
Ruang kelas begitu sunyi sekali bukan karena kosong tapi seluruhnya murid pada mogok bicara. Ini sebuah bukti bahwa semua murid ikut merasa teraniaya dan terdzolimi atas kejadian yang baru saja berlangsung. Wulan dan Arsy sudah duduk di kursi mereka masing -masing. Teddy sudah terlebih dahulu masuk dan menatap Arsy yang sejak tadi di hubungi tetapi tidak bisa.
"Pagi ini adalah pagi yang buruk. Bencana untuk kita semua. Bukan untuk kalian semua para siswa tapi juga kami sebagai guru kalian dan pendamping kalian di sekolah. Ada beberapa teman kalian yang memang terindikasi salah pergaulan yang bisa mengakibatkan kenakalan remaja berkrpanjangan. Maka dari kami pihak sekolah memutuskan untuk mengembalikan mereka semua kepada oeangvtuanya masing -masing. Kami sebagai guru merasa gagal ikut mendidik mereka. Kami pihak sekolah merasa kurang di hargai karena banyak aturan kami yang di langgar dengan sengaja," ucap Teddy menjelaskan.
Arsy memalingkan wajahya dan menatao ke arah luar jendela. Ada Tono yang berlari kecil dan mengetuk pintu kelasnya.
"Maaf Pak. Tadi habis dari kamar mandi. Mules," ucap Tono oelan dan meyakinkan. Teddy hanya mengangguk oelan dan mempersilahkan Tono masyk dan duduk di kursinya. Ia menoleh ke arah Arsy dan mengedipkan satu matanya kepada Arsy.
Arsu langsung menatap ke arah lain. Suasana di kelas makin terasa tak nyaman bagi Arsy.
"Itu anak baru? Kayaknya suka sama loe, Sy?" tanya Wulan pelan.
Arsy tersenyum kecut ke arah Wulan tanpa menjawab.
Wulan hanya meringis. Ia tahu jawaban Arsy itu tandanya apa.
"Kamu kenapa Wulan? Meringis begitu? Sakit? Atau ada yang lucu?" tanya Teddy tegas dan lantang menatap tajam ke aeah Wulan dan Arsy.
"Maaf Pak. Gak ada yang lucu atau sakit," jawab Wulan menunduk.
"Oke. Kalian hari ini bisa pulang. Besok masuk seperti biasa. Seluruh kegitan sekolah di tiadakan," ucap Teddy lantang.
Semua murid hanya mengangguk kecil. Antara senagn dan tidak senang. Senang karena hari ini pylang lebih awal. Tidak senangnya karena mood sudah gak bagus sejak aktivitas tiba -tib asekilah yang mengadakan tes urine dadakan.
Semua murid sudah bersiap untuk kembali ke rumah masing -masing. Arsy dan Wulan masih duduk terdiam di kelas.
"Tadi siapa aja sih yang kena?" tanya Wulan mulai penasaran.
"Nanda, Budi, Siska dana masih banyak lagi," ucap Tono tiba -tiba menjawab dan berjalan menghampiri meja Arsy.
Wulan menatap Tono dari jarak dekat. Ia sepeeti pernah melihat anak lelaki ini tapi dimana.
"Arsy gak peduli. Arsy pulang dulu ya," ucqp Arsy yang bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar dari kelasnya.
Wulan pun ikut berdiri dan verlari mengejar Arsy.
"Sy ... Loe kenapa sih? Ada masalah apa sama murid baru itu?" tanya Wulan pelan.
"Gak ada masalah. Cuma emang lagi malas aja," jawab Arsy pelan.
__ADS_1
"Arsy ... Kita ada latihan pentas. Kamu tahu kan, waktu kita tinggal tiga bulan lagi," ucap Tono yang berdiri di depan kelas dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku celananya.
Langkah Arsy terhenti. Peran lentas drama di acara perpisahan adalah cita - citanya. Apalagi ia menjadi pemeran utama. Itu suatu kebanggaan bagi Arsy.
"Tuh latihan drama. Mau gue temenin?" tanya Wulan pelan.
"Jangan Lan. Kamu pasti masih dalam penyembuhan. Lebih baik kamu istirahat di rumah," titah Arsy pelan.
Ia tahu, kondisi Wulan masih belum stabil. Jadi memang lebih baik ia memulihkan tubuhnya dulu dengan istirahat.
"Ya udah. Gue pulang duluan. Loe jaga kesehatan ya. Inget makan Sy. Kasihan ponakan gue. Gue pasti jagain loe," ucap Wulan pelan.
Arsy mengangguk kecil dan memegang tangan Wulan dengan erat. Hanya Wulan, satu -satunya sahabat yang mengerti dirinya.
Di Ruang Aula -
Latihan perdana drama pun di mulai. Setelah minggu lalu pemilihan tokoh yang sesuai. Kini masing -masing tokoh pemain di beri skrip naskah dialog untuk di pelajari dan berlatih bersama. Perlahan Arsy membuka bundelan skrip itu. Ia membaca isi dialog naskah yang masih dalam batas wajar. Namun di bagian akhir, adegan ciuman itu memang ada.
Arsy mengangkat tangannya tinggi. Ada hal yang perlu di pertanyakan. Ada hal yang harus di luruskan di sinu agar tidak slaah paham dalam mengekpresikan bahasa tubuh dibatas panggung.
Suara riuh beberapa teman teaternya pun mulai berteriak dan bersiul memoyoki Arsy dan Tono.
Tono memang anak baru. Tapi kulaitasnya saat memerankan menjadi seoeang pangeran begitu sangat cocok sekali. Di tambah Tono memiliki wajah asli asia yang hitam manis namun tanpan sekali.
"Diam semua. Biarkan Arsy bertanya dulu. Jadi adegan viuman itu harus ada, karena inti di atas panggung adalah adegan terakhir yang bisa menghanyutkan penonton dalam bahasa tubuh di atas panggung. Alur cerita kali ini memang terlihat biasa. Seorang putri salju yang teryidur karena makan buah apel beracun lalu ada pangeran yang menyelamatkannya dengan mencium bibirnya. Kalau adegan ini di lewat, maka semua penontin akan kecewa dan menganggap cerita ini tidak real dan kalian akan di anggap tidak profesional," ucap pelatih drama itu.
Arsy mengangguk kecil. Konsekuensi ikut drama ya seperti ini. Mau melakukan apa saja. Tapi yang jadi masalah saat ini kan, Arsy sudah punya suami. Tentu Teddy akan menonton drama ini. Kalau melihat adegan terakhir bagaimana?
"Arsy?" panggil pelatih deama itu lantang. Ia melihat Arsy yang melamun dan terlihat bingung.
"Ya Pak," jawab Arsy pelan saat terkejut namanya di panggil dengan suara keras.
"Kamu kenapa? Kok terkihat melamun? Kita latihan sekarang ya. Biar semua temanmu yang akan menilai letak kekurangannya dimana," titah pelatih itu dengan tegas dan menepuk tangan sebagai tanda semyanya bersiap dan membuka skrip dialog naskah agar semuanya berjalan lancar tanpa harus di suruh lagi. Bagian part yang harus take dialog harus sudah mempersiapkan diri walaupun belum hapal dialog.
"Gak apa -apa Pak. Arsy siap kok," ucap Arsy pelan.
__ADS_1
Latihan siang itu begitu menguras tenaga karena memang sudah lama tim teater tidak mengeluarkan pentas acara.
Dua jam berlalu dan kini waktunya istirahat sejenak. Setelah ini akan di lanjutkan pada latihan bagian akhir.
Arsy membuka paper bag yang di bawanya. Kalau pulang awal begini, kantin juga sudah di apstikan tutup. Untung saja Arsy bawa minum, susu kotak dan kotak amkan berisi nasi gireng yang belum di makan saat saraoan tadi. Perutnya mulai terasa perih dan lapar. Tenaganya juga sudah habis terkuras untuk latihan drama perdana ini. Sebisa mungkin memang Arsy harus nampak profesional dan powerfull melakukan gerakan yan sesuai dengan naskah dialog.
Arsy duduk di depan aula. Lalu mulai menikamti nasi goreng yang sudah dingin.
"Bawa bekel?" tanya Tono pelan dan duduk di sampung Arsy.
"Iya. Laper belum sarapan," jawab Arsy jujur.
Arsy begitu terlihat rakus dan seperti orang kelaparan yang sudah tidak makan satu bulan.
"Segitunya laper? Sampai kalap begitu?" tanya Tono tertawa. Bukannya ilfil tapi Tono makin gemas melihat Arsy seperti itu.
"Laper banget," jawab Arsy cepat. Ia mulai merasakan enak makan dan menikmati nasi goreng dingin itu.
"Loe ada hubungan apa sama Pak Teddy?" tanya Tono pelan sambil menatap ke arah depan ruang guru. Di sana jelas terlihat Teddy sedang mengamati Arsy.
Arsy menghentikan suapannya dab mengunyah cepar amkanan yang masib ada di dalam mulutnya.
"Huhungan apa? Biasa aja. Antara guru dan murid," ucap Arsy sekenanya. Hari ini ia sedang malas membahas itu. Secepatnya makanannya di habiskan dan minum air putih dari botol minum viralnya.
Tangan Tono menunjuk ke depan.
"Lihat itu. Dia setia di sana. Lihatin kamu sejak tadi," ucap Tono ketus.
Arsy pun mendongak wajahnya dab mebatap ke arah depan. Benar sekali, Teddy sedang menatapnya. Arsy duduk sabgat dejat sekali dengan Tono dan bahkan kedua lengan mereka bersentuhan dan bertumpuk. Namanya juga sama teman, Arsy tak memuliki perasan spesial untuk Tono.
"Mungkin cuma kebetulan aja," jawab Arsy santai.
"Kebetulan tapi setiap hari. Aneh gak sih?" tanya Tono pelan.
Beberapa hari ini ia begitu mengamati Arsy. Keseharian Arsy seperti apa. Satu hal yang Tono tidak pernah tahu dan sedang mencari tahu. Arsy pulang ke arah mana dan datang ke sekolah naik apa?
"Biarinlah. Pak Teddy punya mata kali," ucap Arsy cepat mengabaikan pandangan Teddy yang tajam.
Arsy merapikan alat makannya dan menutup rapat kotak makan yang kosong.
__ADS_1
"Yuk masuk. Gak usah ngelihatin guru kita. Nanti dia baper lagi," ucap Arsy tertawa pelan.
Acara latihan perdana itu di lanjutkan kembali hingga pukul satu siang.