
Acara tasyakuran sore ini berjalan dengan baik dan lancar. Arsy dan Teddy hanya memanggil ibu -ibu pengajian komplek dan Kyai sebagai pemimpin acara tersebut. Tidak lupa mengundang saudara, sahabat, teman dan klien yang di kenal saja.
Semua yang hadir ikut mendoakan atas kehamilan Arsy yang lancar hingga hari persalinan nanti baik Ibu dan bayinya sehat semua tanpa kekurangan satu apapun.
Rumah besar itu masih sangat ramai. Padahal acara tasyakuran sudah selesai sejak sore sebelum maghrib tadi. Tapi banyak para tamu undangan yang datang terlambat dengan alasan maect di jalan atau baru sempat karena baru pulang kerja.
Suasana masih ramai dan bahkan di jadikan ajang pertemuan reuni antar teman lama atau yang memang sama sekali tak pernah bertemu.
Wulan dan Arsy memilih bersantai di raman belakang. Di taman itu juga tak luput dengan dekorasi tasyakuran dan banyak sekali meja prasmanan yang masih penuh dengan makanan dan belum terjamah. Maklum banyak orang kalau sudah bercerita lupa makan dan minum terus saja bercerita hingga perutnya mulai perih dan tenggorokannya mulai terasa kering.
"Loe udah siap -siap Sy ... Lusa kan berangkat ke London?" ucap Wulan sambil membawa piring berisi makanan.
Sejak tadi sahabatnya itu makan saja. Asal piringnya mulai kosong, Wulan bergegas mencari makanan yang belum ia cicipi dan mengambil dalam jumlah porsi standar.
"Makan mulu kamu, Lan. Gendut nanti," ucap Arsy tertawa.
__ADS_1
"Biar loe ada temennya Sy. Bentar lagi tuh badan bakalan bengkak," goda Wulan sambil terkekeh menyeruput iga sapi yang lumer dan membuat lidah bergoyang.
"Dasar. Sejak ada Pak Teddy, Arsy mulai malas makan kalau gak di suapi. Jiwa manjanya meronta ronta ingin sellau di perhatikan," ucap Arsy tertawa keras.
"Itu sih emaknya aja yang manja. Si kembar mana mungkin begitu," ucap Wulan santai.
"Enak saja." ketus Arsy tak terima.
Arsy duduk di sofa pamjang yang empuk dan sesekali melihat ke dalam menatap Teddy, suaminya yang tengah sibuk menerima tamu dan bercengkerama dengan teman -temannya.
"Kagak bakal ilang. Masih ada noh di sana. Eitsss tunggu dulu .... Itu Ivana kan? Auditor?" tanya Wulan sambil melotot ke arah dalam menunjukkan kepada Arsy. Kedua tangannya sibuk memegang piring makan dan tulang iga yang masih menempel pada mulutnya.
"Hah? Iya ... Ivana tuh. Lha? Perasaan gak undang dia deh. Kenapa muncul tuh orang," ucap Arsy berusaha mengingat beberapa nama yang ia baca di list buku untuk undangan tasyakuran ini.
"Sengaja kali. Ikut siapa? Biar bisa keemu suami loe. Loe kesana Sy. Beraksi dikit napa? Biar kelohatan mesra dan harmonis biar terhempas tuh ulet bulu. Gue doain bulu -bulunya pad rontok semua," ucap Wulan sambil terkekeh.
__ADS_1
"Udahlah biarin aja. Lusa kan kita pergi meninggalkan negara ini. Tetep dong, pemenangnya Arsy. Dan Arsy akan tetap menjadi Nyonya Teddy," ucap Arsy tertawa.
"Bener banget. Cakep tuh. Tapi gue mual," ucap Wulan pelan.
"Mual? Kenapa?" tanya Arsy penasaran.
"Loe jadi bucin banget sama Pak Teddy. Perasaan dulu loe tuh angkuh, sombong, sok banyak fans, sok gak butuh sama Pak Teddy. Sekarang jadi tergila -gila, kayak amplop dan perangko, maunya nempel aja," ucap Wulan pelan sambil sesekali melirik ke arah dalam ruangan tengah untuk melihat gerak gerik Ivana yang terlihat semakin dekat dan berani mencubit -cubit Teddy.
"Arghh ... Bisa -bisanya kamu aja. Mungkin kamu sirik sama Arsy, Lan," cicit Arsy santai.
Arsy hanya memegang gelas berisi air kelapa. Itu juga pemberian Teddy. Air kelapa hijau bagus untuk bayi yang ada di dalam kandungannya supaya bersih. Begitu kata orang tua jaman dahulu.
"Lihat tuh!! Ivana mulai deket -deket. Dia gak tahu apa? CCTVnya ada di belakang. Loe gak mau samperin?" tanya Wulan pelan.
Wulan terkejut mendapati Arsy yang sudah tak ada lagi di kursi panjang empuk itu. Arsy sudah berjalan menuju arah Teddy berdiir sambil membawa ... apa itu yang di bawa Arsy? batin Wulan yang masih terus menatap ke arah sosom Arsy yang berkalan santai dnegan langkah pelan.
__ADS_1