
Lama -lama Arsy pun tertidur. Bulir air mata yang terjatuh dari dua bola matanya masih jelas terlihat di sudut matanya.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Teddy baru saja selesai mengerjakan untuk presentasi rapat esok pagi. Ia berjalan menuju ranjang dan ingin merebahkan tubuhnya hingga shubuh menjelang. Ini malam kedua ia harus tidur bersama dengan Arsy, namun Arsy belum juga menunjukkan rasa ikhlas menerima dirinya.
Teddy menatap Arsy lekat. Ia melihat wajah sang istri yang terlihat sedang bersedih. Ia membenarkan selimut agar menutupi tubuh Arsy hingga sampai dada. Tak lupa kening Arsy pun di kecup dengan sangat lembut.
Teddy pun mulai merebahkan tubuhnya yang mulai terasa nyaman saat bersentuhan dengan kasur empuk miliknya hingga terlelap pulas hingga malam.
Suara adzan shubuh sudah bergema nyaring di seluruh komplek perumahan. Arsy terbangun lebih dulu di bandingkan Teddy. Ia menatap Teddy yang masih pulas tertidur dengan selimut yang menutup tubuh kekarnya.
Arsy sengaja tak mau membangunkan Teddy. Ia bergegas mandi pagi dan sholat shubuh lalu bersiap diri untuk sekolah. Padahal ini masih pagi buta, namun Arsy sudah siap.
Ia turun ke bawah menuju dapur untuk membuat susu putih kesukaannya. Sumiati, atau akrab di panggil Sum sedang membuat sarapan pagi. Mama Tina dan Papa Baron sepertinya belum bangun karena belum keluar dari kamar tidurnya.
"Non Arsy? Mau apa?" tanya Sum pelan. Ia bingung harus menyapa bagaimana kepada istri anak majikannya itu.
Arsy sudah rapi dengan pakaian seragam putih abu dengan gaya masa kini. Kemeja putih lengan pendek dengan rok abu pendek di atas lutut. Sepatu kets hitam putih dengan kaos kaki semata kaki.
"Mau buat susu putih. Ada susu putih?" tanya Arsy polos.
"Ada Non. Non tunggu saja di situ. Biar Sum buatkan," ucap Sum pelan.
"Gak usah. Biar Arsy buat sendiri," ucap Asy pelan.
Arsy sibuk membuat susu putih dan roti tawar yang di olesi oleh selai kacang dan cokelat.
"Mbak Sum. Kalau Pak Teddy suka susu juga?" tanya Arsy pelan.
"Den Teddy tidak suka susu, apalagi susu putih. Beliau suka creamer yang di campur kopi," jawab Sum menjelaskan.
Arsy mengangguk pelan. Di meja dapur ia melihat kopi instant tanpa ampas dan creamer. Arsy mencoba membuatkan minuman hangat untuk suaminya.
"Emmm ... Kita sarapan di atas saja. Arsy sudah buat roti buat Pak Teddy," ucap Arsy pelan.
Arsy membawa nampan ke lantai atas dan masuk ke kamar. Ia meletakkan nampan itu di meja kerja Teddy. Lalu membangunkan Teddy.
"Pak ... Pak Teddy bangun. Sudah pagi," ucap Arsy sambil menggoyang -goyangkan tubuh Teddy pelan.
"Eumm ...." Teddy berdesis pelan dan membuka kedua matanya perlahan. Ia menatap Arsy yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Pak?" panggil Arsy pelna dan lembut.
"Hem ... Kamu sudah wangi, sudah cantik? Memang ini jam berapa?" tanya Teddy pelan sambil mengucek kedua matanya.
__ADS_1
Teddy bangkit dari tidurnya dan duduk berhadapan dengan Arsy.
"Jam lima pagi." jawwab Arsy santai.
"Apa jma lima pagi? Kamu sudah siap?" tanya teddy bingung.
"Bangun terus sholat shubuh," titah Arsy lembut.
"Oke Sayang. Terima kasih sudah di bangunkan," ucap Teddy sambil mencubit gemas pipi Arsy.
Arsy hanya melotot dan memukul pelan lengan Teddy. Kalau bukan untuk meminta uang jajan, Arsy malas bangunin Teddy. Bukan itu saja, Arsy kan juga harus menumpang di mobil Teddy, secara ia tak memiliki mobil lagi. Entah kemana mobilnya dan kedua orang tuanya hanya memberi kabar sudah sampi di London dan tak ada kabar lagi. Bahkan di hubungi pun tak bisa.
Arsy merasa pernikahan ini malah menyulitkan keadaannya. Ia pun berdiri dan merapikan selimut dan tempat tidurnya. Lalu berjalan ke arah lemari pakaian. Arsy mencoba memilihkan pakaian untuk Teddy. Kedua matanya terpaku apada kemeja berwarna merah marun dan celana panjang hitam dan dasi hitam bergaris putih. Ia meletakkan di kasur berikut dengan pakaian dalam.
Hah ... ARsy juga harus menyiapkan pakaian dalam Pak Teddy? batinnya menjadi dilema. Pakaian dalam itu kan benar -benar sesuatu yang privasi. Kedua mata Arsy mulai berkeliling di sekitar tumpukan pakaian dalam. Ada kaos dalam, kalau ini masih bisa di toleransi, Arsy pun mengambil sati kaos dalam lalu di letakan di sampig pakaian tadi di kasur. Lalu kaos kaki, Arsy mengambil kaos kai berwarna hitam pekat dan di letakkan di atas kasur. Lalu sekarang ia harus memilih segitiga pengaman. Ini area vital, membayangkan bentuk ****** ***** laki -laki saja tidak pernah dan kini Arsy harus memegang dan menyiapkan.
"Pilihin dong. Ambil, jangan cuma di lihatin aja," ucap Teddy menggoda. Lelaki itu sengaja keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk pendek di pingganya. Mungkin kalau handuk itu merosot, Arsy akan melihat sesuatu yang menggemparkan.
Arsy terkejut, ia langsung menoleh ke ara Teddy dan menelan air liurnya dalam. Ia bingung.
"Kenapa? Melihat saya begitu. Mana sini dalemannya mau di pakai. Mau sholat shubuh, keburu siang," titah Teddy.
Arsy pun mengambil asal lalu memberika segitiga pengaman itu lalu berbalik dan berjalan menuju meja kerja Teddy. Degup jantungnya makin berdetak tak beraturan. Arsy meneguk susu putihnya dengan perlahan agar tak tersedak.
Di depan cermin Teddy mulai merapikan pakaiannya. Ia berjalan menghampiri Arsy yang sedang mengunyah roti tawar.
Teddy berpura -pura merapikan laptopnya ke dalam tas.
"Pak ..." panggil Arsy dengan senyum penuh keinginan.
"Apa," jawab Teddy yang berpura -pura sedikit cuek.
"Sarapan dulu. Arsy udah buatkan kopi pakai creamer dan roti tawar isi selai kacang," tawar Arsy samil mendorong piring dan cangkir ke dekat Teddy.
Teddy menatap kedua sarapannya dan lirikan matanya kini berpindah menatap Arsy yang duduk tenang di kursi kerjanya.
"Ini untuk saya?" tanya Teddy memastikan.
"Iya," jawab Arsy pelan. Kedua matanya membalas tatapan Teddy. Ia kini malah bingung dengan sikap Teddy.
"Yakin? Buat saya?" tanya Teddy kembali mengulang pertanyaannya.
"Iya. Buat Bapak. Apa ada yang salah?" tanya Arsy kembali semakin bingung.
__ADS_1
"Kamu gak kasih apa -apa kan?" tanya Teddy menuduh.
"Kasih apa? Gula dong, biar manis kopinya," jawab Arsy polos. Arsy semakin bingung dan semakin tidak mengrti apa maksud pertanyaan Teddy.
"Selain gula?" tanya Teddy dnegan wajah yang semakin serius menatap Arsy hingga Arsy meletkkan sisa roti tawarnya di piring.
"Maksud Bapak apa? Ini roti tawar isi selai kacang. tentu Arsy tambahkan selai kacang," jawab Arsy jujur.
"Yang lain? Kamu tambahkan apa lagi?" tanya Teddy semakin menuduh.
"Apa? Gak ada," jawab Arsy kesal.
"Takutnya kamu kasih saya racun. Bisa mati saya nanti," ucap Teddy polos lalu menyeruput kopi buatan Arsy yang ternyata enak dan nikmat. Gurih creamernyasangat pas dengan kopi tanpa ampas. RAcikan yang sesuai lidah Teddy.
"Hah? Racun? Arsy gak pernah kepikiran begitu. Walaupun Arsy gak suka dnegan perjodohan ini, tapi Arsy masih waras Pak. Arsy gak mau jadi pembunuh. Bukan itu saja, masa masih muda Arsy sudah jadi janda," jawab Arsy panjang lebar.
"Ya kali mau jadi janda terus nikah deh tuh sama Bismo. Tapi saya kan belum cicipin kamu, Sy," ucap Teddy konyol memancing pertengkaran di pagi hari.
"Apa? Cicipin Arsy? Memang Arsy makanan? Kue? Kopi? Di cicipin?" teriak Arsy semakin kesal.
"Makasih kopinya enak. Rotinya juga enak. memang istri yang baik," puji Teddy kepada Arsy.
"Sudahlah. Gak usah sok muji Pak. Arsy mau minta uangjajan dan buat naik taksi ke sekolah," pinta Arsy dengan ketus,
Ia kesal sekali. Pagi -pagi Pak Teddy malah sudah membuat masalah dengan dirinya. Padahal Arsy sudah berusaha sepenuh hati melakukan tugasnya dengan baik dari pagi, berharap pujian yang baik biar dapat uang jajan. Tapi, malah di tuduh yang tidak -tidak.
"Kok ngomongnya gitu?" tanya Teddy lembut.
Arsy tak menjawab. ia sudah kadung kesal dengan ucapan Teddy barusan.
"Arsy mau berangkat sekarang," ucap Arsy ketus.
"Ya sudah bareng sama saya," jawab Teddy pelan.
"Gak mau. Apa kata teman -teman nanti. Arsy berangkat sama Pak Teddy," ucap Arsy ketus.
"Apa peduli teman -teman kamu? Kamu malu berangkat dan pulang dengan saya?" tanya Teddy kemudian.
Arsy melepar pandangannya ke luar jendela. Sinar matahari pagi baru saja menampakkan bentuknya dan hangatnya.
"Ayok berangkat. Saya hanya antar kamu, dan saya langsung ke kantor. Saya ijin dari sekolah. Pulang sekolah kamu tunggu saya, nanti saya jempy," ucap Teddy mengingatkan.
Arsy tak menoleh sedikit pun ke arah Teddy. Ia berdiri dan memakai tas ranselnya. Ia sudah kesal dan Tedddy berhasil membuat moodnya menajdi buruk pagi ini.
__ADS_1