
Teddy sudah berada di dalam mobil. Niatnya ingin ke kantor, tapi hatinya mengatakan untuk datang ke sekolah. Pearsaannya makin terasa tak enak. Jantungnya juga berdegup keras.
"Kenapa sih, aku? Tumben -tumbenna begini," ucap Teddy pada dirinya sendiri.
Ia segera memutar setir mobilnya berbelok arah menuju sekolah. Semakin dekat dengan sekolah, debarn jantungnya makin terasa kencang hingga napasnya sedikit memburu. Sampai -sampai ia salah membawa tas. Seharusnya tas berisi buku paket untuk mengajar, ini malah membawa tas berisi berkas kantor.
Dengan cepat ia keluar dari mobil dan menutup pintu mobil lalu menguncinya dengan remote yang menyatu pada kontak mobil.
Langkahnya terasa cepat seklai seperti ada yang mengendalikan kakinya untuk segera sampai di ruang guru.
"Siang Pak. Tumben tidak ada kabar?" tanya Bu LIna yang memang sedang duduk sambil menikmati satu potong pie buah di meja kerjanya. kebetulan meja kerja keduanya bersebelahan.
"Gak ada kabar? Saya udah bilang lewat Arsy. Memang dia gak kesini?" tanya Teddy penasaran.
Tadi pagi masih komunikasi dan semuanya baik -baik saja. Apa jangan -jangan lupa? Arsy suka begitu, umur belia tapi pikunnya gak ketulungan.
"Lho ... Arsy kan di ruang UKS. Tadi di antar temannya yang anak baru itu lho? Siapa namanya?" tanya satu guru yang baru saja masuk ke ruang guru karena baru selesai mengajar.
"Hartono," jawab Pak Tunggul pelan.
"Ya Hartono. Lho Pak Teddy memang rumahnya dekat dengan Arsy? Kok titip pesannya lewat Arsy? Bukan lewat Bu Lina? Betul kan Bu?" tanya guru senior yang nampak tak prnah tahu berita terkini.
Bu Lina hanya mengangguk kecil dan tersenyum simpul ke arah guru senior itu. Sedangkan Teddy hnaya bisa memutar kedua bola matanya dengan malas. Ia tersadar Arsy di UKS.
"Arsy di UKS? Kenapa?" tanya Teddy penasaran. Rasany akakinya ingin segera beranjak ke ruang UKS dan memeluk istri labilnya tapi Teddy perlahan sedikit mengurungkan niatnya agar rahasiannya tidak terbongkar.
"Tadi jatuh," jawab guru senior itu santai.
"Apa? Jatuh?" teriak Teddy kali ini begitu cemas. Ia langsung bangkit berdiri dan berlari ke arah ruang UKS. Teddy takut sesuatu terjadi pada Arsy dan jangan sampai semua terlambat dan berakhir penyesalan.
Teddy berlari dengan sangat kencang dan di pikirannya hanya tertuju pada Arsy.
Sesampai di depan ruang UKS. Baru saa akan membuka pintu ruangan itu Teddy mendengar suara laki -laki sedang berbicara dengan istrinya. Teddy pun melangkahkan kakinya menuju pintu jendela dan mengintip siapa lelaki yang sedang berbicara dengan Arsy.
Teddy belum pernah bertemu lelaki itu. Mungkin ini yang di katakan murid baru dan bernama Hartono. Desas desusnya ia adalah murid pindahan dari sekolah kampung karena sesuatu hal yang alasannya tak di sebutkan. Berhubung semua nilai rapotnya sangat baik sekali dan ternyata lelaki itu adalah salah satu peserta pemenang lomba sains di kotanya.
Arsy dan Hartono terlihat sangat akrab sekali. Mereka berbincang layaknya teman yang sudah lama kenal.
"Maaf ya? Sudah merepotkan kamu. Dan soal kaca mata itu, nanti aku ganti. Kamu masih bisa lihat kan? Tanpa kaca mata itu?" tanya Arsy dengan suara pelan.
__ADS_1
Tono hanya mengangguk kecil. Ia memberikan satu botol soda untuk Arsy.
"Kata Ibuku dari kampung. Kalau lagi datang bulan, minum soda, biar darahnya cepat keluar dengan sangat deras. Entah fakta atau mitos, tapi banyak orang yang bilang," ucap Tono pelan dan memberikan Arsy botol minuman soda itu.
"Terima kasih. Tapi Arsy gak suka minum soda. Sudah gak apa -apa," ucap Arsy pelan.
"Kamu mau makan apa, Sy? Biar aku belikan, dari tadi kamu belum makan," ucap Tono pelan.
"Gak apa -apa kok. Kamu pergi saja, Arsy mau istirahat," ucap Arsy pelan.
"Beneran di tinggal?" tanya Tono yang mulai ragu.
Arsy mengangguk pasrah.
"Beneran di tinggal?" tanya Tono tak yakin dengan jawaban Arsy.
"Yakin. Udah sana," ucap Arsy pelan.
Tono akhirya keluar lagi dan meletakkan botol soda itu di meja. Ia berharap pemberiannya akan di minum oleh Arsy.
"Oh ya ... Kok kamu bisa beli minuman soda? Bukannya kata kamu uang jajan kamu cuma dua ribu?" tanya Arsy pelan saat Tono sudah membalikkan badan untuk segera pergi dari sana.
Arsy pun tertawa terkekeh. Lucu sekali Tono ini. Ia selalu bicara jujur apa adanya.
"kamu beneran ngutang di kantin? Sampai ninggal KTP?" tanya Arsy penasran.
"Iya Sy. Bener. Aku kasihan lihat kamu dari pagi begini, meringis kesakitan. Mau di panggilkan dokter gak mau," ucap Tono.
"Sudah Arsy gak apa -apa. Ini cuma sakit biasa. Selamat belajar," ucap Arsy menyemangati.
"Kamu juga cepat sembuh. Nanti pulang sekolah, aku antar kamu pulang," ucap Tono santai.
"Gak usah. Nanti kan ada Pak Su yang jemput Arsy," ucap Arsy mengingatkan.
"Ohh iya ... Kamu kan punya Pak Su, Pak Supir, maksudnya," canda Tono tertawa.
Keduanya pun berpisah. Seharian ini Arsy berada di ruang UKS. Biasanya ia selalu di temani Wulan jika sedang berada di UKS. Tapi, searang Arsy harus lebih hati -hati kepada orang yang memberikan maknan padanya walaupun ia kenal. Lebih baik Arsy beli ke kantin sendiri atau nanti bawa bekal sendiri dari rumah.
"Sayang ... Kamu gak ngabarin Mas kalau jatuh? Kmau gak apa -apa? Kita periksa yuk? Mas gak mau ada sesuatu terjadi pada kamu," ucap Teddy pelan saat masuk ke dalam ruang UKS dan membuat Arsy terkejut setengah mati.
__ADS_1
"Mas ... Maafin Arsy ya," ucap Arsy memeluk Teddy erat. Ia rindu sekali ppada suaminya. Baru setengah hari ta bertemu, ia begitu kehilangan. Kini, di sekolah rasanya ia hanya sendiri.
Teddy juga membalas pelukan Arsy dengan erat. Mengelus punggung Arsy agar istrinya merasa aman dan nyaman.
"Maafin Mas ya? Mas harus urus Bismo di kantor polisi," ucap Teddy lirih.
Arsy pun melepaskan pelukan itu. Ia juga penasaran dengan kabar Bismo.
"Lalu? Gimana?" tanya Arsy yang terlihat cemas.
"Kamu cemas soal Bismo? Kenapa begitu peduli sekali?" tanya Teddy cemburu.
"Mas ... Arsy hanya ingin memastikan Bismo baik -baik saja. Bukan untuk hal lain," ucap Arsy berusaha meyakinkan Teddy bahwa dirinya dan Bismo memang sudah tidak ada urusan apapun.
"Dia baik," ucap Teddy melepaskan Arsy dan duudk di kursi di samping tempat tidur UKS.
Arsy menatap Teddy dan menarik tangan suaminya yang sedang merajuk itu. Di kecupnya punggung tangan Teddy dengan mesra.
"Mas ... Arsy laper mau batagor," cicit Arsy mulai manja.
"Ya. Mas beli dulu di katin," ucap Teddy pelan berdiri dan akan melangkah ke luar ruangan UKS itu.
"Mas ... Arsy lupa," ucap Arsy lirih.
Teddy menoleh kepada istrinya.
"Lupa apa? Mau pesan apa lagi?" tanya Teddy pelan.
"Belum di cium Mama dan anaknya. Kangn tahu," cicit Arsy yang semakin manja.
Teddy meotot ke arah Arsy . Gak biasanya istri labilnya begini. Antara suka dan gak suka dengan keadaan ini. Tapi Teddy tetap gemas dengan permintaan istri labilnya itu.
Cup ...
"Love u, Sayang. Love my son," ucap Teddy pelan sambil mengusap pelan perut Arsy dari arah luar seragam putihnya.
Arsy cuma tersenyum senang.
""Love u too, Sayang. Love u too, Papah," jawab Arsy lembut.
__ADS_1
Keduanya makin terkikik sendiri. Teddy pun keluar dari ruang UKS. Jiwa bucinnya mulai meronta -ronta. Ini yang mmebuat dirinya sejak tadi ingin ke sekolah. Ada sesuatu yang terjadi pada Arsy dan anaknya.