
"Sok cantik? Biasa aja deh kayaknya. Emang cantik," ucap Rosa jujur.
Emil melirik ke arah Rosa dan emnatap tajam ke arah temannya itu.
"Lo belain orang hamil itu?" tanya Emil dengan sinis.
"Ehhh ... Bukan gitu, Mil. Lo jangan salah paham dulu dong," ucap Rosa merasa tak suka denagn tuduhan Emil.
"Salah paham gimana? Lo yang bilang tuh anak cantik," ucap Emil ketus.
"Lho ... Gue itu bilang apa adanya. Jujur emang dia cantik, apalagi dia lagi hamil. Cantiknya lebih kelihatan," ucap Rosa lantang tak mau kalah.
Emil langsung berdiri dan bertolak pinggang menatap Rosa denagn sangat tajam.
"Tapi kejujuran lo malah buat gue makin muak tahu!!" tegas Emil kesal.
__ADS_1
"Lo juga ngapain benci orang yang gak salah? Aneh lo lama -lama Mil!!" ucap Rosa menatap Emil tak suka.
Selama ini mereka hanya di jadikan alat oleh Emil. Teman yang sengaja di bentuk dalam satu kelompok untuk membully seseorang yang tak di sukai oleh Emil tanpa alasan, termasuk Arsy. Arsy bukan orang pertama bahkan orang kesekian yang menjadi sasaran empuk Emil untuk di bully tanpa tahu penyebabnya.
"Ehhh ... Lo tahu apa? Gue mau suka atau gak sama seseorang itu bukan urusan lo. Paham?! Kalau lo udah gak nyaman gabung sama kita, ya udah, lo bisa keluar dari genk kita sekarang juga. Kita gak perlu orang sok bijak macam lo. Lo lihat kan? Mana ada yang lain kayak lo? Nyolot!!" ucap Emil ketus.
"Oke. Gue gak pernah takut sama ancaman lo, Mil. Gue cuma mau ngasih tahu lo, tentang karma tabur tuai. Lo udah banyak nyakitin anak orang yang menurut gue, mereka gak punya salah sama sekali sama lo. Tap, lo benci setengah mati sama mereka," ucap Rosa menasihati.
"Lo gak usah pakai ngajarin gue!! Gue udah paham semuanya. Asal lo tahu Rosa, lo sama sekali gak masuk dalam genk kita. Nyali lo ciut dan lo sama sekali gak satu frekuensi denagn kita," tegas Emil yang langsung pergi bersama beberapa orang dalam satu genknya meninggalkan Rosa yang masih berdiri terdiam terpana melihat aksi Emil.
Beberapa orang yang melihat Rosa dan Emil berdebat sangat menyayangkan sekali. Persahabatan mereka begitu kental dan baik dari awal masuk ke dunia perkuliahan.
Arsy dan Mega sudah duduk di meja barisan pertama dan Emil bersama genknya duduk di kursi barisan paling belakang mengamati Emil dan Mega yang masih saja mengobrol.
Rosa masuk ke dalam kelas dan duduk di depan di samping meja milik Arsy. Rosa sekilas mengamati Arsy yang duduk bersandar di kursi sambil mengusap perutnya yang besar. Betapa susah payahnya, Arsy tetap kuliah dengan kondisi hamil besar seperti ini.
__ADS_1
"Berapa bulan kandungannya?" tanya Rosa pada Arsy.
"Ekhemm sudah bulannya untuk lahir," ucap Arsy dengan senyum lebar.
"Sudah nikah?" tanay Rosa penasaran.
"Sudah Kak," jawab Arsy jujur.
Rosa hanya mengangguk kecil dan melihat cincin kawin yang melingkar di jari manis Arsy..
Emil dan temna satu genknya melipat tangan di dada sambil mengamati Rosa yang sudah tidak termasuk dalam anggota genk mereka. Jangan sampai rencana Emil yang sudah di buat, di hancurkan oleh Rosa.
"Cari mati dia," bisik Emil pada teman -temannya.
Teddy pun masuk ke dalam kelas dan langsung membagikan soal kuis ke seluru mahasiswa yang ada di kelas.
__ADS_1
"Siapa yang belum dapat? Kalau sudah smeua. Sialhkan tugasnya di letakkan di ujung meja dan saya akan berputar mengambil satu per satu pekerjaan kalian," titah Teddy tegas.
Rosa mengamati Teddy, sang dosen yang berdiri tepat di depan mejanya dengan tangan mnegepal di atas meja. Sekilas, Rosa melihat bentuk cincin yang sama antara Teddy dan Arsy. Apakah mereka ada hubungan?