
Arsy menatap ponselnya yang tiba -tiba saja mati itu. Rasanya tidak enak bnaget, ia lalu mencoba menghubungi kembali Teddy dari ponselnya namun tak ada jawaban. Arsy mencoba lagi, dan kini ponsel itu malah berada di luar jangkauan. Entah mati ponselnya atau memang tidak ada sinyal atau jaringan di sana. Tapi, gak mungkin kalau gak ada jaringan, ini kan di kota bukan di puncak gunung ciremai.
Hatinya mulai ceas dan kalut. Jleas sekali wajahnya nampah bingung dan bingung.
"Kenapa Sy? Pak Teddy kemana? Tumben muka lu cemas gitu?" tanya Wulan mulai menggoda Arsy, sahabatnya.
Wulan tahu, sebenarnya Arsy itu sudah mulai kagum dan menyukai Teddy. Tapi Arsy masih gengsi untuk mengakuinya.
"Gak tahu Lan. Tahu -tahu mati ponselnya. Pak Tedy kenapa ya? Kok perasaan Arsy jadi gak enak gini," tanya Arsy pelan merasakan cemas luar biasa.
Mama Wulan pun tertawa. Sejak tadi ia melihat sikap Arsy yang memang masih labil dan anak -anak. Malu tapi mau, itu kiasan untuk Arsy.
"Itu tandanya kamu mulai mencintai suami kamu diam -diam tapi gengsi mengakuinya," ucap Mama Wulan pelan.
Arsy terdiam. Dia memahami apa yang baru saja di ucapkan oleh Mama Wulan. Ada benarnya juga, kalau tidak mana mungkin ia se -cemas ini. Tapi, ia juga masi sayang dengan Bismo. Sudah dua hari ini ia tak melihat batang hidng lelaki itu. Bahkan tadi di sekolah pun ia tak melihat sosok Bismo, padahal lelaki itu selalu mencarinya di kelas tapi seharian ini tidak ada. Dan Arsy tidak cemas sama sekali.
"Lu lihat tadi kan? Gelgat Bu Lina tuh udah kayak pelakor tahu gak sih. Dengan sengaja pilih duduk di depan samping Pak Teddy, ngomongnya sok di lembut -lembutin. Lagi pula, lu itu kenapa sih Sy. Lebih baik biarkan saja orag tahu tentang hubungan lu. Minimal hubungan lu memang dekat dengan Pak Teddy, sudh tunangan bukan menikah. Mungkin kalau menikah bisa gempar juga seisi sekolah," ucap Wulan yang mulai ikut kesal melihat Bu Lina yang terlihat menginginkan Pak Teddy.
"Iya sih. Pas lihat tadi sempet kesel. tapi kan memang kita gak mau mempublikasikan hubungan kita di sekolah. Lu tahu, gw tadi kesel pas pagi. Beliin sarapan buat Pak Teddy, gw berusaha jadi istri yang baik buat dia. Secar dia belum sarapan. Eh ... Bu Lina udah ngasih sarapan, dan yang bikin gw kesel Pak Teddy mau nerima makanan itu dan posisinya lagi makan. Gw tendang aja tuh pintu ruang BP sampai dua -duanya kaget. Gw puas bikin mereka kaget dan panik. Gw bilang aja, maaf saya pikir ada yang mesum di sini gak tahu kalau ada Bu LIna sama Pak Teddy," ucap Arsy lantang dan mulai tersulut emosi.
Tangan Mama Wulan pun menggenggam tangan Arsy lembut.
"Kamu tahu arti sebuah pernikahan itu adalah komunikasi dan kejujuran. Karena pernikahan itu kan ada dua orang, jadi perlu komunikasi yang jujur, terbuka dan transparan, mau itu menykitkan atau menyenangkan, kita sebagai pendengar harus bisa menyikapi semuanya dengan cara bijak dan dewasa. Bijak dan dewsa itu tidak di tentukan sama umur, arsy. tapi bagaimana cara berpikir kita untuk tetap sellau positif thingking dalam segala hal. Menurutt Mama, Pak Teddy itu orang yang baik, peduli dan sayang sama kamu. Ini contoh kecil, dia sedang ada tugas lain, tapi dia tetap berusaha menghubungi kamu agar kamu tidak cemas," ucap Mama Wulan menasehati.
Arsy mengangguk pelan. Memang setelah menikh. Teddy sellau berusaha ingin dekat dnegan Arsy, mungkin inginlebih mengenal luar dalam, kalau kata orang pacaran setelh menikah itu enak. Tapi, pada kenyataannya, Arsy masih belum bisa menerima semuanya dengan keihlasan karen posisinya Arsy sudah memiliki kekasih.
"Ya sih Ma. Pak Tedy memang sangat baik, Arsy yang kurang baik Masih mikirin Bismo, padahal sudah jelas, dia itu selingkuh. Tapi Arsy masih belum bisa terima gitu," ucap Arsy sedih.
"Sudahlah Sy. Semua itu sudah takdir. Kita juga kan gak tahu apa yang akan terjadi setelah ini," ucap Wulan pelan.
"Ya sudah. Semua sudah selesai makan. Mama mau pergi, ada perlu sebentar," ucap Mama Wulan pelan.
"Mama jadi kesana?" tanya Wulan yang sedikit menutupi sesuatu dari ARsy.
__ADS_1
"Jadi Wulan. Mama udah siapin bekal juga. Mama siap -siap dulu. Tolong bawa cucian ini ke belakang," titah Mama Wulan kepada Wulan anaknya.
"Mama mau kemana? Arsy kan masih mau curhat dan minta nasihat sama Mama," rengek Arsy dnegan gemas.
"Mama mau pergi dulu. Ada hal lain yang lebih penting buat Mama. Kamu di sini, toh suami kau juga belum jemput kan?" tanya Mama Wulna pelan.
"Iya Ma. Nanti Arsy mau tanya -tanya lagi seputar rumah tangga," ucap Arsy pelan.
Wulan sudah merapikan piring kotor ke dapur untuk di cuci, Arsy mengikuti Wulan setelah menutup sisa lauk dan sayur dengan tudung saji untuk membawa gelas yang kotor. Mama Wulan juga sudah masuk ke dalam untuk bersiap pergi. Ia membawa satu kantong tas yang berisi rantang makanan.
"Mama maau kemana Lan? Kok bawa rantang makanan?" tanya ARsy pelan.
Wulan masih asyik mencuci piring dan tak menghiraukan ucapan Arsy. Sudah beberapa bulan ini Wulan terbiasa dengan keadaan ini. Keadaan yang membuatnya lebih menghargai uang dan hidupnya sendiri.
"Lan ... Gw nanya sama lu. Bukannya malah di diemin begini. Jawab kek, Lu sama Mama sama aja kayak ada yang di tutupi," ucap Arsy kesal.
Wulan menarik napas panjang dan menghembuskan napas itu dnegan kasar. Mungkin sudah saatnya wulan pun bercerita tentang ini. Ia yakin Arsy bisa menjaga rahasia ini, ia tidakbutuh bantuan siapa pun. Paling Arsy bisa tetap menjadi sahabatnya.
"Mama berangkat ya. Jnagan lupa kunci pintunya. Jangan pergi kemana -maan," teriak Mama Wulan dnegan keras berpamitan.
"Hah Papa? Emang Papa kenapa?" tanya Arsy ulai penasaran.
Wulan pn terhenyak kaget. Ia lupa dan tak sengaja bicara tentang Papanya yang selama ini ia tutupi dari siapapun termasuk Arsy.
Wulan segera menyelesaikan cuci pirinanya dan mengelap tangannya yang basah lalu berjalan ke depan untuk mengunci pintu dan menutup hordeng agar terkesan tidak ada orang. Ia masuk ke dalam kamar tidurnya dengan posisi kasur di bawah tanpa ranjang. Tubuhnya tengkurap dan ia mennagis sejadi -jadinya. RAsy mengikuti Wulan dan ikut masuk ke dalam kamar tidur Wulana yang sangat bersih dan rapi.
Arsy duduk di bawah dan mengusap punggung Wulan dengan lembut searah jarum jam.
"Ada apa sebenarnya Lan? Lu cerita dong sama gw, biar gw bisa bantu lu. Selama ini lu kan juga udah bantu gw," ucap ARsy lembut.
Tubuh Wulan masih bergetar hebat. Ia menangis sejadi -jadinya tanpa mengeluarkan suara. Sesak di dadanya sudah tak bisa berteriak keras untuk meluapkan semua beban di pundaknya.
"Lan, jangan kayak gini terus. Cerita dong. Siapa tahu gw bisa bnatu," ucap Arsy lembut.
__ADS_1
Arsy sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Wulan. Biasanya Wulan sellau berceritapada Arsy walaupun tidak gamblang setidaknya ad omongan. Tapi kali ini tidak sama sekali.
Tok ... tok ... tok ...
"Wulan ... Wulan ...." teriak seseorang dari arah luar dengan sura yang tidak asing di telinga Arsy.
Tubuh Wulan pun terhenti bergetar. Dengan posisi tengkurap Wulan cemas akan kondisinya saat ini. Ia belum siap untuk bercerita dengan Arsy. Apa yang terjadi saat ini. Ia berusaha menutupinya dari ARsy bukan karena sesutau hal, tapi karena hal ini juga tidak di inginkan Wulan sama sekali.
Arsy memandang ke arah pintu kamar dan telinganya di pasang dengan jelas. Suara itu sangat khas. Dan Arsy mengenal betul suara itu.
"Itu suara Bismo, bukan?" tanya Arsy kepada Wulan.
Wulan tdiam. Isak tangisnya terhenti. Kini hatinya semakin resah dan bingung. Apa yang harus ia jelaskan kepada Arsy tentang ini semua.
"Lan ... Gw tanya sama lu. Itu suara Bismo kan?" tanya Arsy ketus.
Arsy tak habis pikir dengna apa yang terjadi. Kalau memang benar ini Bismo yang datang. Berarti apa yang ia lihat waktu di restaurant cepat saji itu benar adanya. Tidak ada yang salah dengan penglihatannya. Dan ini nyata bahwa persahabatannya selama ini di khianati.
"Gw tanya sekali lagi sama lu. Itu suara Bismo kan? Lu gak usah pura -pura budeg, gw gak suka di bohongin!!" teriak Arsy semakin keras.
Wulan terdiam membisu. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Kalau memang persahabatnnya rusak karena ini, Wulan ikhlas. Tapi Wulan akan berusaha menjelaskan semuanya tanpa ada salah paham.
"Lu gak mau jawab Lan? Kalau lu gak mau jawab, berarti smeua benar. Lu sama Bismo ada main di belakang gw. Lu tahu? Beatap sayangnay gw sama Bismo sampai gw gak mau memberikan cinta gw buat Pak Teddy, karena apa? Karena hati gw masih buat Bismo. Tapi ... Gw salah, dan gw bodoh terlalu percaya dengan lelaki yang amat gw sayangi dan gw percaya sama sahabat gw yang berpura -pura mendukung gw tapi dia menikam gw dari belakang. Brengsek lu berdua," ucap Arsy kesal.
Arsy berdiri dan keluar dari kamar untuk membuak pintu depan dan memastikan bahwa yang datang itu benar Bismo. Langkah kakinya pelan dan tubuhnya bergetar terasa lemas. Arsy selama ini menaruh kepercayaan penuh, tapi semua itu sia -sia. Pengkhianatan sahabatnya dan pacarnya membuat salah paam dan rusaknya komunikasi antar sahabat.
Wulan menarik napas panjang ia bangun dari tidurnya dan merasakan sakit pada perutnya. Ia melihat Arsy sudah berjalan keluar dari kamarnya dengan tangan terkepal erat. Wulan tahu Arsy sangat marah dan kecewa.
Tangan Arsy memegang handle pintu dan siap membuka pintu ruang tamu setelah anak kunci itu ia putar agar kuncinya terbuka. Ia mengatur napasnya agar tetap tenang dan tidak terbawa emosi. Wajahnya sudah terlihat merah padam dan kedua matanya sudah basah ingin menangis keras dan berteriak.
ceklek ...
"Lan?" suara khas itu membuat kepala Arsy pusing dan matanya seketika berkunang.
__ADS_1
Bruk ...