
Pelan Arsy mulai menaburkan bedak bayi di punggung Teddy secara merata. Mungkin memang nampak biasa saja. Tapi bagi lelaki yang akan menjadi seorang ayah itu, perlakuan Arsy terhadapnya ini sangatlah manis sekali.
"Ini hanya di tabur merata saja sambil di usap -usap? Memang gatal atau gimana punggungnya?" tanya Arsy pelan sambil mengusap pelan punggung kekar dan lebar milik suaminya itu.
"Gak gatal sih. Cuma enak saja dan rasanya tuh adem banget," ucap Teddy pelan.
Ia merasa sudah lebih baik. Punggungnya yang tadi terasa panas sudah mulai terasa adem dan nyaman. Di tambah aromaterapi wewangian yang sangat harusm sekali membuat relaks tubuhnya.
Teddy membalikkan tubuhnya dan menatap Arsy yang semakin hari terlihat imut.
"Terima kasih ya," ucap Teddy pelan dan emmakai kembali kaos oblongnya.
__ADS_1
Arsy mengangguk kecil dan menutup kembali botol bedak bayi.
"Iya, sama -sama. Bukankah ini sudah jadi kewajiban seorang istri? Melayani setiap apapun yang menjadi permintaan suaminya?" ucap Arsy pelan. Ia meletakkan kembali botol bedak tabur bayi itu di atas nakas dan kembali merebahkan tubuhnya di smaping Teddy.
"Tumben bener nih ucapannya? Gak lagi habis kepentok sesuatu kan?" tanya Teddy tersenyum menggoda Arsy.
"Dih gitu. Masa istrinya lagi bener, di bilang lgi kepentok," jawab Arsy kesal.
"Bukan gitu sayang. Mas itu merasa kamu akhir -akhir ini banyak berubah. APalagi semenjak hamil. Kamu lebih bersikap bijak, dewasa, walaupun manja, tapi Mas tetep suka dnegan perubahan kamu ini," ucap Teddy pelan.
"Kecemburuan yang membuat Arsy begini," ucap Arsy pelan.
__ADS_1
"Cemburu? Kamu mencemburui Mas? Hei ... Mas gak akan berbuat aneh -aneh. hati Mas sudah mentok sama kamu, Sy," jawab Teddy membela diri.
"Hah? Arsy gak boleh cemburu gitu? Mas ... Sekarang tuh buaya wanita lebih pintar mencari celah. Dengan alibi persahabtan, atau curhat, atau minta tolong. Semua bisa di lakukan," sergah Arsy kesal.
"Hemmm ... Mas tahu batasannya Arsy. Kita sama -sama punya dunia yang berbeda. Kamu siswi dengan segudang teman kamu baik laki -laki atau perepuan. Mas juga cemburu, dnegan siapa itu? Tono ...Ekhemmm Hartono. Kamu pikir, Mas gak tahu soal kamu di ganggu dan Tono lah penyelmat sebagai pahlawan kesiangan. Terus Tono yang pintar, Tono yang ternyata tidak se -gemulai awal masuk dan ternyata punya rasa juga sama kamu," ucap Teddy yang juga mengungkapkan rasa cemburunya.
"Apa? Mascemburu sama Tono. Mas ... Laki -laki itu cuma teman dan gak lebih," ucap Arsy menjelaskan.
"Itu menurut kamu. Menurut dia? Dengan segala perhatian kamu, respon kamu? Itu sama saja, kamu membuka celah untuk lelaki lain masuk dalam kehidupan kamu, Sy. Sekarang Mas mau tanya? Kenapa setiap di sekolah, cincin pernikahan kita selalu kamu lepas? Kenapa? Bisa jawab? Mas mau jawaban kamu itu realistis," tanya Teddy muali merembet kemana -mana.
Selama ini ia hanya diam mengikuti apa yang di inginkan Arsy. Semua sikap Arsy tak pernah ia keluhkan. Tapi, kalau Teddy harus di cemburui terus menerus. Tentu ini akan menjadi masalah besar kalau tidak di jelaskan dan tidak mendapatkan titik temunya.
__ADS_1
Arsy menatap Teddy. Ia langsung menatap jari manisnya sebelah kanan. Bhakan ia lupa memasang kembali cincin pernikahannya yang sellau ia letakkan di dompet bagian kantong resleting bercampur dengan uang koin.
Teddy pun menatap ke arah jari manis Arsy. Ia hanya tertawa sengit menatap jari Arsy yang polos tanpa ada logam pengikat hubungan mereka yang mengikat menjadi SAH.