Cinta Putih Abu

Cinta Putih Abu
PERTANYAAN AYAH ARSY


__ADS_3

Pagi sekali Arsy sudah terbangun dari tidurnya. Sejak malam, ia tidak bisa tertidur dengan pulas. Pikirannya terus melayang akan hari ini. Bagaimana sikapnya nanti di sekolah jika harus sering bertemu dengan guru BPnya itu.


Tidak biasanya Arsy sudah mandi sepagi ini dan sudah rapi dengan seragam putih abunya. Ia terus berkaca di depan cermin. Rambutnya yang panjang di curly setengah keriting dan wajahnya di poles dengan krim pagi dengn warna natural. Bibirny ayang mungil hanya di beri lipglos untuk melembabkan kulit bibirnya dan terlihat lebih kemilau.


"Cantik," ucap Arsy pelan sambil mengebelakangkan sedikit rambutnya di belakang kuping. Tangan kirinya terangkat dan jari - jarinya menatap cermin. Cincin berlian yang melingkar di jari manisnya pun menampakkan sinar kemilau dari pantulan kaca cermin.


Arsy tersadar dan menarik napas panjang. Hari ini dirinya sudah menjadi tunangan gurunya sendiri. Lalu, minggu depan, ia harsu menikah dengan gurunya sendiri dengan perbedaan usia yang cukup jauh.


Kenapa harus Pak Teddy yang sudah uzur begitu? Memangnya tidak ada lelaki yang seumuran yang bisa di jodohkan dengannya. Secara dengan gurunya sendiri tentu tidak akan satu pemikiran dan tidak satu frekuensi, batin Arsy sambil menatap jari manisnya.


"Ahh bodo amat," jawab Arsy pelan menanggapai pertanyaannya sejak tadi di depan cermin.


Arsy turun ke bawah. Ia melihat Bunda Bella masih sibuk di dapur bersihnya. Saat ini masih pukul enam kurang lima belas menit. Masih terlalu pagi bagi Arsy, tapi tidak untuk hari ini.


Langkah kecilnya menghampiri Bunda Bella dan mengecup pipi Bunda Bella tiba - tiba.


"Arsy? Tumben sudah bangun pagi - pagi begini sudah rapi?" tanya Bunda Bella pelan dengan menyipitkan mata kanannya karena penasaran. Tidak biasa saja, putri semata wayangnya bisa bangun sepagi itu.


Arsy menarik salah satu kursi di meja makan dan meletakkan tas sekolahnya di sana. Lalu berjalan lagi mendekati Sang Bunda.


"Masak apa, Bun?" tanya Arsy tiba - tiba dengan wajah ingin tahu.


Bunda Bella menolehkan kembali wajahnya untuk menatap putri kesayangannya itu setelah mengangkat bakwan jagung dari penggorengan.


"Bakwan jagung. Kamu mau coba goreng - goreng? Biar bisa?" tanya Bunda Bella pelan.


Arsy hanya tertawa dan berjalan ke arah rak piring untuk mengambil gelas dan membuat susu putih untuk dirinya sendiri. Pandangan Bunda Bella pun terus mengikuti kemana pun Arsy berjalan.


"Pagi semua. Tumben sudah lengkap formasinya? Arsy? Papah mau dong sekalian di buatin sama putri Papah yang cantik capucino?" ucap Papah Hermawan pelan.


"Iya Pah," jawab Arsy singkat. Arsy pun mengambil cangkir kopi favorit Papahnya dan mulai menyeduh racikan kopi capucino buat dirinya.


Ini bukan kali pertamanya Arsy membuatkan kopi capucino untuk Papahnya. Arsy sudah sangat lihai membuat minuman kopi.

__ADS_1


"Ini Pah, capucinonya," ucap Arsy pelan sambil memberikan cangkir kopi yang di letakkn di depan Papahnya.


Sang Papah yang sedang ibuk membaca koran pun melipat kembali koran tersebut dengan asal dan di letakkan bagian meja ynag kosong. Tatapannya mengarah pada Arsy yang pagi ini terlihat diam. Arsy duduk tepat di depan PApah Hermawan dan fokus meniup pelan gelas susunya dan menyeruput perlahan.


"Arsy?" panggil Papah Hermawan pelan.


"Iya Pah?" jawab Arsy dengan suara pelan.


Papah Arsy menatap lekat ke arah Arsy.


"Kamu kenapa? Gak biasanya diam?" tanya Papah Hermawan pelan.


Arsy menggelengkan kepalanya pelan lalu menegak susu putihnya hingga habis.


"Maaf Non Arsy. Ada Den Bismo? Katanya mau jemput Non Arsy," ucap Mbok Yum yang sudah bekerja puluhan tahun di rumah itu.


"Bismo?" tanya Arsy pelan mengulang nama Bismo. Rasanya tidak percaya saja, Bismo daang sepagi ini untuk menjemputnya dan tanpa janji. Lagi pula Arsy baru ingat semalam ponselnya tertinggal di mobilnya.


"Arsy? Nak Teddy mau datang menjemput kamu. Bialng Bismo, kamu bareng Papah,' ucap Bunda Bella tegas.


Arsy berangkat sama Bismo saja," ucap Arsy tegas.


"Arsy? Arsy?" panggil Bunda Bella dengan suara eras yang sama sekali di abaikan oleh Arsy. Arsy tetap berjalan ke arah depan menemui Bismo.


"Sudah Bun. Biarkan saja dulu. Arsy butuh waktu untuk menenangkan hatinya. Dia tetap akan menikah dengan Teddy. Biarkanlah dia menyelesaikan masalahnya dengan Bismo," ucap Papah Hermawan dengan suara pelan sambil menghalangi istrinya yang akan mengejar Arsy ke depan.


Arsy sudah berdiari di ambang pintu dan Bismo duduk di kursi besi yang ada di teras dengan kedua sikut yang brtumpu pada pahanya dan kedua telapak tangannya mengusap usap wajahnya yang tampan.


"Bismo?" panggil Arsy pelan. Arsy berjalan ke arah kursi dan duduk di sebelah Bismo.


Bismo menoleh ke arah Arsy dan menatap Arsy yang terlihat berbeda, tidak seperti biasanya yang selalu tersenyum, tertawa dan ceria. Hari ini, wajah gadisnya itu terlihat sangat muram, walaupu tetap terlihat sangat cantik.


Tatapan Arsy ke depan. Entah apa yang di lihatnya.

__ADS_1


"Sy. Maafkan aku, atas kejadian kemarin," ucap Bismo lirih penuh penyesalan.


Entah setan apa yang membuat Bismo berani mencium Arsy di tempat umum seperti itu walau sedang sepi.


Arsy masih terdiam dan tak menjawab. Jujur, Arsy tidak ingin mengingat kembali kejadian kemarin. Kedua tangannya melipat di depan dadanya.


"Masih marah ya?" tanya Bismo lirih sambil menatap wajah Arsy dari arah samping.


"Gak," jawab Arsy ketus dan singkat.


Bismo menghela napasnya dengan dalam. Ia tahu, gadisnya masih marah.


"Sudah sarapan?" tanya Bismo kembali.


Arsy hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Berangkat yuk? Kita makan di tempat biasa? Mau? Masih pagi," tanya Bismo pelan dan berhati - hati.


Tanpa menjawab pertanyan Bismo. Asy pun bangkit berdiri.


"Yuk," jawab Arsy santai.


"Ekhem ... Aku pamitan sama Bunda dan Papah," ucap Bismo plean sedikit gugup.


"Ada di dalam," jawab Arsy ketus.


Bismo pun masuk ke dalam rumah dan mengahmpiri Bunda dan Papah Arsy untuk berpamitan membawa Arsy berangkat bersama.


"Om dan Tante, Bismo ijin pamit mau berangkat sekolah, Arsy sekalian ikut Bismo," ucap Bismo meminta ijin dengan sopan.


Papah Arsy meletakkan sendok dan garpunya. Lalu menatap ke arah Bismo. Begitu pun yang di lakukan oleh Bunda Bella, ia juga menatap Bismo dengan lekat.


"Boleh Om bertanya satu pertanyaan?" tanya Papah Arsy pelan kepada Bismo.

__ADS_1


"Bo - boleh Om. Ada apa ya?" tanya Bismo pelan. Tatapan Bismo sedikit cemas.


__ADS_2