
Teddy cuma bisa menghela napas panjang jika Arsy, istri kecilnya itu sedang merajuk. Sikap Arsy memang menjadi posesif, super bucin dan pencemburu berat. Hal kecil yang tidak sesuai dengan hatinya pun bisa menjadi besar karena over thinking yang sangat berlebihan. Mungkin memang karena Arsy sedang hamil, jadi moodnya jadi naik turun berubah setiap detik.
"Ini sudah sore. Mau cari makan gak? Biar sekalian kita beli makan. Atau mau jajan apa? Atau mau kemana ngikutin kepengennya dedek bayi?" tanya Teddy lembut dan tak membahas ucapan Arsy tadi. Bisa panjang urusannya.
Arsy menoleh ke arah Teddy dan menatap tajam dari arah samping. Teddy pun melirik kembali ke arah Arsy yang terlihat sangat marah.
"Bisa -bisanya bahas yang lain? Biar Arsy gak marah? Emang ya kalau laki -laki itu paling gampang menghindari masalah," ucap Arsy makin ketus dan sinis ke arah Teddy.
__ADS_1
"Sayang ... Kamu kenapa sih? Masalah apa? Kan dari tadi juga gak ada masalah? Mas ngerasa gak ada sesuatu yang harus kita perddebatkan dan di selesaikan?" ucap Teddy lembut membela diri.
"Ohhh ... Jadi pusat perhatian mahasiswi itu bukan masalah besar?" ucap Arsy denagn napas terengah - engah seperti menahan marah.
"Ya ampun sayang. Masih bahas masalah itu? Tadi katanya kamu gak cemburu. Ya ... Mas pikir sudah selesai. Lagi pula, Mas kan gak ada genit -genit sama mereka. Mas biasa aja lho," ucap Teddy berusaha meyakinkan Arsy. Toh, Arsy juga menjadi salah satu mahasiswi yang ada di dalam raungan itu. Tentu saja pasti bisa menilai. Tapi, namanya juga orang hamil lagi tersulut api cemburu, tidak akan ada yang pernah benar di matanya karena otaknya lebih merasa benar dibandingkan kedua matanya.
Teddy memegang tangan Arsy dan mengusap pelan punggung tangan itu. Lalu mengajak Arsy tersenyum, namun Arsy malah mendengus dan melempar pandangannya ke arah lain. Ia sedang cemburu dan sangat cemburu. Hatinya panas dan terus kepanasan mengingat sorak sorai semua mahasiswi meneriaki Teddy sebagai dosen baru yang tampan.
__ADS_1
"Sayang ... KIta sellau bersama lho. Mas juga sellau ada di samping kamu. Gak pernah sedikit pun Mas mencoba berkhianat dari pernikahan kita. Mas rela mengikuti kamu. Apa itu masih kurang?" tanya Teddy mulai merasa menyerah denagn sikap Arsy yang selalu seperti ini. Kelewat manja dan selalu ingin di perhatikan.
"Ohhh ... Terus Mas mau bilang. Seharusnya Arsy tahu diri. Bisa menjaga sikap, karena Mas sudah banyak berkorban? Gitu? Seharusnya Arsy berterima aksih karena Mas mau mengikuti Arsy? Jadi kalau di posisi ini, ARsy yang salah? Atau gimana? Arsy gak paham sama konsep penjelasan Mas yang gak jelas itu," ucap ARsy ketus.
"Jangan begini dong Sayang. Kita bisa bicara baik -baik. Gak perlu ketus dan penuh emosi. Ibu hamil itu harus bahagia," ucap Teddy mengingatkan.
"Gimana mau bahagia. Kalau setiap tempat selalu ada ulet bulu, penggoda, kalajengking yang siap nyapit, kan emosi Mas. Terus Mas juga, kenapa gak bilang jujur aja, kalau sudah menikah? Susah bilang kalau sudah menikah dan berkeluarga? Susah?" ucap Arsy masih di kuasai amarah yang besar.
__ADS_1
"Gak gitu sayang. Ini tadi hanay perkenalan singkat, bukan perkenalan secara pribadi. Itu nanti di lakukan di kelas saja setiap mata kuliah. Lagi pula, cincin pernikahan kita juga sellau Mas pakai. Kamu jangan cemburuan begini," ucap Teddy treus mendesah bingung.