
Keduanya sudah terkulai lemas di kasur dan tubuh polos keduanya hanya tertutupi oleh selimut tebal miliki kamar hotel.
Arsy masih memeluk tubuh Teddy yang semakin candu baginya. Tidurnya makin terlelap bila berada di dekapan Teddy.
Teddy bergerak ingin ke kamar mandi. Sejak selesai melakukan permainan panas yang menjadi candu itu, Teddy belum beranjak dari tempat tidur. Hasrat ingin membuang air kecil ia tahan karena tidak mau mengganggu Arsy yang masih manja nemplok seperti koala kecil yang terus berada dalam gendongan koala besar.
Rasanya sudah pelan sekali Teddy beranjak dari kasurnya dan berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi -bunyian aneh. Tangan Arsy menerat dan kedua matanya membuka lalu menatap Teddy yang berusa melepaskan tangan Arsy dari pinggangnya.
"Mau kemana Mas?" tanya Arsy lantang membuat jantung Teddy terpacu dengan sangat cepat sekali.
"Sayang ... Kamu belum tidur?" tanya Teddy pelan. Tubuhnya tak jadi turun dan merapat kembali ke dalam selimut sambil memeluk istri labilnya.
Perlahan tangan Teddy menyusup kembali ke bawah tubuh Arsy menuju ke punggung belakang dan mengusapnya pelan.
"Eunghhh ... Mau kemana sih? Mau ninggalin Arsy?" tanya Arsy menatap tajam ke arah Teddy.
"Mau ke kamar mandi sayang. Mas udah kebelet dari tadi," ucap Teddy menahan sesuatu dari bawah yang ingin di keluarkan.
"Kebelet apa?" tanya Arsy yang masih tak paham.
"HIV," jawab Teddy cepat. Ia langsung melompat dari temapt tidur dan masuk ke dalam kamar mandi tanpa menutupnya karean sudah tak tertahan.
Arsy membuka selimut dan mengambil handuk yang di lilitkan di tubuh mungilnya. Ia setengah berlari menghampiri Teddy yang masih berada di toilet.
"Mas ... Kamu kena HIV? Anak kita?" tanya Arsy bingung.
Teddy pun menoleh ke arah Arsy yang sudah berdiri di belakang Teddy. Ia menatap air seni yang terus mengucur banyak dari tubuh Teddy.
Sudah tak ada rasa malu di antara keduanya. Mereka mulai terbbiasa dengan keadaan dan status.
"HIV? Apa maksud kamu?" tanya Teddy bingung.
"Tadi Mas bilang HIV? Apa maksudnya?" tanay Arsy mulai bicara dengan nada tinggi.
__ADS_1
Teddy melongo menatap Arsy. Ia ingat saat akan ke kamar mandi ia bilang HIV.
"Owalah ... Ini lho HIV. Hasrat Ingin Vivis. Kamu itu lho over thinking terus. Gini kalau punya istri labil," ucap Teddy pelan.
"Apa? Istri labil? Mas kira Arsy mainan slem labil?" ucap Arsy kesal dan meninggalkan Teddy di kamar mandi sendirian.
Teddy hanya menggelengkan kepalanya pelan dan ikut keluar dari kamar mandi.
Arsy sudah berada di tempat tidur. Tubuhnya bersandar pada tumpukan bantal. Perutnya beberapa kali berbunyi dan membuat Teddy tertawa.
"Kamu lapar sayang? Mau makan?" tanya Teddy pelan.
Arsy mengnagguk kecil. Tubuhnya seperti ingin memakan cemilan yang asin -asin.
"Tas kecil yang hitam itu mana. Kan ada keripik balado Mas," ucap Arsy menyapu pandangannya ke arah meja mencari tas isi berisi snack.
"Mau keripik balado apa jalan -jalan keluar?" tanay eddy pelan.
"Ini tengah malam. Masa iya mau keluar?" tanya Arsy pelan.
"Boleh. Arsy mau kwetiauw goreng atasnya taburin wijen," ucap Arsy pelan.
"Oke." jawab Teddy singkat langsung memesan makanan via sambungan telepon yang ada di nakas.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Pak ... Pak Teddy ....." panggil Bu Lina dari depan kamarnya.
Suara itu terus terdengar beberaa kali. Arsy pun menatap Teddy lekat yang sedang menutup teleponnya.
"Mas ... Itu Bu Lina kan?" tanya Arsy pelan.
"Iya. Kalau di dengar suaranya," ucap Teddy m bodoh.
__ADS_1
Arsy diam dan turun dari ranjang menuju pintu dan melihat dari lubangpenginta dari pintu kamar hotel.
Ini tengah malam dan Bu Lina sengaja ketuk pintu kamar Teddy. Kenapa bukan pintu kamar yang lain. Lagi pula, pakai pakaian dasteryang pendek dan terlihat seksi. Tapi membwa tentengan.
"Sudahlah gak usah di gubris," ucap Teddy yang memeluk Arsy dari belakang.
Teddy tahu kegelisahan Arsy. Arsy cemburu.
"Bawa tentengan lho Mas," ucap Arsy.
"Ya terus? Mas harus bukain pintu?" tanya Teddy pelan.
"Berani? Bukain pintu buat Bu Lina? Ada Arsy lho? Nanti skandal kalian ketahuan lho?" ucap Arsy snis.
"Skandal apa sih sayang? Skandal Mas itu dengan murid Mas sendiri, yaitu kamu?' ucap Teddy mencium pipi Arsy gemas.
"Ngerayu aja." jawab Arsy ketus.
"Biarin, punya istri untuk di rayu," ucap Teddy pelan.
"Dih ... istri ...." ucap Arsy ketus.
"Oh ... gak mau di bilang istri?" tanya Teddy pelan.
"GAK." jawab Arsy lantang.
Dengan mengusap pelan perut Arsy.
"Dek ... Ini Bundanya cemburuan aja." lirih Teddy mencari pembelaan.
"Biarin." jawab Arsy sinis.
"Hemmm ... Belum pernah di smack down di kasur ya? Biar minta ampun kayak tadi. Mas kangen lho denger kamu bilang ampun Mas ... Ampun Mas ... Udah Mas. Bilang udah tapi mukanya merem melek," goda Teddy sambil tertawa dan menggendong Arsy.
__ADS_1
"MAS TEDDY ... Argh ...."