
Setelah makan siang Syadev berpamitan terlebih dahulu pada Ayahnya untuk mengantar Anggun ke panti.
"Baiklah, kamu bilang Alarik untuk datang ke sini ya!" Perintah Syauqi yang fokus menatap layar laptop.
"Iya, Ayah," jawab Syadev patuh.
"Eh tunggu, sekalian Bunda juga suruh datang ke sini!" timpal Syauqi senyum-senyum sendiri.
"Siap, Ayah," jawab Syadev berlalu pergi.
Sesampainya di rumah istri tercintanya sudah bersiap-siap menanti di ruang tamu.
"Mau kemana?" tanya Zhia.
"Ke panti, Bunda," jawab Syadev.
"Hati-hati ya," ucap Zhia.
"Oh iya, Kak Al sama Bunda di suruh Ayah ke kantor sekarang!" kata Syadev yang baru ingat pesan Ayahnya.
"Ada apa?" tanya Zhia penasaran.
"Kalau Kak Al pastinya di suruh membantu pekerjaan, sedangkan Bunda sih palingan di suruh memanjakan Ayah," jawab Syadev tertawa.
"Kamu ini!" balas Zhia setengah kesal di ledek putranya.
"Baiklah, Bunda. Kami pamitan dulu ya?" ucap Syadev.
"Kalian hati-hati ya!" jawab Zhia ramah.
"Iya, Bunda. Assalamu'alaikum," kata Syadev dan Anggun bersamaan sambil mencium punggung tangan Bunda Zhia.
"Wa'alaikumsalam," jawab Zhia senang melihat keharmonisan rumah tangga anak-anaknya.
Syadev segera meraih tangan istrinya dan menuntun menuju parkiran depan rumah.
"Tunggu sini ya! Aku mau ambil mobil dulu," ucap Syadev mesra.
"Iya," jawab Anggun patuh.
Syadev tidak ingin istrinya menunggu lama, dia segera ke garansi dan mengambil salah satu mobil milik Ayahnya.
Setelah itu mereka berdua segera meninggalkan rumah.
"Bagaimana kalau kita beli oleh-oleh untuk mereka?" tanya Syadev.
"Kira-kira apa ya?" tanya Anggun.
"Makanan saja lah," jawab Syadev.
"Iya, anak-anak suka makanan," balas Anggun senang.
Mereka berdua mampir ke sebuah restoran. Syadev memesan banyak sekali makanan dan minuman. Saat melihat istrinya hendak ikut membawa bungkusan makanan tersebut ke dalam mobil Syadev langsung mencegah.
"Jangan! Biar pelayan saja," kata Syadev.
"Baiklah," jawab Anggun tersenyum senang.
Tak berapa lama semua makanan yang di pesan sudah masuk ke dalam mobil. Syadev tinggal membayarnya pakai kartu debit. Setelah Ayahnya tahu jika dirinya menikah jatahnya ditambah berlipat-lipat.
__ADS_1
Sedangkan Anggun melamun sepanjang perjalanan, pikirannya melayang saat hendak sampai di daerah panti, istri Syadev itu mengingat dengan jelas jika jalanan yang dilaluinya adalah saksi biksu perjalanan hidupnya yang pahit. Kini semuanya berubah semenjak dirinya menikah dengan Syadev.
"Kenapa melamun, istriku?" tanya Syadev cemas.
"Dulu hidupku pahit sekali, setiap pagi melewati jalanan ini menuju sekolah. Bahkan aku sering jalan kaki dan sesampainya di sekolah aku di bully karena kemiskinanku. Makanya aku selalu berjuang keras agar bisa mendapat beasiswa, saat itu aku takut jika aku memiliki keturunan akan mengalami nasib yang sama jika aku belum mengubah keadaan," jawab Anggun tersenyum getir.
"Jangan terlalu berpikir berlebihan! Biarlah yang telah berlalu menjadi kenangan. Sekarang kamu tidak perlu takut lagi karena ada aku. Aku tidak akan pernah membuat kamu dan anak-anak kita nanti hidup menderita," hibur Syadev sambil mengelus kepala istrinya pakai tangan kiri.
Tidak terasa mereka berdua sampai juga di panti. Sungguh mengejutkan, kini di depan panti di pasang seperti mainan anak-anak di sekolah paud. Di sana juga ada bangunan yang lumayan besar sebagai koperasi yang menjual sembako.
Syadev dan Anggun menikmati waktu kebersamaan bersama anak-anak panti. Syadev sendiri semakin tidak sabar menanti anaknya segera lahir, dia membayangkan saat tidur nanti diganggu oleh suara tangis bayi, saat mau berangkat atau sepulang kerja mencium aroma bedak bayi.
"Hanya membayangkan saja aku sudah sebahagia ini."
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Semenjak hamil Kaysa menjadi pemalas, tadi saat di ajak suami dan Bundanya ke kantor dia sama sekali tidak tertarik. Biasanya Kaysa akan selalu menempel pada suaminya kemanapun.
"Beneran nggak mau ikut?" tanya Alarik memastikan.
"Aku pengen rebahan di rumah saja sambil menonton drama china," jawab Kaysa yakin.
Dalam otak Kaysa membayangkan ngemil buah sambil nonton drama memang syahdu.
"Baiklah, nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi ya?" pinta Alarik perhatian.
"Iya," jawab Kaysa santai.
"Sayang, nanti kalau Flora sudah pulang sekolah dan mau menyusul Bunda bisa minta tolong dianterin supir ya?" timpal Zhia tersenyum hangat.
"Siap, Bunda," jawab Kaysa.
Setelah kepergian Bunda dan suaminya Kaysa segera menuju dapur.
"Nona Kaysa mau apa?" tanya pelayan ramah.
"Banyak, pengen Buah Anggur, Pir, Pisang, Martabak telur dan keripik singkong yang super pedas. Tolong belikan semua itu ya? Jangan sampai ada yang lupa loh," ucap Kaysa.
"Iya, Nona," jawab pelayan patuh.
Kaysa segera mengambil beberapa lembar uang ratusan dan menyerahkan pada pelayan tersebut.
"Ingat, jangan lama-lama!" timpal Kaysa tidak sabar.
"Iya, Nona," jawab pelayan tersebut riang karena bisa keluar rumah walau sebentar.
Kaysa sendiri menanti di ruang santai sambil memutar film di televisi.
Baru saja menemukan film kesukaannya tiba-tiba polsel miliknya berdering. Mau tidak mau Kaysa segera mematikan televisinya karena takut tidak mendengar ucapan di telepon.
"Assalamu'alaikum," sapa Kaysa agak malas.
"Wa'alaikumsalam," jawabnOrlin lembut.
"Ada apa, Kak Orlin? Tumbenan telepone aku?" tanya Kaysa penasaran.
Orlin menceritakan semua masalah antara Reki dan Papanya. Gadis itu merasa hanya Kaysa yang bisa memberikan ide-ide agar papanya bisa berubah pikiran.
"Jadi Kak Reki sudah menyatakan cinta? Lalu bagaimana dengan perasaan Kak Orlin?" tanya
__ADS_1
"Itu mudah, sebaiknya Kak Orlin pura-pura depresi saja. Nanti Om Rendra akan menyerah dan lebih mementingkan kebahagiaan Kak Orlin," saran Kaysa.
"Apa akan berhasil?" tanya Orlin ragu.
"Aku yakin, jadi Kak Orlin sebaiknya banyak melamun dan terlihat bersedih seolah tidak mau hidup lagi," timpal Kaysa antusias.
"Aku tidak yakin bisa," jawab Orlin takut-takut.
"Pasti bisa," hibur Kaysa memberikan semangat.
"Baiklah, kalau begitu nanti aku akan mencoba pura-pura sakit," jawab Orlin menyetujui saran konyol Kaysa.
Kaysa tertawa sendiri, tidak menyangka jika pada akhirnya Reki dan Orlin akan saling jatuh cinta. Dia berharap nanti agar Om Rendra bisa merestui hubungan mereka.
"Terima kasih, Kaysa. Kalau begitu aku akan lanjut bekerja ya? Assalamu'alaikum," pamit Orlin.
"Wa'alaikumsalam," jawab Kaysa.
Setelah sambungan telepon terputus Kaysa menyalakan lagi televinya. Beberapa menit kemudian pelayan yang tadi disuruh membeli makanan dan buah-buahan sudah datang.
"Ini, Nona Kaysa," kata pelayan tersebut sambil meletakkan semua makanan di atas meja.
"Terima kasih ya, ambil saja kembaliannya!" jawab Kaysa senang.
Kaysa mulai menikmati makanan tersebut satu persatu, dia tidak menyangka jika dalam porsi yang besar bisa muat dalam perutnya.
"Aku sungguh diberkahi, biarpun hamil nafsu makan masih oke,"
Lama-kelamaan Kaysa tertidur karena kekenyangan, padahal drama yang diputar belum selesai.
Di sisi lain Syauqi sedang bermanja-manjaan dengan istrinya. Lelaki yang sudah tidak muda lagi itu menyuruh istrinya duduk di sofa panjang sedangkan dirinya tiduran dan menjadikan paha Zhia sebagai bantal.
"Pijat kepalaku yang sebelah sini!" pinta Syauqi.
"Iya," jawab Zhia sabar.
"Aku sebenarnya sudah malas bekerja, ingin sekali segera pensiun," kata Syauqi.
"Kalau begitu kenapa tidak berhenti saja?" ucap Zhia.
"Aku baru bisa tenang meninggalkan perusahaan ini setelah berada di tangan Syadev. Sekarang persaingan dunia bisnis semakin ketat, tapi aku yakin kelak Syadev mampu menggantikanku," ujar Syauqi.
"Putra kita memang cerdas, aku juga yakin dia pasti bisa segera lulus," jawab Zhia merasa bangga.
"Istriku, aku mengantuk sekali. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam kamar saja," ajak Syauqi.
"Apa?" pekik Zhia kaget.
Syauqi langsung bangkit menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar yang memang sebagai kamar kedua bagi mereka.
"Ini siang, dan juga di kantor," protes Zhia.
"Bagiku tidak setiap detik bebas melakukan apapun," jawab Syauqi langsung mencium istrinya.
Niatan Syauqi menyuruh istrinya ke kantor memang ingin itu, dia tidak tahan jika harus menanti sampai malam hari sepulang kerja.
Sedangkan Alarik yang menggantikan tugas Syadev merasa ada sesuatu yang kurang dipahami. Namun, ketika dia masuk ke ruangan kantor milik Ayahnya ternyata sepi
"Loh, di mana Ayah dan Bunda? Apa mereka jalan-jalan lagi?"
__ADS_1
Alarik memilih kembali ke kantor dan menelepon adik iparnya tersebut.
Jangan lupa Like dan Vote ya🤗🤗