
Pasangan muda yang sedang menantikan kelahiran si kembar pun terlihat sanagt romantis dan selalu berbahagia. Keduanya duduk di teras depan rumah sambil menggelar karpet tipis agar Arsy bisa selonjoran dengan nyaman menggunakan batal sofa sebagai ganjalan pinggangnya.
"Lama amat ya? Kalau di tungguin gak dateng -dateng. Kalau gak di tungguin berasa lewat berkali -kali sampai berisik," umpat Arsy kesal sambil mengusap perutnay yang besar. Mulutnya mulai mengecap berulang kali karena rasa inginnya menikmati sate madura dan lontong sudah tak sabar lagi.
"Sabar sayang," ucap Teddy mengusap rambut panjang Arsy.
"Laper Mas," ucap Arsy kemudian.
"Jalan aja yuk? Nanti juga ketemu di jalan. Atau kita ke lapangan blok, biasanya ada sate yang mangkal juga. Gimana mau?" tanya Teddy kemudian.
"Naik motor ya. Takut capek," cicit Arsy memohon.
"Gak ah. Jalan aja. Deket sayang, gak jauh ini. Kalau naik motor itu, Mas takut kamu malah gak nyaman bonceng di belakang," ucap Teddy meyakinkan Arsy.
Lihat saja, Ibu hamil yang membonceng di motor bersama suaminya atau tukang ojek, terlihat kurang nyaman saat duduk. Mungkin karena perutnya sudah terlalu besar dan kesulitan untuk duduk tegak.
"Ya udahlah kita tunggu saja," ucap Arsy pasrah. Rasanya Arsy tak memiliki tenaga banyak untuk berjalan hingga ke lapangan blok perumahannya. Maunya tinggal hap menikmati sate ayam dan lontong.
__ADS_1
Teddy sibuk dengan ponselnya kembali dan Arsy mengedarkan pandangannya kalau saja tukang sate itu sudah mendekati ke rumahnya.
"Dek Arsy, Mas Teddy, wah lagi nyantai ya," sapa Ibu -ibu kompleks yang bersebelahan rumahnya dengan Arsy.
"Iya Bu. Ini Arsynya lagi mau cari angin. Dari mana Bu," jawab Teddy sambil menyapa ibu -ibu kembali.
"Ini habis arisan di Bu RT. Ayo, Dek Arsy ikut arisan komplek. Sebulan sekali aja, sekalian buat silaturahmi biar makin kenal satu sama lain," ajak salah satu Ibu yang tinggal satu gang denagn Arsy.
"Iya Bu. Nanti kalau sudah lahiran, akan aktif di RT," jawab Teddy mencoba tetap terlihat sopan dan ramah.
Arsy dan Teddy adalah warga baru sekaligus pasangan yang sangat muda. Teddy membeli rumah ini lalu di renovasi sesuai keinginan Arsy.
"Iya Bu. Nanti ya," ucap Teddy tetap ramah sambil tersenyum manis.
Para Ibu -ibu itu pun tersenyum dan mengangguk dan melanjutkan untuk pulang ke ruamh masing -masing.
Teddy melirik ke arah Arsy yang diam seribu bahasa dan meletakkan ponselnya.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Muaknya asem banget," tanay Teddy berhati -hati. Inget mood ibu hamil itu sepert wanita sedang PMS, labil dan sulit di tebak.
"Gak apa -apa. Ramah bener sama Ibu -ibu," ucap Arsy ketus sambil mengibaskan tangannya dan membenarkan letak rambut panjangnya keluar dari bahunya, seolah Arsy sedang kepanasan, pdahal cauca malam itu cukup dingin karena angin malam.
"Hemmm ... Mulai deh labil. Cemburu ya?" goda Teddy kemudian sambil memencet hidung Arsy yang tak begitu mancung.
"Sakit Mas. Siapa juga yang cemburu. B aja kali," ucap Arsy ketus.
"Oh ya? Kalau cemburu ya bilang aja. Gak usah di pendem juga gak bagus," titah Teddy semakin senang menggoda istrinyakalau sedang cemburu.
"Enggak Mas, cuma ...," ucapan Arsy terhenti dan tak melanjutkan ucapannya. Memang rasa cemburunya sama sekali tak beralasan sekali.
"Tuh kan. Berarti kamu cemburu," ucap Teddy menarik bahu Arsy dan merangkul dengan sangat erat.
Arsy pasrah daalam pelukan Teddy. Itu juga yang ia inginkan. Kalau bisa di depan ibu -ibu tadi Teddy bersikap mesra begini.
"Gak usah cemburu sayang. Cinta dan sayang Mas kan udah teruji cuma buat kamu seorang," ucap Teddy pada Arsy.
__ADS_1