
****Apa kabar para pembaca? Tidak terasa Novel CINTA YANG TERPAKSA sudah sampai di season dua.
Author Minta maaf ya🙏 karena baru bisa memberi Visual dari tokoh-tokoh ini. Semoga kalian senang dan terus menanti cerita di episode selanjutnya.
Jangan lupa Like dan Vote ya🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author. Terima kasih 🤗🌷🌷**
🌼 Kaysa 🌼
🌼 Syadev 🌼
🌼 Alarik 🌼
🌼 Darren🌼
🌼 Gionino 🌼
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Kaysa masih mengantuk, kakinya juga terasa pegal. Setelah sholat subuh berjamaah dia tiduran di atas sajadah.
Semua sudah keluar dari ruang khusus ibadah, mereka tidak tahu tentang keadaan Kaysa, kecuali Alarik.
“He, kalau mau tidur pindahlah ke kamar kamu, jangan tidur di sini!” ucap Alarik.
Kaysa terbangun, dengan mata yang masih setengah terpejam gadis itu kembali ke kamarnya.
Alarik yang tadi mengambil minyak tawon berniat memberikannya pada adiknya. Tapi karena Kaysa sudah terlelap pemuda tampan itu tidak berani mengganggunya.
Dengan penuh perhatian Alarik mengoleskan minyak itu di pergelangan kaki Adiknya, pemuda yang sudah dewasa itu tersenyum karena Kaysa sama sekali tidak terbangun.
“Kalau sedang tertidur gadis ABG ini terlihat sudah dewasa, dan cantik,” batin Alarik tersenyum sendiri.
Setelah itu Alarik keluar dari kamar adiknya. Dia segera berganti baju olah raga karena sudah ditunggu keluarganya.
Setiap hari Minggu sebagai kepala rumah tangga Syauqi selalu mewajibkan keluarganya untuk lari pagi, selain olah raga juga untuk menghabiskan waktu bersama.
“Di mana Kaysa?” tanya Zhia.
“Tidur lagi, Bunda. Sepertinya kakinya masih sakit. Karena semalam dansa sampai berjam-jam,” jawab Alarik jujur.
“Pasti karena saingan dan tidak mau kalah dengan Yuki kan?” tanya Syadev nimbrung.
“Kok kamu bisa tahu?” Alarik balik bertanya karena penasaran.
“Jelas tahu. Gadis bodoh itu, sudah diperingatkan kalau mau di jebak malah justru datang dan menantang,” cetus Syadev merasa kesal.
“Di jebak apa?” tanya Syauqi dan Syadev cemas.
“Ketua OSIS kemarin menyatakan cinta pada Kaysa, tapi sama Kaysa di tolak. Dan Malamnya Kaysa di undang ke pesta ulang tahun Wakil OSIS. Mereka berdua berniat mempermalukan Kaysa. Aku tahu Kaysa itu cewek gila, makanya aku langsung mengunci diri di kamar dan aku juga menyuruh Darren untuk menonaktifkan ponselnya agar Kaysa tidak berangkat. Tapi akhirnya dia tetap bisa berangkat juga,” kata Syadev jutek.
“Siapa nama Ketua OSIS dan Wakilnya itu? Apa Ayah perlu bertindak?” kata Syauqi cemas.
“Tidak perlu, Ayah tahu sendiri kan bagaimana sifat Kaysa?” jawab Syadev.
“Syadev, kamu harus selalu di dekat Kaysa! Meskipun dia terlihat kuat dan pemberani tapi sebenarnya dia sangat polos,” kata Alarik kepada adiknya.
“Iya, Syadev. Bunda tidak bisa tenang mengingat sifat kakak kamu yang ceroboh itu!,” timpal Zhia gelisah.
“Sudah, kalian tidak perlu khawatir. Walaupun Syadev terlihat cuek tapi buktinya dia selalu melindungi kakak perempuannya,” sergah Syauqi tenang.
“Apaan sih, Ayah. Seolah-olah aku ini adalah pengawalnya,” balas Syadev langsing berlari kecil duluan.
“Kak, tunggu. Flora ikut,” teriak Flora yang pendiam itu.
Flora langsung menyusul kakaknya yang sudah menunggu di depan. Sedangkan Syauqi, Zhia dan Alarik berjalan santai di belakang.
“Alarik, Om kamu semakin melebarkan sayapnya. Sekarang dia sudah memiliki saham empat puluh persen. Sedangkan namamu hanya tersisa tiga puluh persen saja,” kata Syauqi serius.
“Menurut Ayah aku harus bagaimana?” tanya Alarik.
__ADS_1
“Kamu tenang saja! Karena dulu setelah kamu pindah ke London, Ayah secara diam-diam menyusup ke sana dengan nama orang lain. Sekarang Ayah sudah memiliki saham dua puluh lima persen. Jika Ayah mentransfer semua saham itu padamu kamu bisa mendapat otoritas di perusahaan Mandala. Hanya saja itu tak semudah yang kamu bayangkan, karena nanti saat Rapat Umum Pemilik Perusahaan kamu masih membutuhkan dukungan dari Dewan lain. Jadi sekarang Ayah belum bisa melakukannya dulu, tapi kamu harus mengambil hati dari Dewan komisaris dan pemegang saham lain. Apa kamu paham?” kata Syauqi panjang lebar.
“Iya, Ayah. Aku mengerti. Pagi ini aku juga berniat minta izin sama Ayah dan Bunda untuk segera masuk ke Perusahaan Mandala,” ucap Alarik.
Syauqi bersikap tenang, tapi Zhia yang langsung merasa tak rela.
“Kamu baru pulang saja, kenapa sekarang mau pergi lagi?” tanya Zhia.
Alarik diam, dia memang tidak tega jika membuat Bundanya bersedih.
“Istriku sayang, sekarang Alarik sudah besar. Dia juga masih memiliki tanggung jawab yang harus diselesaikan,” bujuk Syauqi lembut.
“Tapi...”
Belum sempat Zhia berbicara Alarik sudah menyelanya.
"Bunda jangan khawatir! Jarak sini dengan Kota A hanya empat jam perjalanan. Setiap seminggu sekali Alarik pasti pulang ke sini.”
“Benar ya, seminggu sekali ke sini. Alarik, Bunda merasa sudah semakin tua. Bunda hanya ingin selalu melihat anak-anak Bunda,” jawab Zhia pilu.
“Tua apanya? Kamu masih cantik seperti ini kok,” goda Syauqi.
“He, kamu juga sudah lupa umur ya? Usiamu bahkan delapan tahun lebih banyak dariku. Tapi kamu selalu merasa seperti anak remaja,” sergah Zhia.
“Aku bisa membuktikan jika suamimu ini masih muda,” balas Syauqi tak mau kalah.
Kuping Alarik terasa panas, dia tidak tahan mendengar perdebatan yang menjurus itu.
“Ayah, Bunda. Lanjutkan saja! Aku mau menyusul adik-adikku,” sela Alarik langsung berlari cepat.
“Mas Syauqi! Di depan anak jangan bicara sembarangan, tidak tahu malu,” cetus Zhia.
“Kenapa memangnya? Alarik juga sudah besar,” jawab Syauqi santai.
“Oh iya, apa Alarik sudah punya pacar ya?” tanya Zhia pemasaran.
“Kalau dilihat dari gelagatnya sepertinya belum, anak itu dari dulu hanya fokus belajar,” jawab Syauqi.
“Kemarin Nayla menghubungi aku, katanya keluarganya sudah pulang ke Indonesia. Tapi karena Nenek Nayla sakit jadinya mereka tidak bisa ke sini. Orlin juga menanyakan Alarik terus, sepertinya gadis itu menyukai putra kita,” kata Zhia bersemangat.
“Apa istriku ini berniat menjodohkan mereka?” tanya Syauqi.
“Tidak juga, tapi mereka berdua juga tumbuh bersama sejak kecil. Seandainya mereka berdua saling menyukai tentu aku akan sangat senang,” ucap Zhia riang.
Zhia sangat senang ketika mendengarnya, dengan refleks Ibu beranak tiga itu langsung memeluk erat tubuh suaminya yang masih gagah.
“Sayang, kamu membangunkan milikku,” bisik Syauqi mesra.
Zhia terkejut, dia langsung mendorong dada suaminya.
Syauqi hanya tertawa nakal, kemudian langsung menyeret paksa tubuh istrinya masuk ke dalam rumah.
“Mas, bagaimana dengan Flora?” ronta Zhia.
“Tenanglah! Sudah di jaga kakak-kakaknya,” jawab Syauqi santai.
Di dalam kamar Syauqi mulai melakukan serangan aksi, dia mengagumi bentuk tubuh istrinya yang masih bagus meskipun sudah melahirkan tiga anak.
Namun cinta mereka berdua yang tulus bukan hanya tentang fisiknya saja, perasaan antara Syauqi dan Zhia yang dalam tidak akan pernah memudar walaupun nanti rambut mulai memutih dan kulit berkeriput.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Alarik, Syadev dan Flora sudah berlari cukup jauh, mereka bertiga duduk di jalan beraspal yang masih sepi kendaraan.
“Ayah dan bunda kok belum sampai sini ya? Padahal kita sudah menunggu lama,” ucap flora.
“Sabar, mungkin Ayah dan Bunda jalannya santai,” jawab Syadev ramah.
“Lebih baik kita lanjut saja yuk? Aku yakin Ayah dan Bunda tidak akan menyusul kita,” timpal Alarik sambil berdiri.
Alarik sudah dewasa, dia tahu jika saat ini kedua orang tuanya sedang melanjutkan pertengkaran mereka di dalam kamar.
Walaupun Alarik hanya bisa bertemu dengan kedua orang tua angkatnya setiap setahun sekali. Tapi dia tahu, jika Ayah dan bundanya tidak pernah ribut. Paling pertengkaran mesra yang berujung di ranjang.
Langit masih gelap, udara juga terasa dingin. Namun ketika teringat Kaysa yang bertingkah semena-mena itu membuat hati Alarik menjadi hangat.
“Apakah anak itu sudah bangun atau belum ya? Pagi ini aku akan berangkat ke kota A. Seandainya dia belum bangun aku akan pergi tanpa pamit, aku tidak sabar menanti kemarahan dia yang menggemaskan,” bisik Alarik dalam hati.
“Kak, kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri?” tanya Syadev penasaran.
__ADS_1
“Aku hanya merasa heran dengan kakak perempuanmu itu, hanya demi ambisi dia rela melakukan segala cara. Dari yang konyol sampai yang licik,” kata Alarik tertawa.
“Memangnya semalam si bodoh itu bertingkah apa?” tanya Syadev semakin penasaran.
“Masa semalam Kaysa bilang pada semua orang jika aku ini calon suaminya, dan dia menyuruh aku untuk tidak mendekati cewek supaya dia tidak ketahuan,” jawab Alarik tak bisa menghentikan tawanya.
Syadev yang selalu bersikap datar juga ikut tertawa sampai perutnya sakit.
“Untung semalam aku bisa menyelamatkan diri, kalau tidak mungkin aku bisa mengalami kejadian yang lebih buruk,” cetus Syadev.
“Memangnya di sekolah Kaysa tidak punya pacar ya?” tanya Alarik.
“Tidak, selama ini teman dekatnya hanya Darren saja. Seandainya nanti dia punya pacar paling cuma bisa bertahan tiga hari saja,” jawab Syadev.
“Memangnya kenapa?” tanya Alarik.
“Kak Al tahu sendiri kan bagaimana sikap Kaysa yang seenaknya dan menyebalkan itu. Aku yakin di dunia ini hanya Darren yang mampu bertahan dengan dia, itupun karena Darren juga bodoh, bisa-bisanya suka dengannya,” jawab Syadev panjang lebar.
“Kaysa juga menyukai Darren?” tanya Alarik sedikit cemas.
“Aku tidak tahu, tapi setiap malam mereka selalu mengobrol lewan ponsel,” jawab Syadev.
“Kak, kita pulang yuk? Aku sudah capek,” sela Flora.
“Flora capek ya? Sini kakak gendong,” ucap Alarik lembut sambil jongkok di depan tubuh kecil Flora.
Dengan senang hati Flora naik ke punggung Kakak tertuanya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Saat Kaysa terbangun dari tidurnya, hidung mancung milik Kaysa mencium bau minyak tawon.
“Sepertinya ada yang mengolesi kakiku dengan minyak. Pasti itu Kak Al, soalnya hanya dia yang tahu jika kakiku sakit. Bahagianya punya kakak yang sangat pengertian, tidak seperti Syadev yang resek itu,” batin Kaysa yang tersenyum riang. Karena kakinya tidak terasa pegal lagi.
“Kak Kaysa sudah bangun ya? Ayo kita turun, sudah ditunggu sama Ayah dan Bunda,” ucap Flora dari depan pintu.
Kaysa langsung bangun dan masuk ke kamar mandi dulu untuk cuci muka dan gosok gigi. Setelah itu dia turun bersama Flora.
“Dasar gadis pemalas! Jam segini baru bangun,” sindir Syadev.
“Biarin! Ayah dan Bunda saja tidak melarang,” jawab Kaysa ketus.
“Sudah! Jangan berantem lagi. Ayo kita segera makan,” tegur Kaysa dengan suara yang lembut.
“Kak Alarik di mana kok tidak terlihat?” tanya Kaysa sambil duduk di kursi.
“Sudah pergi ke Kota A tadi pagi,” jawab Syauqi singkat.
“Apa? Kenapa tidak bilang dulu padaku?” tanya Kaysa kesal.
“Memangnya kamu Bos? Apa-apa harus laporan padamu,” sindir Syadev dengan wajah dingin.
Kaysa hanya melirik tajam ke arah saudara kembarnya. Kemudian dia melengos beralih menatap penuh harap pada Ayahnya supaya mau menjelaskan.
“Kak Alarik Ayah tugaskan untuk mengurus pekerjaan di Perusahaan Mandala. Ayah tidak bisa ke luar kota, karena Bunda kalian tidak bisa jauh dengan Ayah yang tampan ini,” Kata Syauqi menerangkan pada Putrinya sekaligus menggoda istrinya.
Kaysa hanya diam menahan rasa kesal, sedangkan Zhia melirik karena suaminya telah memutar balikkan fakta.
“Ayah, Bunda. Mumpung hari Minggu kita main ke rumah nenek yuk?” sela Flora dengan suara lembut.
“Iya, sayang. Tapi kita makan dulu ya?” jawab Syauqi lembut.
Mereka mulai makan, tapi Kaysa merengut karena menahan kesal. Syadev yang melihat saudara kembarnya itu tertawa lirih, karena ketika Kaysa cemberut bibirnya seperti ***** Ayam.
“Syadev! Aku lempar kamu pakai sambal kalau menertawakanku lagi!” bentak Kaysa keras sampai semuanya kaget.
Uhuk... Uhukk... Uhukkk...
Syauqi sampai terbatuk-batuk, kepala keluarga itu keselak sambal hingga hidung dan tenggorokannya terasa perih.
“Kaysa! Kalau sedang makan tidak boleh seperti itu,” tegur Zhia tegas sambil menyuapi suaminya minuman air putih.
“Maaf, Ayah, Bunda,” ucap Kaysa lirih sambil menundukkan kepalanya.
Syadev semakin ingin tertawa, tapi dia tahan karena tidak punya nyali lagi.
**Bonusan 2 foto Visualnya Kaysa, mirip banget bundanya ya?? Cuma lebih keren dan percaya diri🌷
Menurut para readers Kaysa lebih cocok sama Gio? Darren? atau Alarik?? Komen di bawah yaa🤗**
__ADS_1