
Arsy tak bergeming dan ia tidak ingin melihat isi pper bag itu.
"Kok gak di buka?" tanya Mama Tina pelan kepada Arsy.
Arsy hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak Ma. Mama gak tkut, kalau saja pengirim itu ingin meracuni Arsy terus Arsy keracunan lalu bayinya mati di dalam perut menghirup racun -racun itu," ucap Arsy pelan dengan rasa khawatirnya.
Mama Tina malah tertawa terbahak -bahak. Ia tak menyangka kalau menantu kesayangannya itu mlaha berpikir terlalu jauh. Tapi, ada bagusnya juga, itu tandanya ARsy mulai memperhatikan kondisi kehamilannya, kesehatan bayi kembarnya.
"Parno banget, sih. Lihat ke dalam isi paper bag. Semua makanan itu, makanan kesukaan kamu. Mama malah curiga, siapa yang sejak pagi mengirimi kamu paket," ucap Mama Tina pelan dan melanjutkan mengocok telurnya.
Arsy pun menarik paper bag itu dan mengintip ke dalamnya. Ia juga penasaran apa isinya. Sejak pagi, ia di beri surprise dari bunga mawar merah, cokelat yang begitu banyak dan ini, ada sushi, ada burger, ada kentang goreng, ad es krim, ada puding cokelat, ada waffle, ada seblak juga, ada rujak, ada asinan, ada manisan, ada jus, dan ada susu kotak.
"Banyak amat," celetuk Arsy sekenanya. Ia pun mengeluarkan satu per satu makanan itu keluar dan di letakkan di meja. Lidahnya mulai kemecer ingin mencicipi beberapa makanan yang sudah ada di meja.
Mama Tina hanya menatap sekilas dan mengulum senyum. Tanpa sadar, Arsy melihat itu dan ia berpikir ini pasti keisengan Mama mertuanya.
"Ini pasti Mama yang pesan ya?" tanya Arsy menuduh.
"Gak. Mama sibuk buat kue," ucap Mama Tina pelan.
"Mama gak lagiu ngerjain Arsy kan? Arsy gak lagu ulang tahun lho, Ma," ucap Arsy pelan.
Bukan Arsy tidk suka di beri surprise eperti ini. Tapi, masalahnya Arsy sedang hamil. Ia benar -benar cemas kala makanan itu di campuri sesuatu dan membuat ia dan bayinya keracunan.
"Makan saja, gak usah banyak pikiran. Dari pada stres memikirkan siapa pengirimnya, mending makan aja, yang penting minta sama Tuhan, agar makanan ini sehat untuk kamu dan bayi kamu," ucap Mama Tina menasehati.
Arsy mengangguk pelan. Sejak tadi ia sudah ingin menikmati es krim dan puding cokelat kesukaannya.
Arsy langsung membuka makanan itu dan mulai menyuapkan ke dlam mulutnya. Rasanya benar -benar enak sekali dan tidak ada yang aneh sama sekali.
"Enak?" tanay Mam Tina tertawa.
Arsy pun menjawab dengan senyuman malu -malu.
"Tapi Ma. Ini semua benar makanan kesukaan Arsy, tidak semua orang tahu akan hal itu, kecuali ...." ucap Arsy menuduh.
"Bunda Bella, jawab Mama Tina dnegan cepat agar Arsy tidak berpikir terlalu jauh lagi.
"Bunda Bella? Masa ngirimnya dari London?" tanya Arsy bingung.
"Mungkin nyuruh temannya?" ucap Mama Tina pelan memberikan jawaban yang masuk akal.
__ADS_1
Arsy nampak percaya dan cepat menghabiskan makanannya. Tak lama, telepon rumah berdering.
"Angkat Sy," titah Mama Tina pelan.
Arsy pun berjalan menuju ruang tengah dan mengangkat telepon itu.
Pas di angkat gagang telepon itu tidak terdengar sara orang yang meneleponnya. Orang itu nampa diam dan tak bersuara hanya mendengarkan Arsy berteriak bilang "Halo ... Hallo ... Dengan siapa? Mau bicara dengan siapa?
Arsy menutup telepon itu dan berjalan kembali ke ruang makan.
"Suapa Sy?" tanya Mama Tina pelan.
"Gak ada suaranya, Ma. Mungkin orang mau ngerjain," ucap Arsy pelan.
Hari ini sungguh melelahkan sekali bagi Arsy. Banyak kejadian aneh dan banyak sekali surprise yang datang memlaui paket yang di tujukan untuk dirinya.
Sejak siang, Arsy kepikiran siapa gerangan yang mengiriminya paket secara terus menerus tanpa henti.
Kedua matanya pun tertutup rapat dan pulas tertidur. Tubuhnya sudanh nyaman bersatu dengan kasur empuk.
Skip ...
Pagi ini adalah hari kelulusan yang akan di umumkan di ekolah. Arsy sudah siap dengan seragam putih abunya yang mulai terasa sesak lagi. Padahal satu minggu ini, ia merasa tidak banyak makan, tapi kemeja putih bagian bawah sudah tidak bisa di kancing lagi. Rok abu pun agak sulit di resleting.
Arsy turun ke bawah dan ikut sarapan bersama dengan Papah Baron dan Mama Tina. Tidak biasanya mereka terlihat sangat ceria sekali dan ... Tunggu dulu, sarpannya sudah di siapkan di atas meja.
"Pagi Pah, Ma," sapa Arsy pelan dan menatap ke arah meja dan kursi yang akan di dudukinya.
"Pagi Sayang. Ayo sarapan," jawab Mama Tina pelan sambil tersenyum dan pergi ke dapur kembali untuk mengambil seustau yang terlupa. Sekilas Mama Tina melirik ke arah ARsy yang menatap susu hangat serta roti gandum yang di toast dengan madu di atasnya.
Papah Baron juga melirik sekilas ke arah Arsy yang masih menatap bingung dengan sarapannya. Saat Arsy merasa di tatap oleh Papah Baron, Papah Baron pun berpura -pura sedang sibuk membca koran.
"Pah ...." panggil Arsy pelan menatap Papah mertuanya yang fokus sekali menatap koran di depannya.
"Ya, Arsy. Kenapa?" tanya Papah Baron lembut sambil tersenyum dan masih emmegang koran dengan kedua tangannya.
"Kok baca korannya terbalik? Memang bisa?" tanya Arsy pelan. Arsy menahan rasa tawanya. Namun, ia tak snaggup untuk terkekeh melihat kegugupan Papah Baron yang langsung memutar korannya dnegan wajah memerah.
Dari arah belakang pun Mama Tina tertawa terbahak -bahak melihat Papah Baron yang salah tingkah karena ucapan Arsy.
"Maklum Sy. Papah Baron kan sudah tua, mau punya cucu," ucap Mama Tina pelan sambil mengedipakn satu matanya kepada suaminya yang masih tersipu malu.
"Iya Ma," senyum Arsy masih melebar. Ia tak kuat menahan rasa lucunya.
__ADS_1
Arsy tak berani bertanya banyak kepada Mama mertuanya dan mulai menikmati sarapan pagi yang sudah di siapkan itu.
"Enak Sy?" tanya Mama Tina pelan.
"Enak Ma. Ini memang sarapan kesukaan Arsy, dan biasanya ....." Arsy tak melanjutkan ucapannya. Ia memilih mengambil susu hamil yang masih hangat itu dan di teguk hingga habis tak bersisa.
Kedua mertuanya hanya saling berpandangan. Mereka tahu apa yang ada di pikiran Arsy saat ini.
"Nanti kamu mau main dulu atau langsung pulang?" tanya Mama Tina pelan.
"Kayaknya mau latihan drama, soalnya kan mau gladi bersih juga, tinggal seminggu lagi," ucap Arsy pelan.
"Mama mau cari baju. Mau ikut gak?" tanya Mama Tina pelan.
"Mau Ma. Arsy mau cari gaun untuk acara perpisahan," jawab Arsy pelan.
"Oke ... Nanti Mama bantu pilihin yang paling bagus," ucap Mama Tina pelan.
Skip ...
Arsy sudah berada di sekolah. Hari itu, nampak sangat berbeda dari hari sebelumnya. Atau mungkin Arsy sudah seminggu tak ke sekolah jadi terlihat berbeda.
Beberapa adik kelas terdengar sedang membicarakan guru ganteng telah kembali. Arsy tak peduli, ia pikir ada guru baru lagi di sekolah ini. Sejak, Teddy tak kembali lagi. Sekilah ini sudah beberapa kali, mengganti guru biologi, namun tidak ada yang betah.
"Hey ... Arsy," panggil Wulan yang sedang membaca mading.
"Wulan ... Apa kabar. Seminggu gak main ke rumah, di tanyain Mama tuh," ucap Arsy manja.
"Uluhhh ... Kn gue persiapan buat kuliah, Arsy. Kemarin gue daftar pakai jalur prestasi di Bandung," ucap Wulan pelan.
"Kamu jadi kuliah di Bnadung? Gak mau bareng Arsy di London, seklaian jagain baby twins?" tanya Arsy dengan suara keras hingga beberapa orang yang melewatinya dan mendengar ucapan Arsy menatap Arsy dengan tatapn bingung.
"Heii ... ini di sekolah. Jangan buka aib loe sendiri," ucap Wulan langsung menarik tangan Arsy dan duduk di ruang tunggu.
Arsy langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia lupa dan kecplosan, berasa sedang ngobrol di tempat lain bukan di sekolah.
"Gue gak bisa nemenin loe, Sy. Ini gue pindah ke Bandung karena gue di bayarin kuliahnya sama cowok gue," ucap Wulan pelan.
"Kita pisah dong?" tanay Arsy pelan.
___________
__ADS_1