
Tidak ada kebahagiaan yang paling hakiki untuk seorang perempuan selain di beri uang banyak dan di suruh di habiskan untuk berbelanja. Sudah jelas surga dunianay perempuan itu adalah berbelanja tanpa ada aturan dan tanpa ada kata jangan beli itu, jangan beli ini. Bebaskan, dan biarkan saja memilih apapun yang perempuan suka. Logika perempuan masih waras, ia tidak akan menghabiskan seluruh gaji smeuanya untuk berfoya -foya tanpa memikirkan hari esok.
Teddy hanya bertugas mendorong trolly yang berukuran besar dan berjalan mengikuti arah tujuan Arsy yang sejak tadi memilih lalu emmasukkan beberapa bahan makanan untuk kebutuhan di rumah.
Teddy menatap beberapa sayur dan daging yang masuk ke dalam trolly besra itu dengan bingung. Pasalnya Arsy itu tak pernah berbelanja kebutuhan makanan untuk di rumah. Paling Arsy membantu memilihkan buah, atau barang -barang untuk kebutuhan bersih -bersih di rumah serta cemilan.
"Kamu gak salah sayang, ambil daging? Mau masak?" tanya Teddy dengan wajah sumringah. Teddy tetap berpikira positif, mungkin saja, istrinya sudah bisa melakukan pekerjaan layaknya istri pada umumnya. Bisa melayani suaminya, memasak dan melakukan tugas rumah yang sederhana.
Arsy menoleh ke arah Teddy dan terkekeh sambil memeluk suaminya erat.
"Mas Teddy dong yang masak buat Arsy. Arsy cuma mau milihin sayur dan daging yang Arsy pengen. Ini anak kembar kita lho yang pengen," cicit Arsy dengan suara manja.
__ADS_1
Teddy sudah merasa aneh sejak tadi, perubahan apa yang di harapkan Teddy itu tidak akan mungkin terjadi dalam waktu yang singkat. Butuh waktu, butuh proses dan butuh kesabaran. Intinya sabar.
"Ekhemmm ... Kirain mau masakin buat Mas," ucap Teddy jujur dengan harapan terlalu tinggi.
Arsy mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah Teddy sendu.
"Maafin Arsy belum bisa jadi wanita sempurna. Belum bisa jadi istri seperti yang di inginkan oleh Mas Teddy," ucap Arsy denagn kedua mata basah.
Arsy hanya tersenyum kecut. Arsy memang anak manja yang tak bisa melakukan hal apapun sebagai wanita kecuali berdanf\=dan.
"Sore Pak Teddy," sapa seorang dosen teman kerja Teddy yang berjalan melewati Teddy memastikan orang yang di sapanay adalah dosen yang berada di ruang kerja di sampingnya.
__ADS_1
"Ehhh ... Sore Bu Mita," jawab Teddy membalas saapan itu tanpa senyum amnis dan ramah. Jawaban sapaan itu malah terdengar datar dan sangat dingin sekali.
Mita, rekan kerja dosen di Kampus itu melirik ke arah Arsy yang menggelendot Teddy denagn tanagn melingkar erat di perut Teddy dan tatapannya terus ke abwah melihat perut Arsy yang besar. Merasa dirinya di tatap lekat dan terkesan sinis, Arsy pun melepas perlahan pelukannya di perut Teddy dan berjalan santai tanpa menimbulkan banyak pertanyaan.
Arsy mengehntikan langkahnya dan berpura -pura melihat -lihat barang di rak dan terus mencaria pa yang di butuhkan lalu di letakkan di dalam keranjang.
"Sama siapa Pak?" tanay Bu Mita langsung to the point karena penaran.
"Ini Arsy, istri saya," jawab Teddy lantang tanpa ada kearguan sedikit pun.
Mita langsung melongo dan menutup bibirnya denagn telapak tangannya. Mita hanya merasa pernah melihat gadis ini di Kampus.
__ADS_1
"Is -istri?" tanya Mita memastikan.