
Pagi ini semuanya terasa sangat berbeda sekali. Teddy yang biasanya begitu perhatian, pagi ini nampak begitu cuek dan seolah tak peduli karena kejadian tadi malam.
Semua terasa hambar, bagai sayur tanpa garam. Menurut pepatah seperti itu.
Keduanya masih berjalan bersama dan naik mobil yang sama. Arsy lebih banyak diam dan tak banyak bicara apalagi berkomentar.
Ia cukup duduk dan menikmati pemandangan pagi.
"Mas ada perlu ke kantor. Jadi hari ini Mas gak ngajar. Kebetulan gak ada kelas, cuma ada praktikum. Bilang saja Mas gak bisa kasih praktikum" ucap Teddy pelan menitah Arsy yang sejka tadi hanya diam.
"Ya. Nanti Asry sampaikan ke sekolah," jawab Arsy santai.
Mobil Teddy sudah sampai di di halaman sekolah. Arsy pun turun begitu saja. Teddy hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Arsy ...." panggil Teddy keras sambil menekan klakson mobil.
Arsy menoleh ke belakang.
"Ini uang jajan kamu?" teriak Teddy agak keras.
Dengan langkah malas, Arsy pun berbalik dn berjan menuju mobil Teddy dan mengambil uang yang di sodorkan padanya.
"Belilah makanan yang sehat untuk kamu, dan bayi kita. Mas pikir, kamu lebih tahu makanan mana yang baik dan mana yang tidak. Ngerti kan? Maksud mas? kamu bebas memilih makanan apapun," ucap Teddy pelan.
"Iya," ucap Arsy singkat.
Arsy membalikkan tubuhnya kembali dan berjalan dengan langkah gontai.
Teddy pun segera memutar balik arah mobilnya dan menuju ke luar gerbang sekolah. Arsy menatap dari layar ponselnya, jelas melihat mobilnya keluar dan pergi begitu saja.
Rasa cemburunya yang terbendung pun mulai terasa panas dan sesak di dadanya.
"Jangan -jangan mau jemput Ivana di apartemennya. Belum lagi, di kantor akan selalu bersama seharian. Huh ... Giliran Arsy di suruh cari makan sendiri. Ini anak kamu, bukan anak gorila," ucap Arsy kesal sambil ngoceh -ngoceh gak jelas di sepanjang koridor menuju kelasnya.
Untung saja suasana masih sangat sepi sekali. Langkah Arsy terhenti tepat di depan mading. Sudah lama sekali Arsy tak membuat artikel untuk mading. Sudah lama juga ia tak membaca semua isi mading pada bulan ini.
Cukup membuat senyum -senyum sendiri dan bahkan tertawa kocak membaca humor atau kata -kata bucin yang kadang bikin baper sendiri. Usia Arsy yang terebilang muda tentu lagu senang -senangnya bucin.
Ada satu artikel yang benar -benar membuat Arsy begitu tertarik membacanya. Kisahnya pun sedikit mirip dengannya dengan ending yang tak bahagia. Inisialnya BS.
__ADS_1
"Itu artikel Bismo. Sakit ya?" ucap Anissa kepada Arsy.
Arsy menatap Anissa lekat.
"Apa maksud kamu? Kamu itu cuma adik kelas? Sopan dikit sama kakak kelas!!" teriak Arsy kesal.
"Lho ... Kenapa marah? Kesentil?" teriak Anissa yang tak mau kalah.
"Mau kamu apa sih? Mau Bismo? Ambil aja?" ucap Arsy kesal.
"Uh ... Habis manis sepah di buang. Terus di kasihkan orang. Mentang -mentang sudah dapat guru idola. Pakai pelet apa sih Kak Arsy? Bisa banyak yang suka? Cantik? Padahal biasa saja," ucap Anissa makin nyinyir.
"Jaga mulut kamu, Anissa!! Kalau kamu suka Bismo. Kejar jangan cuma menghujat Arsy. Arsy dan Bismo sudah gak ada hubungan apa -apa," ucap Arsy ketus dan pergi meninggalkan Anissa.
Tangan Arsy langsung di tarik oleh Anissa hingga tubuhnya tertarik ke belakang dan hampir saja terjatuh.
"Kamu kenapa sih? Ambil aja Bismo untuk kamu!!" teriak Arsy semakin kesal.
"Bismo gak bisa lupain kamu, Kak!! Aku udah berusaha mendekati dan berusaha mencari celah untuk.masuk ke hatinya taoi selalu Arsy, Arsy dan Arsy," teriak Anissa kesal.
Arsy menarik tangannya dan pergi begitu saja. Dirinya sudah tidak mau berurusan lagi dengan apapun yang berbau dengan Bismo. Arsy berusaha melupakan. Mengikhlaskan juga semua kenangan itu.
"Kak Arsy. Bantu Anissa agar Kak Bismo mau dengan Anissa," ucap Anissa dengan nada memohon.
Arsy tetap berjalan menuju kelasnya dan meletakkan tasnya. Seperti biasa, ia kembali berjalan menuju kantin untuk membeli makanan. Sejak pagi, ia belum makan.
"Maaf kelas XII IPA di sebelah mana?" tanya seorang lelaki dengan kaca mata tebal menatap Arsy.
"Ekhem itu di sana. Ada tulisannya," jawab Arsy pelan.
Keduanya pun menuju tempat yang di tuju. Pagi -pagi Arsy sudah memesan ketoprak tanpa tahu dan toge. Ia hanya memakai ketupat, telur dan bihun.
Arsy sibuk dengan ponselnya sambil menunggu pesanannya datang. Tiba -tiba ponselnya berdering. Teddy meneleponnya.
"Hallo Sayang. Kamu sedang apa? Sudah makan?" tanya Teddy pelan. Ia menunggu kantor polisi itu di buka jam besuknya untu menemui Bismo dan segera menyelesaikan masalahnya.
"Lagi di kantin pesen ketoprak. Mas memang di mana? Tumben bisa telepon?" tanya Arsy mulai curiga.
Teddy mengulum senyum. Walaupun Arsy seperti ini tetepa jauh di lubuk hatinya ia wanita yang peduli dan tulus.
__ADS_1
Panggilan tersebut berubah menajdi panggilan video.
Arsy pun menggeser video itu agar Teddy bisa melihat posis Arsy saat ini.
"Makan yang banyak sayang. Jangan lupa tadi di tas sudah ada susu kotak untuk kamu, Sy. Di minum ya?" titah Teddy lembut.
"Iya. Mas di kantor polisi? Mau ketemu Bismo? Kirain ...." ucapan Arsy terhenti. Tadi ia sempat over thinking terjadal suaminya.
"Iya. Biar masalahnya selesai, Sayang. Maksudnya apa? Terus kalau masih mau sekilah di sini harus bikin perjanjian dengan Mas," ucap Teddy keras.
"Mas. Udah dulu. Ada yang datang gak enak. Chat aja ya?" pinta Arsy lembut.
"Iya sayang. Mas hanya ingin memberi tahu kamu. Mas gak jemput Ivana. Ini yang kamu kira sejak tadi kan?" tanya Teddy cepat.
Arsy hanya mengangguk kecil dan teesenyum.
"Memang Arsy gak boleh cemburu?" ujar Arsy cepat.
"Boleh dong. Malah seneng. Itu tandanya ...." ucapan Teddy belum kelar. Arsy sudah mematikan ponselnya dengan cepat secara sepihak.
Teddy menatap layar ponselnya yang tiba -tiba balik ke beranda.
"Kok di matiin sih?" desisnya kesal.
Dengan cepat jari -jari Teddy mengetik chat kepada Arsy.
"Kenapa di matiin. Mas belum selesai bicara, Sayang. Ya sudah selamat makan ketoprak," ucap Teddy menutup pesannya karena pintu gerbang untuk membesuk sudah di buka.
Bismo berada di sel tahanan anak - anak. Karena usianya belum mencapai delapan belas tahun.
"Pak Teddy?" panggil salah seorang laki laki paruh baya.
"Ya. Anda?" tanya Teddy pelan.
"Saya Ayahnya Bismo," ucap Ayah Bismo dengan wajah datar.
"Oh iya. Saya Teddy, guru Bismo di sekolah," ucap Teddy pelan.
"Saya tahu soal ini," ucap Ayah Bismo dengan santai.
__ADS_1
"Bisa kita bicara emlat mata sebelum bertemu Bismo? Aada hal yang seharusnya saya sampaikan kepada Anda sebagai guru," ucap Ayah Bismo seolah memberikan aura negatif.
"Dengan senang hati kalau memang urusannya menyangkut Bismo," jawab Teddy sesuai dengan permasalahannya.