CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Arti Sebuah Keluarga


__ADS_3

Dua keluarga sedang duduk di atas tikar menanti Ikan yang di bakar Tia.


Karena Zhia juga sedang hamil, Elly melarangnya membantu dan meminta dia untuk menemaninya naik perahu bersama Alifya.


"Terimakasih Zhia, kehadiranmu membawa kebahagiaan untuk keluargaku," ucap Elly tersenyum bahagia.


"Sama-sama, Kak Elly. Sekarang kita kan juga satu keluarga," jawab Zhia tulus.


"Dari awal aku bertemu denganmu aku sudah punya firasat yang baik, ternyata memang benar," ucap Elly mengingat dulu saat pertama kali Zhia melamar pekerjaan di Butiknya.


Dari Danau terlihat dua keluarga sedang bercanda, entah apa yang membuat lucu tapi mereka semua tertawa.


Zhia merasakan kedamaian di hatinya setelah dia berhasil melewati beberapa hal yang pahit.


Kini kehidupannya membaik dan ibunya juga tigak sakit-sakitan lagi.


"Ayah, Mas Iyas... karena do'a kalian aku sekarang bisa hidup bahagia," batin Zhia.


"Bibi... mau makan ikan," rengek Alifya.


"Kita menepi yuk, sepertinya sudah matang.Harumnya sampai ke sini," ajak Elly yang sudah tak sabar juga.


Sesampainya di tepi Danau Ikan bakarnya memang sudah jadi.


Kedua pembantunya juga ikut menyiapkan nasi dan minuman.


"Ayo kita makan bersama, tapi sebelum makan kita meminta Pak Ustad Fauzi berdo'a dulu. Anggap saja ini syukuran kehamilan Mbak Elly dan Semoga Adikku Zhia segera menyusul," ucap Rian yang disambut riang oleh semuanya.


Dalam hati Zhia merasa bersalah karena menyembunyikan sesuatu dari kakaknya. Tia meraih tangannya mengisyaratkan jika itu adalah yang terbaik.


Fauzi pun memimpin do'a dan mereka makan bersama.


"Memang luar biasa, keluarga Zhia kenapa Masaknya bisa enak begini?" puji Elly pada masakan Tia.


"Dulu aku pernah kursus masak, Mbak Elly. Namun hanya sebentar, setelah itu Ibu mertuaku yang mengajari aku dan Zhia masak," jawab Tia senang.


"Kenapa tidak membuka usaha restoran saja, pasti sangat laris manis," timpal Mama Syauqi pada besannya.


"Dulu saya dan almarhum suami saya juga buka usaha tempat makan, tetapi setelah suami saya meninggal usahanya tutup. Sekarang alhamdulillah di halaman rumah sudah dibangun tempat makan dan toko roti lagi," jawab Ibunya Zhia bangga pada anak - anaknya yang mandiri dan berhasil usaha dari nol.


Mama Syauqi semakin salut pada keluarga Zhia yang sederhana dan bersahaja.


Hari semakin siang, Elly dan keluarga Zhia juga masih ada pekerjaan. Mereka berpamitan pulang.


"Mama di sini aja ya?"pinta Zhia.


Mamanya melirik kearah Syauqi, takut jika dia masih keberatan.


"Nanti biar aku antar kebandara," kata Syauqi yang membuat Mamanya tersenyum senang.


Akhirnya Mama Syauqi tetap tinggal di Vila.


Awalnya suasananya canggung karena hanya ada Syauqi, Zhia dan Mamanya.


Akan tetapi Zhia pandai mengambil hati suaminya dan mereka bisa ngobrol hangat.


Syauqi bisa merasakan kehangatan keluarga berkat istrinya, dia semakin mencintai istrinya yang seperti Malaikat penolong.

__ADS_1


**************************************


Seperti yang sudah direncanakan Syauqi dan Zhia mengantar ke bandara. Fauzi dan Elly tak bisa ikut, karena mereka ada jadwal yang tak bisa dibatalkan.


Setelah melepas kepergian Mamanya, tak terasa air mata Syauqi menetes.


Zhia yang melihatnya tak tahan ingin menggoda suaminya.


"Mr.jutek menangis ditinggal Mamanya."


Syauqi melirik istrinya yang sedang mengejeknya. Tanpa basa-basi di depan umum Syauqi mencium bibir Zhia membuat dia merona wajahnya menahan malu dilihat banyak orang.


Zhia sebal dan meninggalkan Suaminya.


Akan tetapi tanpa sadar dia tertabrak seorang pemuda seusia Syauqi.


"Kamu tak apa-apa sayang?" kata Syauqi yang menahan Zhia dari belakang.


"Tidak apa-apa, Mas," jawab Zhia.


"Maafkan aku Nyonya, tadi saya terburu-buru," ucap pemuda yang barusan menabrak Zhia.


"Lain kali kalau jalan hati-hati!" jawab Syauqi ketus.


"Kalau tadi Zhia sampai terjatuh takkan aku ampuni," batin Syauqi menahan kesal.


Zhia hanya menundukkan wajahnya tanda mohon diri.


Sedangkan pemuda yang barusan menabraknya juga menunduk dan melihat punggung Zhia yang berlalu pergi.


Sampai di rumah Syauqi langsung menggeret istrinya masuk kekamar.


"Mas, sebentar lagi kita Sholat Maghrib," tolak Zhia halus, tapi malah membuat Syauqi bertambah nafsu birahinya.


"Mau sore, malam, pagi atau siang setiap aku ingin sebagai istri dilarang menolak," jawab Syauqi enteng.


Syauqi mulai melepaskan pakaian istrinya satu persatu dan mencumbu seluruh tubuhnya.


Zhia tak berani menolak, karena apa yang dikatakan suaminya memang benar.


Keahlian Syauqi membuat Zhia cepat terangsang dan dia juga membalas memuaskan Suaminya.


"Kau hebat sayang,"bisik Syauqi di telinga Zhia.


Zhia merasa sangat malu dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


Setelah keduanya puas Syauqi menggendong Zhia ke kamar mandi, tapi ternyata disana Syauqi masih saja mengerjai istrinya dengan cumbuan dan belaian nakalnya.


Zhia tak habis pikir dengan suaminya bernafsu tinggi.


Tetapi diam- diam Zhia juga menikmatinya.


Selesai Mandi mereka Sholat Maghrib berjama'ah.


Beberapa menit kemudian Bik Mus mengetuk pintu, katanya ada dua tamu.


Zhia dan Syauqi turun dan ternyata tamunya adalah Dony dan Nindy.

__ADS_1


"Apa kabar, Bro. Wah wah... namanya juga pengantin baru. Wajar kalau setiap saat rambutnya basah terus?" Goda Dony.


"Makanya buruan nikahin Nindy, keburu punyamu jamuran,"balas Syauqi.


"Zhia, ceritakan pada temanmu bagaimana rasanya malam pertama, supaya Nindy mau segera kunikahi,"sindir Dony pada Zhia.


Zhia dan Nindy sama-sama malu, bagi seorang perempuan hal seperti ini sangat memalukan untuk dibicarakan.


tetapi tidak untuk lelaki, mereka justru menganggap sebagai gurauan yang paling menarik.


"Ada keperluan apa kesini? Kangen ?"tanya Syauqi pada Dony.


"Ye... baru 2 hari ketemu. Aku kesini mengantarkan surat undangan lelangan proyek besar," jawab Dony.


"Aku sudah tak minat lagi, setiap tahun kita menang dan sekarang aku ingin fokus di rumah saja tanpa bolak-balik keluar negeri," jawab Syauqi dengan raut wajah tak tertarik sama sekali.


"Iya deh yang sudah punya istri. Lagian hartamu juga tujuh keturunan tidak akan habis," sindir Dony lagi.


"Aku sangat penasaran dengan pemandangan sini, tapi kalau malam tak terlihat," kata Nindy kecewa.


"Menginaplah di sini. Setiap pagi aku dan Mas Syauqi jalan-jalan melihat pemandangan yang indah dari bukit ini, juga ada danau," bujuk Zhia bersemangat.


Nindy berpikir, sedangkan Dony berharap supaya wanita pujaannya menyetujuinya.


"Iya deh," jawab Nindy ragu-ragu disambut wajah berbinar Dony.


Malam semakin larut, hanya terdengar suara hujan yang deras.


Mereka berempat sudah berjam-jam asyik bercanda.


"Don, sudah malam. Kasihan Zhia, dia harus istirahat dulu," kaya Syauqi.


"Oke,silahkan," jawab Dony.


"Aku istirahat dulu ya, Nindy. Kamarmu di sana dan kamar Mas Dony di sebelah sana," ucap Zhia sambil menunjukkan kamar yang tadi sudah disiapkan kedua pembantunya.


Nindy mengangguk tanda mengerti.


"Nindy, apa kamu percaya jika mereka beneran mau tidur?" bisik Dony setelah Syauqi dan Zhia masuk kekamar.


"Apaan sih, ngurusin privasi orang. Lagian mereka juga sudah menikah jadi wajar saja," jawab Nindy jengkel.


"Memang kamu tak penasaran bagaimana rasanya?" goda Dony lagi.


"Sudahlah aku mengantuk, aku mau tidur dulu," jawab Nindy judes sambil berdiri dan masuk kamar.


Akan tetapi Dony juga mengikutinya.


"Hey, kamarmu di sana Tuan Dony Sudibyo," protes Nindy semakin kesal.


Namun Dony malah mengunci pintunya dari dalam dan membuang kuncinya ke atas lemari yang tinggi.


"Ups... kuncinya hilang," kata Dony tanpa rasa bersalah.


"Ambil sekarang dan keluar! Kalau tidak aku cekik lehermu," ancam Nindy sudah tak sabar.


"Aku memilih dicekik saja, ayo silahkan!" tantang Dony tersenyum nakal.

__ADS_1


Terimakasih bukan berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like, Vote dan beri rating bintang 5 ya🙏 Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.


Mohon kritik dan sarannya juga, semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi🤗


__ADS_2