Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
MODUS


__ADS_3

Sejak perjalanan pulang dari rumah singgah menuju tempat makan hingga sampai di tempat makan. Arsy masih terus merajuk. Ia syok bukan main mendengar kejujuran Bu Lina dan perlakuan Bu Lina tadi kepada Reddy.


"Sy ... Udah dong ngambeknya. Masa mau ngambek terus sih? Kan Mas udah bilang. Mas gak tahu soal ini. Lagi pula Mas hanya menganggap dia sebagai rekan kerja atau partner guru dan gak lebih," ucap Teddy yang masih berusaha meyakinkan Arsy.


Kini mereka berada di salah satu cafe untuk maan malam. Tempat ini sebenarnya sangat indah dengan banyak dekorasi unik dan sangat nyaman karena tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Teddy telah meilih tempat duduk yang paling enak untuk melihat pemandangan di malam hari.


Buku menu makanan sudah ada di hadapan mereka masing -masing. Teddy sudah mulai memilih dan mencatat menu makanan yang ia pilih sebagai makan malamnya. Sedangkan Arsy masih tetap diam dan merajuk.


"Ayolah Sy ... Pesen makan dulu. Kasihan perutnya kosong belum makan. Besok pagi kita mau pergi jauh, jangan sampai sakit. Jangan sampai sakit yang kamu rasakan mengganggu acara liburan kamu, yang sudah kamu persiapkan dengan baik jauh -jauh hari," ucap Teddy pelan.


Arsy menoleh dan menatap Teddy. Ada benarnya juga ucapan suaminya itu. Dengan cepat Arsy pun memeilih beberapa makanan kesukaannya dnegan banyak sekali hingga Teddy pun bingung.


"Ini banyak banget. Kmau makan semua? Yakin habis? Jangan sampai di buang Sy, mubazir. Kasihan, banyak orang gak bisa makan tapi kamu malah buang -buang makanan," ucap Teddy menasehati.


"Di makan. Tenang aja," jawab Arsy singkat.


Cukup menunggu sekitar lima belas menit semua makanan itu datang dan di sajikan rapi di meja pesanan tempat mereka duduk.


"Bismo?" panggil Arsy yang menatap pelayang yang sedang mengantar makanannya.


"Arsy ... Pak Teddy?" sapa Bismo dengan malu dan wajahnya nampak memerah.


"Kamu kerja di sini?" tanya Arsy pelan.


Bismo mengangguk pasrah. Mau bagaimana lagi. Sudah ada orang yang mengetahui tentang dirinya.

__ADS_1


"Iya Sy. Ceritanya panjang sekali," jawab Bismo pelan sambil meletakkan pesanan makanan Arsy dan Pak Teddy.


"Wulan di rumah?" tanay Arsy kembali menatap Bismo. Ada perasaan kasihan terhadap Bismo. Arsy tahu, Bismo itu berasal dari keluarga yang kaya, tapi ia malah menjadi seorang pelayang di sebuah cafe.


"Iya Sy. Wulan ada di rumah," jawab Bismo pelan.


"Kalian bukannya hari ini menikah. Arsy lupa, ini mau mampir ke rumah mau kasih ucapan selamat," ucap Arsy pelan.


"Di undur Lan. Mungkin setelah dari Bali. Aku balik ke belakang untuk kerja ya. Selamat menikmati," ucap Bismo yang langsung pergi begitu saja.


Bismo kaget, syok dan malu bertemu dengan Arsy. Sewaktu melayani mantan kekasihnya itu, degub jantungnya masih saja berdetak keras saat kedua mata indah Arsy menatapnya. Biar bagaimana pun juga, rasa sayang itu masih ada untuk Arsy di hati Bismo. Bismo menghargai keputusan Papa Arsy yang saat itu mneleponnya untuk menjauhi anak gadisnya dengan alasan untuk fokus belajar dan pada akhirnya ia tahu, Arsy di jodohkan dan menikha dengan gurunya sendiri.


Hati Bismo begitu teriris perih hanya saja tak berdarah. Tapi, luka sayatan itu cukup membuat hatinya begitu kacau.


Arsy juga menatap kepergian Bismo hingga punggung lelaki yang sudah menjadi mantan kekasihnya itu benar -benar hilnag dari pandangannya. Teddy hanya sekilas menatap Arsy. Jujur, Teddy cemburu. Jelas sekali tatapan Arsy itu bukan sekedar iba dan kasihan aja seperti apa yang terlontar polos dari bibir mungilnya. Tapi, tatapan Arsy itu yang masih sayang dan terbersit rindu di ujung matanya.


"Sudah puas lihat Bismo?" tanya Teddy pelan sambil menikmati makan malamnya.


Ucapan Teddy membuat Arsy mengangkat kepalanya dan menatap Tedddy lekat.


"Apa maksud dari ucapan Mas?" tanya Arsy yang terpicu amarah.


Kta -kata Teddy memang terdengar pelan dan lembut, namun maknanya begitu menyentil dan menuduh. Makanan yang sedang ia nikmati pun ia letakkan begitu saja karena sudah tak nafsu. Maklum, mereka sama -sama pencemburu tapi sikap buruk mereka yang gengsi itu tidak pernah di sadari satu sama lain.


"Lho? Memang Mas salah? Kan Mas cuma tanya sama kamu. Sudah puas lihat Bismo? salahnya di mana?" tanya Teddy pelan. Tangannya masih sibuk dengan alat makannya dan masih menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dan mulai mengunyah hingga lembut sebelum di telan ke adlam tenggorokan.

__ADS_1


"Arsy gak lihat Bismo Mas. Kok Mas tuh kayak nuduh Arsy gitu sih?" tanya Arsy kesal.


"Oh ... Gak lihat. Cuma memandangi wajahnya aja? Gitu maksudnya?" tanya Teddy pelan semakin membuat Arsy menjadi keki.


"Mas itu salah paham. Gak bagus menuduh apalagi menfitnah. Fitnah kan lebih kejam dari pembunuhan," jawab Arsy mulai ketus.


Pengantin baru, dengan usia yang agak jauh, dengan sikap yang bertolak belakang tapi sama -sama pencemburu.


"Hem ... Fitnah lebih kejam dari pembunuhan? Gitu? Tahu ga, ada yang lebih parah dari ini. Terbakar api itu bisa mati terbunuh," ucap Teddy tegas.


"Ya jelas dong. Namanya juga terbakar api, pasti mati kalau makhluk hidup yang terbakar. Jelas kan? Sesuatu yang bernyawa akan mati bila terbakar, di lukai, atau karena sakit. Di pelajaran biologi kan juga di ajari," ucap Arsy polos.


Teddy hanya menarik napas dalam dan mengehmbuskan napas itu pelan. Maksud ucapannya bukan terbakar pada arti sesungguhnya, tapi lebih ke terbakar api cemburu.


Teddy memilih diam dan tak menanggapi ucapan Arsy. Semakin di tanggpi semakin melebar tak jelas. Ujung -ujungnya lelaki itu adalah tempat salah. Dan perempuan itu akan selalu benar dengan segudang jawabannya yang terkadang tidak masuk akal karena membela diri dan tak mau kalah.


"Sudah ah. Bungkus saja. Arsy gak nafsu makan," ucap Arsy meletakkan makanannya begitu saja. Ia berjalan menuju meja kasir untuk meminta semua pesanannya di bungkus dan akan di bawa pulang.


Seorang pelayan pun menghampiri meja Arsy dan mulai membungkus beberapa makanan yang masih utuh dan sama sekali tidak tersentuh oleh Arsy.


"Kamu mau sakit? Karena gak mau makan?" tanya Teddy pelan.


"Gak nafsu," jawab Arsy pelan.


Kedua mata Teddy menatap tajam ke arah Arsy dan membuat Arsy menunduk. Tatapan Teddy itu memang membuat ARsy takut. Arsy masih mempelajari karkater Teddy. Ia belum sepenuhnya tahu, siapa Teddy sebenarnya.

__ADS_1


"Makan. Habisin yang ini," titah Teddy dengan tegas.


"Gak mau." jawab Arsy singkat tak peduli.


__ADS_2