Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
15


__ADS_3

Pagi - pagi buta, Nada sudah kembali terbangun. Sejak malam ia sangat gelisah dan ingin segera mengetahui rahasia besar di balik semua kejadian ini.


Kenapa harus aku? Kenapa mesti aku yang mengalami hal ini? batin Nada di dalam hatinya.


Nada bangkit dari tidurnya dan membereskan selimut serta bantal yang di tumpuk menjadi satu di ujung kasur.


"Karena kamu adalah orang pilihan Nada," ucap seorang wanita dengan suara pelan.


Nada tersentak kaget dan langsung menoleh ke arah suara yang begitu lembut dan ramah itu. Saking kagetnya, Nada memundurkan langkahnya hingga terpentok amben yang di pakai untuk tidur dan terjatuh terduduk di atas kasur tadi.


Kedua mata Nada melotot, menatap lekat wanita cantik yang ada di depannya dari arah bawah hingga ke atas.


"Ka - kamu siapa?" tanya Nada dengan bibir bergetar.


Wanita yang begitu cantik dengan gaun putih yang pas di tubuhnya. Rambutnya sepunggung terurai di percantik dengan bandana berwarna emas yang membuat gadis itu semakin mempesona. Bibirnya bewarna merah dan pipinya merona. Sempurna. Hanya kata itu yang bisa terucap lirih dari bibir Nada.


Gadis itu tersenyum. Sudut bibirnya terlihat berlesung semakin menambah cantik gadis itu.


"Aku Nyai Konde," ucap gadis itu pelan dan lembut. Terlihat usianya seperti masih dua puluhan, masih terlihat sangat muda. Berbeda saat tadi malam, Nada mengenal Nyai Konde yang terlihat sudah tua dan wajahnya banyak sekali kerutan dengan rambut di konde ala nenek - nenek tua di desa.


Nada hanya melongo dan menatap tajam ke arah Nyai Konde. Ia tak percaya sama sekali. Hampir saja jantungnya terlepas dari tubuhnya karena kaget luar biasa.


"Nya - Nyai Ko - Konde? Jangan bercanda?" jawab Nada bingung. Kedua matanya masih menatap tajam ke arah Nyai Konde.


"Iya. Nyai Konde? Tapi memang lagi tidak berkonde," jawab Nyai Konde dengn tawa yang sangat renyah.


Nada menarik napas panjang. Tubuhnya langsung merinding. Hari sial, batin Nada terus mengumpat di dalam hatinya.


"Nada takut. Tolong jangan bercanda. Nada hanya ingin pulang dan kembali ke rumah," teriak Nada histeris sambil memejamkan kedua matanya.


Dunia kembali berputar mengikuti semua laur yang sudah berjalan. Hanya mesin waktu yang mampu mengembalikan semuanya seperti sedia kala.

__ADS_1


BLEP ...


Hembusan angin yang sangat kencang menerpa tubuh Nada dan tubuhnya seolah terguncang lalu Nada memberanikan dirinya membuka mata dan membuka lebar kedua matanya.


Tatapannya berkeliling di ruangan itu. Ruangan yang amat ia kenali. Semuanya berwarna ungu muda. Ini adalah kamarnya dan berarti ia ada di rumahnya sendiri.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Nada?! Ada temanmu, Komariah," panggil Sang Mama kepada Nada dari arah pintu kamar.


Nada masih terbaring di kasurnya dengaan tatapan tak percaya kalau ia kembali ke rumahnya sendiri.


Sebentar Mama bilang, temanku datang bernama Komariah? Siapa lagi Komariah? Perasaan tidak punya teman bernama Komariah?


"Nada? Kamu sudah bangun kan? Apa masih kelelahan?" panggil Mama Nada dari arah luar kamar dan terus mengetuk pintu karena tak mendengar jawaban dari arah dalam.


Kedua mata Nada mengerjap. Ia bingung dengan ucapan Sang Mama. Kelelahan? Bukankah aku memang sedang tidak ada kerjaan. Sudah hampir sebulan ini juga tidak kuliah karena di drop out. Nada masih terus berpikir. Rasanya masih percaya dan tidak percaya. Belum ada beberapa menit ia berada di suatu tempat dan kini sudah berada d rumahnya sendiri dan tertidur di kamar tidur kesayangannya.


"Nada?" paggil Sang Mama kembali dengan suara yang lebih keras lagi.


"Iya Mah. Sebentar," jawab Nada sambil bangkit bangun dan berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu kamar itu.


ceklek ...


"Ya ampun. Anak gadis Mama, jangan tidur terus. Itu Komariah datang. Suruh naik atau mau keluar?" tanya Sang Mama pelan.


Kedua mata Nada menatap lekat ke arah Sang Mama.


"Komariah?" tanya Nada mengulang nama itu kembali karena merasa asing d telinganya.


Sang Mama mengangguk pelan.

__ADS_1


"Iya Komariah. Teman kamu, yang kini jadi manajermu. Itu kan kamu yang bilang sendiri," ucap Sang Mama kembali.


"Manajer? Mamah ngomong apa sih? Aneh," jawab Nada ketus.


Nada membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah meja rias. Betapa terkejutnya Nada saat ini. Wajahnya kini terlihat lebih putih bercahaya dan lebih bersih.


Tubuhnya pun lebih terlihat kurus dan langsing. Satu lagi tubuhnya terlihat lebih terawat. Lalu rambutnya, rambutnya panjang sepunggung dengan bagian bawah yang di keriting gantung.


Nada memegang kedua pipi dan seluruh wajahnya dengan bingung. Tunggu dulu, ada yang beda, tapi apa? batin Nada di dalam hati. Astagfirullah, kenapa harus ada poni pendek yang menutupi dahinya. Seperti anak kecil saja.


"Kamu kenapa, Nada? Tidak seperti biasanya," tanya Sang Mama yang tiba - tiba memegang pundak Nada.


"Tidak apa - apa, Mah," jawab Nada singkat. Nada hanya bisa mngehembuskan napasnya dengan kasar. Kenapa permintaannya di kabulkan tapi semua keadaannya menjadi berbeda. Ini seperti bukan Nada yang seperti biasanya.


"Ekhemm ... Bagaimana acar ulang tahun kamu besok? Jadi kan?"" tanya Sang MAma kembali.


"Apa? Acara ulang tahun?" tanya Nada kembali dengan terkejut.


"Lho? Kok malah kaget? Kamu kan yang mau bikin acara ulang tahun dengan manajermu itu, Komariah," ucap Mama Nad mengingatkan.


Nada pun menutup wajahnya dnegan kedua tangannya dan menarik napas dalam. Cerita apa lagi ini. Nada benar - benar bingin.


"Permisi?" ucap seorang wanita dengan suara yang beitu lembut. Suaranya sudah tak asing lagi di telinga Nada. Nad membuka kedua telapak tangannya dan menoleh ke arah pintu kamar, disana sudah ada Nyai Konde dengan wajah muda. Ia tersenyum sangat manis kepada Nada.


"Nyai?" ucap Nada dengan suara keras yang lolos begitu saja dari bibirnya tanpa aba - aba yang jelas.


Mama Nada pun menoleh ke arah NAda.


"Nyai? Dia itu Komariah, manajer kamu. Dia yang membuat kamu menjadi terkenal seperti saat ini, hingga kamu memiliki banyak uang dan kamu telah berhasil membuat Ayah kamu bangga, Nada. Ini sebuah prestasi keluarga yang patut di acungi jempol," ucap Mama Nada menjelaskan.


Nada menoleh ke arah Sang Mama dengan tatapan bingung lalu berganti lagi ke arah Nyai Konde atau Komariah yang tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Maksudnya apa? Prestasi keluarga? Apa sih, Nada gak paham?" tanya Nada dengan suara yang terbata. Ia benar - benar tak percaya dengan keadaan seperti ini.


"Kenapa menatap aneh begitu? Kamu ini tak hanya pintar bernyanyi tapi juga pinter akting ya? Sudahlah, Mama mau masak dulu. Komariah sini masuk," ucap Mama Nada pelan yang pergi belalu begitu saja.


__ADS_2