulai bisa beraktivitas tanpa matanya. Ia gunakan tangan untuk berpegangan dan ia gunakan hati untuk memgambil keputusan.

__ADS_1


Teddy terus berusaha mengingat suara Bismo. Tadinpagi saat sarapan pun, Teddy tak bertanya sesuatu hal yang sangat ingun di ketahuinya.


Saat mengambil bebetapa cucian kotor dari dalam kamar Bismo. Teddy mencium sesuatu yang sangat familliar di kamar itu. Ya, wangi itu sangat mirip dnegan wangi parfum Arsy, istrinya.


"Arsy," sontak Teddy memanggil nama istrinya karena ia sangat rindu.


Tapi, mana mungkin Arsy berada di sana. Ekhemm sebentar. Kalau ini wangi parfum Arsy, tentunya orang ini juga paham segala sesuatu tentang Arsy. Atau jangan - jangan. Teddy mulai menebak siapakh gerangan.


Masakan untuk makan siang sudah selesai di buat oleh Teddy. Masakannya kali ini juga salah satu makanan favorit Arsy.


"Apakah dia, Bismo?" ucap Teddy lirih.

__ADS_1


Ia yakin kalau lelaki itu adalah Bismo dengan berbagai macam alasan. Teddy tak mau menuduh dan ia biarkan Bismo berbohong. Toh, suatu hari nanti Bismo pasti akan jujur karena kejujuran adalah alat komunikasi yang bikin langgeng. Dengan jujur mungkin hidupnya akn lebih tenang lagi.


__ADS_2